Berada Dalam Satu Kos

2061 Words
“Masuk atau tidak sama sekali” Setelah mengatakan itu, Briyanda segera saja masuk kedalam kosannya. Namun ketika dia hendak saja menutup pintu. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Dia menoleh kebelakang. Mengarahkan lampur senternya itu ke pintu. Namun ketika dia tidak menemukan siapa pun disana, dengan kesal Briyanda berjalan keluar. “Meta” Panggilnya. “Mn” gumam Meta. “Apa kamu sama sekali tidak mengerti dengan bahasa manusia?” Kesal Briyanda. “Aku sangat mengerti, hanya saja aku tidak mungkin masuk dengan keadaan aku yang sekarang. Tubuhku sudah basah, Bang. Aku tidak ingin mengotori kamar Abang. Jadi biarkan saja aku disini” “Kalau sudah tau akan merepotkan aku, kenapa berulah di luar?” Meta mendongakkan kepalanya, menatap Briyanda sejenak kemudian kembali menatap pemandangan didepannya dimana memperlihatkan hujan turun dengan derasnya. “Iya, aku yang salah. Seharusnya aku menggunakan kantong ajaibku dan mengeluarkan pintu kemana saja agar segera tiba di kosan aku agar tidak merepotkan Abang.” Briyanda yang mendengarnya, menggelengkan kepalanya heran dan berdecak kesal. “Mau sampai kapan kamu disitu?” “Sampai hujannya sedikit mereda maka aku akan—” Huacim// Meta menggosok hidungnya yang kini terasa gatal. Briyanda yang melihatnya segera saja berjalan mendekat. “Masuk kedalam” “Ga, aku ga mau. Aku tau bagaimana Abang seperti apa. Jadi aku tidak ingin memancing kemarahan Abang lagi. Aku sudah membuat kesalahan dan aku tidak ingin menambah masalah lagi kali ini dan membuat Abang malah semakin membenciku” Biasanya Briyanda yang akan menolak siapa saja yang masuk kedalam kosannya. Namun kali ini saat dirinya mengizinkan Meta untuk masuk, malah Meta sendiri yang menolaknya. Ini jelas saja menarik perhatian besar bagi Briyanda akan Meta. Dimana baru pertama kali ini ada seseorang yang menolak akan apa yang dia katakan.           “Beneran ga masuk?” Tanya Briyanda sekali lagi yang berusaha untuk membujuk Meta. “Beneran, aku tidak akan masuk kedalam. Tidak masalah kalau aku harus menunggu disini.” Kukuh Meta. “Abang masuklah ke dalam. Bukankah tadi Abang mengatakan kalau Abang sama sekali tidak peduli akan diriku.” “Masuk” titah Briyanda dengan dinginnya, bahkan lebih dingin saat berada di kelas. “Ga, aku akan segera pulang kalau hujannya sedikit reda” “Baik, aku akan mengizinkan kamu berada di luar, tapi dengan satu syarat” Briyanda kembali masuk kedalam kamarnya, mengambil sesuatu kemudian mengarahkannya ke dahi Meta.                Meta yang kaget berusaha untuk menolak, namun interupsi dari Briyanda membuat dirinya tidak bisa berkutik. “Diam.  Kalau angka di alat ini menunjukkan angka di atas tiga puluh tujuh derajat. Jangan salahkan aku untuk menyeret kamu masuk kedalam kos aku”                “Dih, ogah banget aku” jawab Meta.                Tit//                Alat berbentuk pistol yang berguna untuk mengukur suhu itu berbunyi. Meta tidak perlu melihat angka berapa yang tertera disana. Karena plaster deman di dahinya masih saja menempel. Tidak hanya itu saja, saat ini kondisi tubuhnya memang sedang tidak baik-baik saja.                “Tiga puluh delapan koma empat” ucap Briyanda. “Suhu kamu itu sudah tidak normal. Masuk kedalam!”                “Beneran boleh aku masuk kedalam?” tanya Meta masih ragu.                Briyanda memutar bola matanya dengan malas. “Iya boleh. Karena kamu sudah menolong aku tadi. Anggap aja itu imbalan terimakasih”                Meta yang mendengarnya seketika tersenyum. “Kalimat itu yang ingin aku dengar. Abang akhirnya mengucapkan terimakasih kepadaku. Langka banget bisa dengerin itu. Mau aku abadikan tanggal dan momen sekarang di kalender aku”                “Dengan kondisi tubuh kamu yang sekarang, masih bisanya kamu berkata seperti itu.” Briyanda kemudian meraih pergelangan tangan Meta dan menariknya. “Berdiri. Aku tidak banyak tenaga saat ini.”                “Baiklah” Meta akhirnya menegakkan dirinya. Usaha awalnya agar bisa mendengar kata terimakasih keluar dari tepi mulut Briyanda telah tercapai. Hal ini jelas saja menjadi kebanggaan bagi dirinya yang akan dia pamerkan kepada kedua sahabatnya kelak.                Tapi dari semua itu, sebenarnya ada alasan khusus. Meta hanya ingin bisa mengambil hati Briyanda perlahan untuk dapat memuluskan rencananya agar Briyanda mau menolong dirinya. Awalnya sih dia memang murni menolong. Namun ketika sudah tau siapa yang di tolong. Ini seakan menjadi jalan bagi Meta untuk memuluskan rencananya. Harinya sudah semakin dekat. Dia tidak akan bisa tinggal diam saja.                Mickey.                Motor kesayangannya itu. Demi apapun akan Meta lakukan termasuk untuk bisa meluluhkan hati Briyanda agar mau menikah dengannya.                Meta kemudian masuk ke kosan Briyanda. Seketika hidungnya itu disambut oleh aroma yang begitu kuat dari salah satu parfume yang sangat dikenali oleh Meta. Sebuah aroma yang sejujurnya sangat dia sukai. Dulu dirinya pernah ke toko parfume dan aroma ini pernah menjadi salah satu favoritenya untuk digunakan pasangannya kelak.                Sauvage Dior                Aroma ini benar-benar bikin Meta jadi kecantol. Tapi dia baru menyadari kalau aroma tubuh dari Briyanda sangat berbeda. Tidak sama dengan aroma yang dia hirup ini.                Meta mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari tempat bagi dirinya untuk bisa duduk dengan nyaman tanpa membuat pria yang ada dihadapannya ini semakin marah kepada dirinya. Dia akhirnya memutuskan untuk duduk dilantai disamnping sebuah sofa.                Keduanya hanya hening. Tidak ada yang berbicara sama sekali.  Meta hanya menatap Briyanda, yang kali ini sedang sibuk meronggoh tasnya seakan mencari sesuatu disana. Entah apa yang di cari oleh Briyanda. Membuat Meta sedikit penasaran.                Briyanda mengingat dengan betul kalau dirinya memasukkan sesuatu itu ke dalam tasnya. Jadi dia masih berusaha untuk mencari itu, siapa tau terselip diantara buku-buku yang ada didalam tasnya. Ketika dia menemukan sesuatu, dia lalu mengambilnya dan berjalan mendekati Meta yang kini menatap dirinya. “Aku belikan ini buat anak tetangga yang ada di samping kos. Tapi karena tadi aku lihat demamnya sudah turun jadi aku tidak memberikannya. Jadi kamu bisa gunakan ini”                Meta jelas saja terkejut. Hari ini dia sudah mendengar bagaimana Briyanda sudah begitu banyak mengeluarkan kata-katanya dan itu karena berkat dirinya. Meta kemdian meraihnya. Melepas plaster penurunan demam yang di berikan oleh Vulkanik dan menggantinya dengan milik Briyanda.                “Terima kasih”                Hanya dengan sebuah gumaman yang diberikan oleh Briyanda sebagai jawaban.                  “Perhatian banget ya Abang dengan anak tetangga.” Ucap Meta sembari mengganti plaster penurun demamnya itu dengan yang baru.                Briyanda sama sekali tidak mengubrisnya. Dia lalu memilih untuk menarik selimut miliknya dan segera menyelimuti dirinya. Memunggungi Meta sebagai tanda kalau dirinya tidak ingin berbicara dan melihat Meta.                Meta bisa melihat dengan jelas akan sikap Briyanda kali ini yang memunggungi dirinya. Meta mengerucutkan tepi mulutnya itu sedih. “Ck. Dia sudah tidur”                Meta mengusap kedua lengannya. Dia merasakan kedinginan saat ini. Efek dari cuaca dingin, baju basah dan juga karena demamnya. Semua bercampur menjadi satu. Dia ingin sekali masuk kedalam selimut hangat dari Briyanda yang terlihat begitu menarik perhatiannya kini. Namun karena dia lagi-lagi tidak ingin memancing amarah dari pemilik kamar ini. Membuat Meta akhirnya menyerah dan berusaha menahan rasa kedinginannya itu sendirian dalam diam.                Namun Meta yang memang dasarnya tidak bisa diam sama sekali. Dia mencoba untuk memanggil Briyanda. “Bang, punya selimut ga?”                Ingin rasanya dia masuk kedalam selimut hangat Briyanda, akan tetapi dia berkali-kali menyadarkan dirinya untuk tidak melakukan hal itu. Dalam hatinya Meta bersedih dengan alam yang tidak mengizinkannya untuk keluar dari kosan ini. Walau dirinya bukan pertama kali masuk kedalam kosan cowo bahkan dia sudah sering menginap di kosannya Vulkanik. Dia tidak segelisah ini sekarang. Dia ingin pulang. Dia ingin merasakan yang namanya kehangatan kamarnya.                “Dingin banget?” Jawab Briyanda tanpa menoleh sedikitpun ke arah Meta.                Meta mendenguskan nafas kesalnya. Pria ini memiliki kepintaran yang tiada tara di kampus. Tapi pertanyaan dari pria itu membuat Meta ingin mempertanyakan kepintarannya itu beneran atau gimana.                “Bukan untuk menyelimuti tubuhku. Hanya mau menutupi jendelanya yang masih memperlihatkan beberapa kilatan dan itu terlihat begitu menakutkan.” Jawab Meta kesal.                Suhunya yang berada diatas normal tubuh orang sehat itu, seharusnya sudah membuat Briyanda sadar akan bagaimana kondisi dari Meta seperti apa. Tapi nyatanya pria itu terlihat tidak mengerti sama sekali. Entah tidak mengerti atau memang tidak mau mengerti.                “Balikkan saja tubuh kamu, lalu ubah sudut pandangan kamu yang enak” jawab Briyanda.                Meta mengepalkan tangannya dan meninju Briyanda dari jauh. “Jangan bawel, ini sudah masuk dalam jadwal aku tidur”                Briyanda bukannya tidak tau dengan apa yang di lakukan Meta di belakangnya. Semua itu bisa terlihat jelas dari bayangan Meta. Biasanya dia sudah tertidur di jam segini saat dirinya tidak memiliki tugas sama sekali. Namun kali ini dia tidak bisa tidur dengan mudahnya. Ada seseorang berada didalam kamarnya, dimana tidak ada satu orangpun yang dia perbolehkan untuk masuk.                “Kenapa hujannya tambah deras sih” gerutu Meta pelan. Akan tetapi itu masih bisa didengar oleh Briyanda. “Aku mau pulang, aku mau ngambil mie tek tek” cemberut Meta. Udara yang dingin kali ini membuat dirinya teras lapar. “Pasti enak banget kalau dimakan saat hujan begini”                “Berisik” celetuk Briyanda.                “Aku mau pulang Bang. Abang ada payung engga? Kalau ada aku pinjam dulu. Besok pagi sebelum Abang berangkat, ke kampus aku bawakan. Aku tidak bisa hanya berdiam diri disini saja” secara tersirat, Meta sudah mengungkapkan kalau dia tidak nyaman disini. Entah Briyanda mengerti atau tidak. Tapi dirinya sudah mengatakan untuk ingin pulang.                “Aku punya” jawab Briyanda.                Meta seketika tersenyum bahagia. “Kalau begitu, pinjamkan aku Bang”                “Dulu” tambah Briyanda yang membuat senyuman Meta seketika melengkung kebawah. “Ga usah bilang punya kalau gitu”                “Aku memang memilikinya”                “Ya, tapi dulu. Begitu?. Sudahlah Bang, ga perlu berdebat lagi. Ini jadwal Abang tidurkan?” Meta yang sama sekali tidak ingin menambah penyakit baru itu memilih untuk dirinya yang mengalah.                Keduanya kembali hening. Hanya suara deru hujan yang begitu lebat terdengar dimana sesekali angin kencang menimbulkan bunyi pada antar ranting pohonlah yang menemani keduanya saat ini.                Meta sudah merasakan kedinginan. Tubuhnya itu tampak bergetar kecil. Netranya terarah pada sebuah punggung nan lebar yang sama sekali tidak peduli akan dirinya ini. Tidak ada pergerakan sama sekali dari Briyanda. Membuat Meta yakin kalau Briyanda memang benar-benar tidur kali ini.                “Bang, pinjamin aku selimut” Meta masih saja berusaha untuk membujuk.                Namun tidak ada jawaban sama sekali terdengar atas pertanyaan dari Meta yang sejujurnya tidak hanya sekali dia bertanya. Tapi ini sudah yang ke empat kalinya.                “Bang, demi apa aku kedinginan” akui Meta akhirnya yang tidak ingin menambahkan kilatan alam itu adalah tujuannya untuk menggunakan selimut.                “Kilatan atau kedinginanan. Tolong jelaskan yang mana lebih penting dulu saat ini.                Meta mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak habis pikir dengan Briyanda. Hal sederhana itu masa dia sama sekali tidak mengerti.                “Payung” jawab Meta. Dia tidak tahan harus berlama-lama dengan orang seperti ini. “Lebih penting aku pulang sekarang. Karena mie yang aku pesan sudah menanti untuk segera aku habiskan”                Sesuatu seketika melayang dan kemudian mendarat tak jauh dari Meta berada saat ini. “Tidak? dengarkan  hujan turun dengan derasnya? Gunakan itu dahulu”                Meta yang jelas saja tidak ingin menjual mahal. Dia kemudian meraih selimut yang membungkus tubuh Briyanda. “Aku pakai ya”                “Aku suruh apa tadi emangnya?”                Meta yang tidak peduli lagi, dia hendak saja ingin membungkus tubuhnya dengan selimut. Akan tetapi Briyanda kembali memberi titah. Tunggu dulu, aku tidak ingin mengotori selimutku” Dia kemudian bangkit dari tidurnya. Berjalan ke arah lemarinya dan mencari sesuatu. setelah dia mendapatkannya lalu melemparkannya ke arah Meta. “Aku hanya tidak ingin selimutku ternodai. Baju itu tidak perlu kamu kembalikan, ambil saja”                Apa Meta akan menberontak alias menolaknya. Jelas saja jawabannya tidak. Karena Meta dengan sigap segera meraihnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Mengganti pakaiannya dengan penerangan yang sangat minim.                Indra penciumannya itu seketika disambut dengan sebuah aroma yang sangat di sukai oleh Meta. Aroma dari Sauvage Dior ini seketika memenuhi indra penciumannya saat sebuah hoodie telah dia kenakan.                Meta kemudian berjalan keluar dengan senang.  Tubuhnya sedikit lebih hangat dari sebelumnya saat ini dan memilih untuk duduk dimana posisi awalnya tadi. Namun sebelum dia duduk, Meta terlebih dahulu melirik ke arah Briyanda yang kini tampak sudah tertidur dengan pulas. Tidak tau pria itu beneran tertidur atau bagaimana. Tapi yang jelas, Meta kini senang kala tubuhnya kini mulai merasa hangat.                Entah apa yang dia mimpikan kemaren malam hingga Meta harus berada dalam satu ruangan dengan Briyanda. Akan tetapi ini bukan ruan lingkup kampus, namun ini adalah kamar yang merupakan area yang begitu privasi namun dia bisa masuki bahkan menggunakan barangnya. Bukankah itu sesuatu yang perlu di apresiasi akan kebanggaan dari dirinya.                Seakan semua kehokiannya sudanhdi drop semua. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD