Tidak Ada Terimakasihnya

1046 Words
  “Pula—”                Duar//                “—ng” sambung Briyanda akhirnya.                Gemuruh yang begitu kuat seketika terdengar begitu jelas. Kemudian hujan dengan lebatnya turun deras tanpa memberikan gerimis yang datang lebih dahulu. Suara angin yang begitu kencang juga bisa terdengar.                “Oke, aku pulang” ucap Meta dengan wajah yang sudah di tekuk. Dia kemudian membalikkan tubuhnya ke belakang dan berjalan dengan menggunakan kruknya.                Duar//                Kini gemuruh kembali terdengar hingga menampilkan sebuah blitz yang begitu terang selama beberapa detik. Meta menutup sebelah kupingnya dan menunduk kebawah. Memperlihatkan betapa takutnya dirinya akan cuaca saat ini yang sangat tidak bersahabat.                Briyanda menghela nafasnya. Selama ini, tidak ada yang dia izinkan untuk masuk kedalam kosannya bahkan tidak terkecuali dengan sahabatnya yaitu Bumi. Dia hanya mengizinkan bumi untuk berdiri di depan pintu kosannya itu. Briyanda tidak ingin sesuatu yang menurutnya privasi di ketahui oleh orang lain bahkan sahabatnya sendiri.                Berusaha menepis yang menganggu pikirannya kali ini, Briyanda kemudian masuk ke dalam kamar kosannya itu dan menutup pintunya. Dia menghidupkan lampu yang seketika memperlihatkan bagaimana kamar kosannya ini sangatlah tertata dengan begitu rapi untuk kategori seorang pria. Bahkan tidak ada satu debu pun disana yang hinggap disalah satu barangnya.                Duar//                Suara gemuruh kembali terdengar. Dia sempat menoleh ke arah pintunya sebentar dan kembali menatap nakasnya. Dia menggelengkan kepalanya, berusaha menepis apa yang ada di kepalanya saat ini. Dia lalu meraih satu buah kotak yang berada dalam nakasnya itu kemudian membukanya. Mengambil beberapa buah kapas dan kemudian menuangkan sebuah cairan pembersih luka di atas kapasnya. Dengan telaten Briyanda membersihkan lukanya sendiri. Baik yang ada di siku maupun yang ada diwajahnya. Seakan apa yang di lakukan Briyanda saat ini bukan pertama kali dia lakukan.                Klek//                Briyanda kemudian terdiam. Listriknya tiba-tiba mengalami pemadaman. Hanya dengan menggunakan penerangan dari ponselnya. Briyanda segera mempercepat aktivitasnya ini untuk mengobati lukanya. Setelah selesai, dia kemudian meletakkannya kembali kotak P3K ketempatnya dengan begitu rapi.                           Dirinya sangat menyukai yang namanya kerapian dan kebersihan. Jadi apapun itu, setelah dia menggunakan sesuatu. Maka Briyanda akan mengembalikannya ke tempat semula dengan sangat rapi.                Merasa dirinya saat ini yang kotor, Briyanda lalu memutuskan untuk segera mandi. Tak peduli walau udara saat ini dingin, dan listrik yang mati sekalipun. Dia tetap mengguyur tubuhnya dengan air tanpa memanaskan air hangat lebih dahulu. Dirinya harus bisa berhemat untuk menggunakan yang namanya gas. Briyanda mempunyai kebiasaan, dia akan mandi sebelum dirinya tidur.                Selesai dirinya mandi, kini Briyanda merasa sedikit lebih baikan. Walau sesekali rasa nyeri di beberapa tubuhnya masih bisa dia rasakan. Aktivitas terakhir dari Briyanda kini adalah tidur. Dia tidak bisa tidur lewat dari jam satu. Karena dia tidak ingin jumlah waktu tidurnya itu berkurang dari seharusnya.                Selain dirinya yang menjaga namanya kebersihan dan sangat menjunjung tinggi akan kebersihan. Briyanda juga menghormati yang namanya on time terbukti kini dia sudah merebahkan tubuhnya di kasur, siap yang namanya terbuai akan mimpinya.                Ponselnya itu sudah dia letakkan dia atas nakas. Tubuh yang sudah di selimuti dengan selimut serta zona nyaman buat dia terlelap dalam alam mimpi sudah dia lakukan. Iris coklat terang miliknya itu perlahan-lahan mulai tertutup saat menyadari semua ritual wajib sebelum dia tidur sudah di lakukannya. Rasa kantuk perlahan mulai dia rasakan saat udara dingin menjadi pengantar tidurnya.                Rasanya begitu nyaman ketika punggungnya akhirnya bisa bertemu dengan kasur dan membuat dirinya rehat dari segudang aktifitas. Hendak saja dirinya hanyut ke dalam alam bawah sadarnya, samar-samar suara bersin ditengah suara hujan bisa dia dengar dengan jelas.                Awalnya itu hanyalah satu kali bersin saja, akan tetapi kini bertambah menjadi dua kali, tiga kali dan empat kali. Briyanda sudah berusaha untuk memejamkan matanya, akan tetapi suara bersin itu selalu saja menggagalkan dirinya untuk bisa terlelap dengan nyaman.                Briyanda yang merasa waktu tidurnya itu terganggu, tanpa merasa takut sama sekali. Dia segera menghidupkan senter di ponselnya dan berjalan ke arah pintunya, membukanya dan mengarahkan senter ponselnya itu ke segala arah. Mencari sumber suara dari bersin itu menggunakan cahaya lampu senternya.                Rasa amarah yang dia miliki di awal dan terlihat begitu membara itu berubah digantikan dengan rasa terkejut dan panik.                Meta yang awalnya dia kira sudah pulang itu kini sedang duduk bersandar pada dinding kamar kosannya dengan sebelah lututnya yang sehat itu di tekuk sembari di peluk Meta. Tubunya tampak bergemataran, dan samar-samar Briyanda bisa melihat bahwa baju yang di kenakan oleh Meta tampak basah.                “Kamu ga pulang?” tanya Briyanda akhirnya.                Meta menoleh ke samping dan menatap Briyanda dengan horor. “Gimana aku mau pulang kaya gini cuacanya?” Meta lalu berdecak kesal. “Ga ada hatinya sama sekali” Meta kemudian mengusap kedua bahunya itu yang kini berusaha untuk menghangatkan dirinya.                Briyanda menaikkan sebelah alisnya, dia kemudian mendekat dan mengulurkan sebelah tangannya ke Meta. “Cepat”                “Cepat apanya? Mau malakin aku sekarang?” Tanya Meta polos.                “Ck, cepat berdirinya” Briyanda lalu menggoyangkan telapak tangannya yang masih saja terarah pada Meta.                “Apaan ga jelas banget” Meta mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah lain. Bersikap tidak peduli sama sekali dengan Briyanda.                                “Cepat berdiri. Mau sampai kapan kamu akan duduk disana. Hujannya di sertai dengan angin. Yang ada kamu akan berakhir dengan hiportemia hebat” Briyanda yang terkenal akan irit bicara itu akhirnya bisa berbicara dengan kata yang banyak. Tapi itu sama sekali tidak membuat Meta menjadi luluh. Dia kembali mencibir, meringsut menjauh dari Briyanda.                “Jadi ga mau masuk kedalam? Ya udah, aku tidak akan peduli bagaimana kondisi kamu disini. Satu hal lagi, jangan pernah mengeluarkan suara saat bersin. Karena itu sangat mengganggu sekali.” Briyanda kemudian memutuskan untuk berjalan kembali masuk kedalam kamarnya. Namun Meta cepat-cepat bersuara. “Tidak tau terima kasih. Beri kata yang sopan atau apapun itu kepadaku. Padahal aku sudah menyelamatkannya. Bahkan mengorbankan diriku yang bisa kenapa-kenapa tadi”                Briyanda mengghela nafasnya. Dirinya tidak meminta tolong kepada Meta atau kepada siapa pun tadi. Karena dia menyadari bahwa di dunia ini sangat jarang orang yang melakukan sesuatu dengan tulus. Dia berpikir dengan apa yang di lakukan Meta saat ini, pasti saja ingin meminta imbalan akan apa yang wanita ini inginkan kepada dirinya. Namun itu jelas saja tidak akan membuat Briyanda menjadi luluh.                Dunia yang penuh tipu daya muslihat ini, bukankah ada begitu banyak jumlah orang yang bisa melakukan segala cara agar keinginananya tercapai.                Huacim//                Huacim//                Briyanda menghela nafas beratnya, memutar tubuhnya ke belakang. “Masuk atau tidak sama sekali”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD