Lutut boleh saja cidera. Tapi itu sama sekali tidak menghentikan bagi Meta untuk bisa memberikan beberapa buah pukulan yang dia layangkan kepada preman itu. Walau sedikit terasa nyeri karena secara tidak sengaja dia menggerakkan lututnya, namun Meta masih bisa menahannya.
Kruk yang dia kenakan kini malah menjadi senjata untuk dirinya sebagai pertahanan. Amarahnya akan dengan Briyanda bisa dia salurkan kepada preman ini secara tidak langsung. Satu lawan empat ternyata tidak membuat Meta menjadi kalah. Nyatanya tanpa sadar ketika dia melampiaskan semua amarah yang dia miliki. Dia baru sadar ketika sebuah suara menghentikan pukulan Meta kepada preman itu.
“Sudah..” suaranya terdengar begitu lemah, akan tetapi dari nada suara itu bisa membuat Meta mematuhi secara tidak langsung. Kruknya yang nyaris saja mendarat di lengan salah satu preman itu tiba – tiba menjadi terdiam mematung.
Meta tidak akan mungkin salah mendengarnya. Suara ini walau terkesan menahan rasa sakitnya akan tetapi masih ada tirannya disana. Meta jelas saja teringat akan suara ini, dia tidak akan salah mengenalinya. Mengingat sang pemilik suara itu tidak pernah menghilang dari benaknya sama sekali.
Dia kemudian memutar tubuhya kebelakang. Dan ketika netranya itu bisa melihat dengan jelas pria yang sedangvterkapar tak berdaya di lantai itu membuat Meta segera menghampirinya. “Bang, Bri?” Kagetnya yang tidak menyangka kalau ini adalah Briyanda yang dia kesalkan sedari tadi di kampus.
Sekujur tubuh Briyanda saat ini hampir di hadiahi dengan luka. Wajahnya tampak merintih kesakitan. “Bang, bertahanlah. Aku akan membawa Abang kerumah sakit” Siapapun yang melihatnya pasti akan ikut prihatin. Wajah tampan yang di milikinya sudah dinodai oleh ke empat orang preman tersebut.
Meta memang sangat kesal dengan pria ini, akan tetapi dia tidak bisa hanya berdiri diam saja kala Briyanda sedang dalam kesusahan seperti sekarang. Meta akan membalaskan semua dendam dia miliki saat kondisi Briyanda sehat, tidak dengan tubuh tak berdayannya saat ini.
Briyanda menggelengkan kepalnya. “Tidak. Bawa saja aku pulang”
“Bawa pulang apanya. Luka Abang parah gini” Seru Meta.
“Bawa saja aku pulang.” Meta megusap wajahrnya dengan kasar. Luka Briyanda saat ini tidak bisa dianggap remeh. Bisa saja salah satu pukulan dari preman itu berakibat fatal di tubuh Briyanda. Terutama di bagian perut, dimana pria itu sedari tadi pegang dan mengeluh kesakitan.
Wajah yang selalu terlihat galak itu kini sudah di hiasi dengan lebam-lebam dengan beberapa garis merah yang ada di tulang hidung dan tulang pipinya. Bahkan sudut tepi mulutnya tak luput dari pusat hantaman sang preman.
“Udah ga usah mikir biaya. Aku yang akan menanggung biayanya” Ucap Meta yang tanpa berpikiran panjang akan keuangannya seperti apa.
“Ini hanyalah luka biasa, tidak ada yang serius” kukuh Briyanda. Dia lalu berusaha menegakkan tubuhnya. Meta yang melihatnya kembali mengusap wajahnya dengan kasar. “Batu ginjal banget deh lu Bang.” Gerutu Meta. Dia kemudian menegakkan tubuhnya sendiri, menatap Briyanda yang kini kesusahan untuk berdiri dengan benar.
“Lututku sedang tidak baik-baik saja, jadi aku tidak bisa membantu Abang berjalan atau memapah” Ucap Meta yang lebih dahulu agar Briyanda tidak berpikiran yang macam-macam akan dirinya. “Mn, aku tau” jawab Briyanda. Dia kemudian menatap ke empat preman yang sudah di pukuli oleh Meta seorang diri itu. Dia menggelengkan kepalanya takjub. Rasanya tidak mungkin seorang wanita yang bahkan untuk berdiri dan berjalan menggunakan kruk itu bisa melawan empat orang preman tanpa membuat wanita itu terluka sama sekali.
“Kalau begitu aku akan menemani Abang pulang kerumah. Jika terjadi sesuatu aku bisa menghuubungi ambulance”
Briyanda lalu menoleh dan menatap Meta. “Terserah”
Dia lalu berjalan sedikit membungkuk, dengan tangan yang sudah memegang perutnya. Sesekali dia akan meringis kesakitan. Meta yang berjalan di belakang Briyanda, hanya menatap pria itu dalam diam.
Ini pria beneran batu ginjal banget. Apa salahnya kerumah sakit untuk mengecek lukanya.
“Aku yakin kalau saat ini kamu pasti mengatai saya. Tapi terserah, saya tidak akan mau ke rumah sakit” Ada begitu banyak kata yang dia ucapkan, membuat Briyanda terbatuk-batuk. Dia lalu menghentikan langkahnya. Memijat pelipisnya yang terasa nyeri hebat itu.
“Batu ginjal deh. Ayo ke rumah sakit. Apa susahnya sih. Biaya udah aku yang bayar. Abang ga perlu cemas sama sekali” omel Meta.
“Tinggalin aja aku. Pulanglah” ucap Briyanda.
Meta memicingkan matanya menatap pria yang ada di hadapannya ini dari atas hingga bawah. “Aku tinggalin, yang ada entar Abang sudah menjadi tubuh tak bernyawa terlantar begitu saja di pinggir jalan.”
Briyanda terdiam sejenak. Bukan hanya dirinya saat ini yang bersikap keras kepala. Tapi Meta juga.
Tidak ingin ribut, Briyanda memutuskan untuk berjalan kembali mengabaikan Meta yang mengikutinya atau tidak. Jarak yang sudah dekat menuju kosannya membuat Briyanda harus menguatkan dirinya sedikit lagi.
Keduanya kemudian memasuki sebuah kosan sederhana. Tidak ada yang bisa di katakan menonjol dari kosan ini dari segi bangunan bahkan kebersihan dari kosan ini sangatlah kurang. Setiap anak tangga terdapat sampah makanan dan botol minuman. Meta menggelengkan kepalanya. Briyanda yang terkenal akan kebersihannya ini di kampus bisa hidup dengan lingkungan tidak sehat dan berantakan. sungguh sebuah fakta yang begitu mencengangkan.
Seakan bisa membaca pikiran dari Meta. Briyanda kembali berkata. “Terserah aku mau tinggal dimana. Itu bukan urusan kamu sama sekali”
Meta mencibikkan tepi mulutnya dengan kesal. “Ck, cenayang ya? Dari tadi tau banget kalau aku lagi membicarakan dibelakang.”
Briyanda lalu tidak menanggapinya lagi kerena saat ini dirinya berusaha untuk menaiki anak tangga yang dia rasa terlalu banyak kali ini. Masih ada dua lantai lagi yang harus dia lalui.
Kamar kosannya yang berada di lantai empat itu, membuat Briyanda harus ekstra keras untuk bisa naik ke atas. Hingga akhirnya dia tiba dilantai empat dimana kamarnya itu terdapat di lorong nomor dua dan berada pada sisi paling sudut.
Ternyata suasana dilantai empat sangatlah berbeda dari lantai sebelumnya. Laintainya sungguh bersih tanpa ada sampah sama sekali. Tidak hanya itu saja, warna ubinnya yang putih itu tampak bersih dan putih tidak seperti lantai sebelumnya Meta bisa lihat sangat jauh dari kata bersih.
Sebuah pintu berwarna hitam dengan nomor 0417 sudah berada di hadapan mereka. Briyanda lalu berusah meronggoh saku celananya. Mencari keberadaan dari kuncinya. Beberapa kali dia berusaha memasukkan tangannya disaku celana, namun karena luka yang ada di punggung tangannya membuat Briyanda menjadi kesusahan.
Melihat pria yang ada dihadapannya ini tampak kesusahan, Meta segera saja berjalan dan berdiri dihadapan Briyanda. Dia kemudian memasukkan tangannya ke saku celana Briyanda tanpa permisi sama sekali
Briyanda yang kaget lalu menepuk tangan Meta. “Apa yang kamu lakukan”
“Aku hanya mencari kunci. Greget banget aku ngeliatnya. Ketemu” ucap Meta dan mengeluarkan kunci itu lalu menyerahkannya. “Nih”
Briyanda kemudian menatap Meta. “Pula—”
Duar//
Gemuruh yang begitu kuat seketika terdengar begitu jelas. Kemudian hujan dengan lebatnya.