Jalan - Jalan Malam Malah Mendengar Suara Aneh

1063 Words
        “Beneran dia ga ada sama sekali yang namanya sosial media?” Gerutu Meta yang netranya masih menatap layar ponselnya, tangannya terlihat sibuk mengetik nama Briyanda dengan berbagai nama dan singkatan terlintas dikepalanya menjadi kemungkinan besar dari Briyanda memiliki sosial media.                Dijaman seperti sekarang, rasanya tidak mungkin tidak memiliki yang namanya sosial media selain whastsapp.                “Kata senior kita, Bang Briyanda emang ga punya sama sekali sosial media selain w******p dan juga telegram. Itupun punya karena kepentingan yang namanya perkuliahan” sahut Perwira.                Meta mendenguskan nafas kesalnya. “Seriusan dia ga punya yang namanya sosial media?”                “Ini aku lagi nyari sahabatnya, Bang Bumi. Siapa tau aja tuh senior punya” jawab Vulkanik yang mengestalk akun Kakak tingkat mereka yang di ketahui sahabat terdekat dari Briyanda di kampus. Briyanda bukan orang yang bergaul dengan yang lainnya. Jadi semua tau kalau bumi sahabat dekat dari Briyanda.                “AKu harus bisa menemuka apa yang di sukainya, mengenai dirinya, apa saja dari Bang Bri melalui postingannya. Dengan begitiu aku bisa menarik perhatiannya. Aku bingung harus bagaimana lagi untuk bisa membuat tuh batu ginjal bisa luluh.” Jawab Meta dengan lesu. Dia kemudian merebahkan dirinya di kasur, menatap langit-langit kosannya yang sudah di hiasi dengan berbagi Bintang hasil coretannya sendiri. “Semua ini adalah salah aku dan kalian yang sama sekali tidak terlibat malah kena imbasnya”                Perwira yang mendengarnya kemudian menggeser tubuhnya mendekati Meta berbaring di sebelahnya. “Capek Met. Ngantuk”                Vulkanik yang tidak mau ketinggalan juga melakukan hal yang sama. Dia memposisikan tubuhnya ke samping meta lalu merebahkan dirinya. “Aku juga capek. Hanya malam ini saja aku beristirahat dengan tenang. Besoknya lagi sudah di hadiahi dengan tugas betubi-tubi.                Meta mendengarnya kembali merasa bersalah. Dia lalu menatap kedua sahabatnya itu bergantian. “Kalian lapar ga?” Tanya Meta tiba-tiba.                “Lapar, kita pesan aja. Lagian seingat aku, kita cuman makan roti man terakhir kali di cafe. Aku jadi kepengen makan mie di simpang itu demi apa” ucap Vulkanik.                        “Demi apa itu mienya enak banget dan banyak lagi, terus pakai telur yang pedasnya pas gitu” tambah Perwira.                “Nah kalau begitu biar aku aja yang beli. Kalau di pesan juga ga bisa. Tuh Abang-Abang ga kerja sama dengan tukang ojek. Jadi biarkan aku yang turun sekalian mau beli penambal datang bulan” Meta berniat kali ini dia ingin mentraktir kedua sahabatnya sebagai rasa bersalahnya saat ini.                Tapi kedua sahabatnya sama sekali tidak membiarkan Meta melakukan hal itu. “Ya udah biar aku saja yang turun kebawah. Roti Jepang lu itu yang merek biasakan? Biar aku aja yang perigi” Vulkanik bangkit dari tidurnya dan menatap Meta yang masih rebahan.                Meta menggelengkan kepalanya. “Biar aku saja, kalian sudah capek seharian ini. Lagian aku tidak enak kalau lu yang beli.” Tolak Meta.                “Lah, kaya ini bukan sekali dua kalinya aku melakukannya. Aku tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan. Emangnya kenapa aku beli lalu aku pakai. Masalah dimereka?” jawab Vulkanik dengan santai. Tapi Meta yang kukuh segera saja duduk dan menarik tangan Vulkanik. “Aku aja yang turun, aku ingin melihat-lihat minuman apa yang enak buat membangkitkan mood aku. Kalian tunggu saja disini. Lagian Abang-Abang jualannya berada didepan kos”                Vulkanik lalu menatap Meta terdiam. “Lu masih sakit, biar aku aja yang pergi ke bawah. Tenang aja lu disini kenapa. Nanti kita video call aja lu mau minum apaan”                “Aku mau keluar, menghirup aroma malam bentar. Udah kalian di kosan aja. Aku perginya bentaran doang” Meta kemudian tersenyum menyeringai, menatap kedua sahabatnya itu bergantian. “Rindu sama aku ya? Iya, iya aku tau kalau aku itu ngangenin”                Vulkanik kemudian mencibir. “Ga banget lah aku harus ngangenin makhluk kaya lu”                “Dari pada aku ngangenin lu, mendingan aku ngangenin Kakak gemoy yang ada tadi di lab” celetuk Perwira.                                Meta yang mendengarnya kemudian berdecak kesal. Meraih dompetnya dan segera saja berjalan tanpa berkata-kata lagi.                “Dih, anaknya pundung” sindir Vulkanik. Namun Meta jelas saja tidak peduli.                Niat awal yang ingin mencari udara segar malam ini untuk membuat pikirannya menjadi lebih tenang. Tentu saja harus di laksanakan. Meta berniat untuk pergi ke sebuah minimarket yang letaknya agak jauh dari kosannya. Sebelunya dia sudah memasan makanan merek agar bisa menghemat waktu.                Jalan ke arah minimarket ini areanya sangatlah sepi. Tidak sama dengan area  penjual mie tek tek langganannya. Namun Meta yang merasa tidak takut sama sekali keluar malam-malam begini dengan santainya berjalan seorang diri ke minimarket yang mau dia tuju.                Tidak ada yang aneh-aneh dia rasakan, semua masih terlihat aman terkendali. Meta yang tidak takut berjalan dengan santainya menggunakan alat bantu kruknya. Sesekali dia akan menyandungkan lagu dari Mew mewakili hatinya yang kini perlahan sudah membaik.                Namun tiba-tiba, samar-samar kali ini dia bisa mendengar ada sesuatu yang tidak beres di indra pendengarannya. Ini bukan sesuatu suara yang menyangkut mengenai makhluk tak kasat mata. Akan tetapi ini suara dari kaum sesamanya.                Suara rintihan sesekali bisa dia dengar dengan jelasnya. Meta yang saat itu seorang diri bukannya merasa takut dan menjauh. Meta malah semakin tertantang buat mencari tau dimana sumber itu berasal.                Kruk yang sedang di pegangnya itu di pegang dengan kuat oleh Meta. Dia akan menjadikan kruknya itu sebagai senjatanya. Dengan langkah perlahan, Meta semakin mendekat. Dia semakin bisa mendengar dengan jelas suara itu di balik sebuah gang.                Kalau dirinya tidak cidera sama sekali, Meta berani saja masuk kedalam gang tanpa harus dia mengendap-endap seperti ini. Akan tetapi dengan sikapnya saat ini hanya berdiam diri saja tanpa menoleh melihat apa yang terjadi sebenarnya. Hal ini membuat Meta geram sendiri.                Meta lalu menelan salivanya dengan berat. Dia lalu melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam gang. Disana sudah ada empat orang preman yang tampak mengeroyok seseorang. Meta tidak bisa tinggal diam, berjalan mendekat dan dengan kuat melayangkan ujung dari kruknya itu ke kepala salah satu pria yang sedang mengeroyok seseorang itu.                “Kurang belajar! Beraninya main keroyokan. Mau aku gampar lu pada” ancam Meta.                Sikap Meta yang seperti ini jelas saja bukan tanpa asalan. Ilmu dii taekwondo yang dia miliki bukanlah pada tingkatan yang rendah Akan tetapi sudah memiliki sabuk hitam.                “Beraninya main keroyokan lu!” tantang Meta.                “Nyari kematian ya lu” ucap salah satu pria pengeroyokan.                “Kata siapa aku kesini datang buat nyari kematian aku sendiri. Tapi aku ingin menghantarkan kalian segera menghadap Tuhan” ucap Meta dengan penuh percaya diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD