Tidak ada yang namanya musik pengiring, tidak ada pelaminan yang begitu megah, apalagi sebuah gedung yang sangat indah. Semua kata itu begitu jauh dengan apa yang dirasakan dua pengantin baru ini. Bahkan hanya di saksikan oleh kedua sahabat Meta dan juga dua orang saksi saja. Tidak seperti pernikahan biasanya yang dihari ratusan hingga ribuan orang tamu undangan.
“Kalau begitu kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri” ucap sang Bapak penghulu kepada Meta dan juga Briyanda.
Briyanda kemudian menatap Meta yang kini status mereka bukan hanya sebagai senior dan adik kelas saja, tapi kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Meta meraih punggung tangan Briyanda kemudian mengesunnya semenetara tangan Briyanda yang lainnya mengusap kepala Meta dengan lembut.
Entah ini pilihan yang terbaik atau yang terburuk, tapi Briyanda hanya ingin menjalani status terbarunya sekarang. Tidak akan ada yang berubah dengan hidupnya selain dirinya sekarang sudah menjadi suami orang.
Setelah pengikatan janji pernikahan mereka di lakukan, sang penghulu dan kedua saksi sudah pergi meniggalkan ke empatnya. Siapalagi kalau bukan pasangan baru dan juga kedua sahabat dari sang mempelai wanita.
Raut wajah bahagia bukanlah yang di tampilkan oleh kedua sahabat Meta, justru kesedihan yang terlihat disana. Seakan pernikahan sahabat mereka ini bukan sesuatu yang keduanya inginkan terjadi. Meta yang melihat kesedihan keduanya kemudian merangkul kedua bahu sahabat terbaiknya itu. “Jangan bersedih, tidak akan ada yang berubah dariku. Aku masih sahabat kalian”
“Ya, kami ga bisa seenaknya lagi ngajak lu pulang malam. Entar Bang Briyan yang ada marah” ucap Perwira dengan sedih.
“Ya elah, kenapa harus cemas akan hal itu, kami sudah sepakat untuk tidak saling mengganggu kehidupan masing-masing. Begitu juga dengan aku” Jawab Meta. “Dia terserah mau melakukan apa di luar sana begitu juga dengan diriku. Hanya status saja yang suami sitri”
“Tapi kini lu sudah menjadi istri darinya, lu harus menjaga martabat lu, Met” sahut Vulkanik.
“Dari dulu aku juga sudah menjaga martabat aku sebagai seorang wanita. Udah jangan bawel. Aku menikah dan tidak, aku tetaplah Meta yang kalian kenal. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah berubah. Aku menyanyangi kalian melebihi aku mencintai diri aku sendiri” ucap Meta.
Perkataan Meta yang ini sejujurnya bukan membuat kedua sahabat dari Meta ini menjadi senang. Namun yang mereka rasakan itu kesedihan yang begitu mendalam. Dimana keduanya ingin coba hapuskan dari Meta, namun sayang hingga kini mereka tidak berhasil melakukannya.
“Boleh kami berbicara dengan Bang Briyan?” tanya Perwira.
“Kenapa harus nanya aku, tentu saja” Meta melepas rangkulannya dan menoleh kebelakang dimana Briyanda sedang menatap ketiganya dengan raut wajah super datarnya itu.
“Bang, ada hal yang ingin kami bicarakan ke Abang” ucap Perwira dan hanya di anggukan oleh Briyanda. “Kalau begitu mari kita bicara di luar”
Ketiganya lalu berjalan keluar, meninggalkan Meta yang masih berada didalam. Meta kini tampak tertarik dengan video yang sudah direkam oleh Vulkanik dimana itu akan menjadi bukti bahwa dirinya sudah menikah dengan Briyanda.
Dirinya akhirnya lega saat mickey tidak jatuh ke tangan orang lain. Walau saat ini mickey masih di rawat karena kerusakan dari motornya saat kecelakaan sangatlah berat dan biaya untuk memulangkan mickey yang belum cukup membuat dirinya tidak bisa melihat mickey. Tapi yang jelas mickey tidak akan pernah jatuh ke tangan orang lain.
Di sisi lain, Briyanda menatap kedua adik tingkatnya ini. “Kalian mau membicarakan hal apa?”
Perwira masih tampak terdiam, sementara Vulkanik dia akhirnya berbicara lebih dahulu. “Bang, kali ini kami berbicara bukan sebagai adik tingkat Abang di kampus”
Briyanda dengan santai kemudian menjawab. “Ya saya tau”
“Bang, Meta itu bukan gadis kuat seperti yang orang lain lihat selama ini, bukan gadis yang tidak ada masalah sama sekali dan terlihat bahagia. Dia hanya sedang memainkan peran kalau dirinya itu sedang baik-baik, tapi sebenarnya dia berkebalikan dari itu semua.” ucap Vulkanik.
“Hampir setiap malam Meta suka menangis, dia ga bakalan betah dikosannya lama-lama dan ada satu hal lagi kalau Meta itu sangat tidak suka yang namanya dibentak. Jadi tidak heran kalau melihat Meta mudah sekali menangis, kareana mentalnya dari kecil ayang tidak suka dibentak sama sekali. Kenapa Meta bisa selemah itu, karena dia memiliki masa lalu yang buruk. Jadi aku harap Abang tidak memperparah kondisi mentalnya.” Tambah Vulkanik. “Jika tidak bisa mengobat jangan menamah luka”
“Demi apapun itu Bang, jangan sakiti Meta.” Ucap Perwira akhirnya. “Aku tidak akan membiarkan Abang nyakitin dia sedikitpun. Aku ga bakalan ngebiarin Meta menangis tau bersedih sedikit saja, maka aku akan menghajar Abang. Aku dan Vulkanik sudah bersumpah dihadapan makam Ibu Meta. Kalau kami akan menjaga Meta hingga akhir hayat kami. Berusaha membuat Meta tidak merasa sendirian dalam keadaan apapun. Jadi jangan salahkan aku dan Vulkanik kalau sesuatu menimpa hidup Abang. Aku ga peduli dengan hubungan kita dan juga status Abang. Karena urusan kali ini menyangkut yang namanya Meta.”
“Aku ga bakalan nyakiti Meta. Karena aku tau, kalau aku menyakitinya akan ada dua orang pria yang menyukainya secara diam-diam menghajar aku hingga tidak bersisa. Apa aku tidak tau kalian sebenarnya menaruh rasa ke Meta? Hanya saja kalian tidak mengatakannya karena tidak ingin merusak persahabatan kalian bukan? Kalau pacaran bisa yang namanya putus, tapi kalau persahabatan akan sulit buat putus apalagi itu sudah terjalin begitu lama.”
Tak bisa di tutupi kalau kedua sahabat Meta tampak terdiam dengan apa yang dikatakan Briyanda barusan. “Aku tidak salah bukan? Karena tidak ada persahabatan pria dan wanita itu yang tidak ada membawa peraaan. Pasti salah satu ada yang memiliki rasa”
Vulkanik lalu berdecih. “Kalau Abang udah tau, kami suka dengan Meta. Jadi jangan salahkan kamu kalau kami bertidak jika orang yang kami sayangi disakiti”
“Aku tidak bisa menjanjikan kalau suatu hari aku tidak akan menyakitinya, hanya saja aku berusaha untuk membuat dia nyaman dengan kehadiran aku dengan versi aku.” jawab Briyanda.
“Demi apapun itu Bang, aku tau gimana sikap Abang. Meta bukan sesuatu yang bisa Abang mainin perasaannya. Oke, kalian menikah karena hanya sebuah taruhan motor dari Meta. Tapi dengan kalian tinggal serumah, aku takut salah satu dari kalian bisa saling jatuh cinta. Seperti dengan apa yang aku dan Perwira rasakan” ucap Vulkanik.
“Kita lihat saja bagaimana, kedepannya seperti apa tidak ada yang tau dan dan tidak ada yang bisa memperdiksinya.”
Kedua sahabat Meta lalu terdiam. Mereka merasa kesal disaat pria yang tak terduga model Briyandalah yang menjadi suami Meta.