Tidak Seperti Pernikahan Pada Umumnya

1043 Words
        Setelah acara pernikahan mereka berlangsung, tidak seperti pasangan suami istri baru. Keduanya malah memutuskan untuk kembali ke kosan Meta untuk segera beristirahat. Tidak ada honeymoon, tidak ada acara lain apapun itu. Semua seakan kembali ke kehidupan masing-masing. Seolah mereka tidak pernah melakukan pernikahan sebelumnya. “Gimana videonya?” tanya Briyanda yang kini sedang melirik Meta.                Sementara yang di lirik tampak begitu serius dengan sebuah video yang di tontonnya. Meta masih tidak percaya bahwa kini dirinya sudah menikah bahkan disaat usianya yang masih sangat muda hanya karena untuk bisa menyelamatkan Mickey.  Kini dirinya sudah tidak menjadi tanggungan dari Papanya namun kini sudah beralih kepada pria yang bernama Briyanda.                Video yang dia lihat ini menjadi bukti kuat dimana tidak ada rekayasa sama sekali dirinya memang sudah menikah dengan Briyanda. Meta tidak peduli cara ini benar atau tidak, yang jelas dia hanya ingin melindungi apa yang harus di lindungi. Jika ini adalah cara yang salah, palingan hanya akan menjadi beban masalah dan pikiriannnya dikemudian hari dan Meta sudah siap akan hal itu.                “Sungguh sangat sempuran Bang” jawab Meta, dia lalu menoleh kesamping dimana Briyanda sedang menatapnya.  “Terimakasih Bang sudah mau menikah denganku. Sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat, aku tidak akan mengekang Abang dengan wanita manapun. Jadi Abang tidak perlu cemas sama sekali”                “Terimakasih buat apa? Bukankah aku melakukan ini juga mendapatkan imbalannya. Jadi tidak ada yang perlu kamu ucapkan terimakasih” Briyanda menggelengkan kepalanya. Menarik selimut yang akan menyelimuti dirinya lalu membalikkan badan. Walau dirinya saat ini tidur di sofa, siapa sangka kalau sofa yang di miliki Meta begitu nyaman.                Sofa ini tidak dia dapatkan begitu saja. Dia meminta dibelikan ini agar dia tidak tidur satu ranjang dengan Meta. Tanpa perlu berpikir dua kali, kedua sahabat Meta seketika membelinya tadi. Jadi Briyanda tidak perlu khawatir akan masalah punggungnya yang akan sakit. Lagian sofa ini sudah sangat nyaman bagi dirinya ketimbang dengan kasur yang ada di kosannya dahulu.                “Terimakasih karena Abang mau menjadi suami aku” jawab Meta dengan lembut. “Sebenarnya Abang bisa saja menolaknya dengan keras berbagai alasan apapun itu. Tapi Abang akhirnya mau. Abang menyelamatkan Mickey”                “Abang menyelamatkan Mickey, lalu kamu memberi Abang tempat tinggal. Jadi kita impas. Sudahlah ini sudah larut malam. kamu sebaiknya tidur” sahut Briyanda. Dirinya yang kini sudah masuk jam tidur terlihat menguap. Sebuah penutup mata yang menjadi andalannya saat ini sudah di pasang oleh Briyanda dan dirinya siap untuk menjemput alam mimpinya. Sementara Meta sama sekali tidak bisa tertidur dalam lampu yang gelap, alhasil membuat Briyanda mengalah akan hal ini. Tidak hanya itu saja, Meta yang terbiasa tidur larut malam, jelas saja membuatnya belum mengantuk. “Good night”                Meta yang masih saja sibuk menatap videonya seketika terdiam dengan ucapan Briyanda. Pria yang irit bicara itu mengucapkannya selamat malam. Namun Meta akhrinya membalas dan terkekeh pelan. “Good night”                Jika saja Meta merekam hal ini dan kemudian menyebarkannya di kampus, Meta yakin kalau dirinya akan di irikan para wanita satu kampus dan siap untuk merebut posisinya.                Selama beberapa menit. Meta terdiam, dia bukan tertidur. Dia berusaha menahan tangisannya yang akan pecah saat ini. Dirasa dirinya yang tidak kuat lagi menahan tangisannya ini, membuat Meta segera saja keluar dari kamar kosannya. Menutup dengan pelan pintunya itu dan tak lupa menguncinya.                Meta memilih untuk menyendiri di rooftop atas kosannya itu. Sesampainya disana, Meta tidak bisa membedung tangisannya. Dia menangis semenjadinya. Melumpahkan kesedihan yang dirinya miliki. bosomnya begitu sesak, hingga dia tidak bisa menopang tubunya dengan benar. Membuat Meta berlutut dalam tangisannya itu. “Bunda, maafkan aku, maafkan aku” Rasa bersalah kini terus saja menyelimuti hatinya. Sebisa mungkin tadi Meta mencoba untuk berbahagia, nyatanya rasa itu selalus aja kalah.                “Aku tidak bisa memenuhi janji Bunda kalau aku akan menikah dengan pria yang aku cinta. Tapi aku melakukan hal ini karena Mickey. Bunda bekerja dengan begitu keras agar bisa membelikan aku disaat Papa saat itu tidak mau mengeluarkan seperser uangpun”                “Maaf bun, aku salah, maafkan aku. Tapi aku melakukan hal ini demi kebahagian aku juga. Jika aku tidak melakukannya, aku akan bersedih. Setidaknya ini adalah langkah terbaik yang aku ambil. Aku berharap kalau Bunda bisa melihat aku sekarang, Bunda jangan bersedih. Walau pada akhirnya aku tidak akan pernah bisa mempertahakan pernikahan aku kedepannya. Tapi aku akan pastikan aku akan selalu bahagia dengan keputusan aku buat”                Meta lalu mengusap air matanya dengan kasar, dan berusaha untuk tetap tersenyum sembari menatap langit yang kali ini di penuhi dengan Bintang-Bintang begitu indah. Kesedihan yang dia rasakan saat ini setidaknya di hibur oleh alam yang menyuguhkan pemandangan begitu indah. Berharap salah satu Bintang yang ada dilangit adalah milik ibunya.                “kenapa aku harus menjalani nasib seperti ini, sebenarnya dosa apa yang telah aku lakukan? Aku juga ingin bahagia. Aku juga ingin merasakan kasih sayang orang tua itu seperti apa. Tapi kenapa aku tidak bisa merasakan hal itu, kenapa? Alasan apa yang membuat aku tidak pantas”                “Sejak kecil aku selalu berusaha menjadi anak yang baik demi masa depan aku kelak, demi kedua orang tuaku, tapi kini semua sudah hancur. Aku hidup didunia ini karena kedua sahabatku, aku hidup di dunia ini hanya untuk menjalani hari-hari tanpa harus melenyapkan nyawa aku sendiri. Aku tidak percaya yang namanya kebahagian akan menghampiri aku lama-lama, karena rasa sakit, kehilangan dan kesedihan akan selalu ada disampingku”                “Bunda, kenapa Bunda tidak menjemput aku. Bukankah Bunda tau kalau aku juga tidak bahagia di sini. Memang ada Perwira dan Vulkanik yang akan selalu bersama denganku, tapi Bunda bisa lihat kalau aku hanya menjadi beban bagi mereka. Aku tidak ingin mereka terbebani akan diriku Bunda. Ingin rasanya aku segera menyusul Bunda, tapi lagi-lagi perkataan Bunda selalu saja terngiang di kepala aku agar aku bisa bertahan sedikit lebih lama lagi di dunia ini.”                Sekuat tenaga agar Meta tidak menangis, namun lagi-lagi air mata mulai membanjiri wajahnya, isakan-isakan kecil itu sedikit-sedikit lolos dan mengeluarkan sebuah suara tangisan pilu yang terdengar. Meta selalu berusaha untuk tidak cengeng, namun lagi-lagi dia kalah akan perasaannya.                “Maafkan aku Bunda, kali ini aku tidak bisa menepati janji Bunda, aku selalu saja menangis setiap memikirkan Bunda, merindukan Bunda”                Tanpa Meta sadari, sedari tadi dia tidak sendirian berdiri dibalkon. Ada seseorang yang mendengar semua keluh kesah Meta. Berdiri mematung di dekat pojokan.          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD