Pembatalan Taruhan Malah Menemukan Hal Tak Terduga

1073 Words
        Lantunan musik terdengar begitu merdunya. Memainkan sebuah lagu mengenai sepasang kekasih yang sedang mengalami jatuh cinta. Meta yang berada dalam sebuah café itu, begitu hanyut dalam lagu tersebut. Ikut menyanyikannya kecil sembari menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.                Siapa pun yang melihat pasti akan setuju, kalau Meta terlihat seperti wanita yang sedang jatuh cinta. Senyuman indah terulir begitu indah di wajahnya yang manis dimana memperlihatkan dua buah gigi serinya yang lebh panjang dan besar dari lainnya.                Siapa saja yang memandang Meta saat in, semuanya kompak mengatakan kalau Meta terlihat begitu cantik dengan pesona dirinya miliki. Tidak hanya itu saja, wanita ini secara tidak sadar sudah mengeluarkan aura positif dimana orang-orang akan ikut ketularan bahagia ketika melihat dan bersama dengannya.                Sudah sepuluh menit lamanya Meta duduk, sembari menunggu seseorang yang katanya akan segera tiba dalam bebeapa menit lagi, akan tetapi hingga kini belum ada juga tanda-tanda menampakkan batang hidunya.                Segelas minuman nyaris saja dia habiskan karena cuaca yang bgeitu terik dari sebelumnya. Dia kemudian melirik jam yang melinngkar di pergelangan tangannya. Dia heran kenapa orang-orang yang sudah membuat janji kepada dirinya suka sekali mengingkarinya.                “Lihat saja, aku tidak akan memaafkan si Klandra karena sedah membuat aku menunggu dirinya begitu lama saat ini”                Padahal jaraknya begitu dekat antara kampus dengan tempat dia berada sekaang, Entah kenapa Meta menjadi kesal karena klandra tidak juga datang-datang. Setidaknya dia ingin memanasi Klandra. Kalau dia bisa mendapatkan si Briyanda dimana itu sejenis kemustahilan yang tidak akan pernah terwujudkan sama sekali. Tapi siapa sanagka saat ini, Meta mala menjadi istri dari Briyanda Jayanegara Yeyar Ages.                “Selamat datang” ucap sang barista dengan hangatnya ketika seseorang memasuki café. Meta yang mendengarnya seketika menoleh kebelakang. “Datang juga tuh orang” ucap Meta dalam hatinya.                Meta melipat kedua tangannya kesal dan menatap pria yang baru saja datang itu kini sudah duduk dihadapannya sembari menatap menatap Meta bingung. “Kenapa lu natap aku begitu? Ah, aku tau kalau aku adalah pria tampan, lu jangan terpana begitu. Aku tau dan aku sadar”                “Kurang minum nih orang. Percaya diri banget. Udah datang telat malah dengan santainya mengatakan sesuatu yang membuat aku ingin mengelus lehernya menggunakan katana” ucap Meta dan meminum minuman kopi americano yang usdah dia pesan.                “Lu mesannya cuma satu doang, ga ada niat buat aku gitu. Ckck, pelit banget jadi manusia” ucap Klandra yang kini memandang buku pesanan. Setelah dia mendapatkan mnnuman apa yang dia mau, pria yang seumuran dengan bryanda ini mengangkatkan tangannya lalu memesan minuman. Setelah pesanannya selesai dia kembali memusatkan perhatiannya kepada Meta.                “Jadi gimana, apa lu sudah ikhlas dengan memberikan motor kesayangan lu itu kepada aku” ucap Klandra yang seperti biasa, penuh dengan namanya percaya diri menjulang tinggi.                Meta berdecih, menyipitkan matanya, mendekatkan tubuhnya ke arah Klandra. “Apa yang lu kaakan? Bermimpi ya?”                “Jelas saja aku tidak bermimpi, saat aku tau kalau kamu dan Klandra itu tidak akan menikah. Itu tidak akan pernah terjadi. Secantik apapun wanita yang ada di kampus, tidak ada yang bisa meluluhkannya dengan segala cara” Jawan Klandra.                Meta mengaggukkan kepalanya beberapa kali. “Tidak akan mungkin menikah dan tidak akan terjadi” Dia kemudian meronggoh sesuatu di celananya dan menyerahkannya kepada Klandra. “Lu liat isinya, baru lu bisa berbiacara. Jadi berhentilah untuk membicarakan omong kosong kalau buktinya tidak ada sama sekali”                Klandra menatap ponsel yang ada di hadapannya ini dimana sudah ada sebuah tombol pause disana. Dia yang merasa penasaran akan apa dari isi video terserbut, segera saja menekan tombol play.                Sepasang irisnya itu menatap dengan begitu fokus menyaksikan sebuah rekaman dimana ada sepasang orang dirinya kenal begitu sedang melakukan proses ijab qabul.                Sebisa mungkin dia mencari celah kalau ini bukanlah sebuah video editan yang di buat dengan sedemikian rapi dan bagusnya. Seolah-olah kalau ini beneran terjadi. Namun sudah beberapa kali dirinya mengulang dari rekaman ini. Dirinya sama sekali tidak menemukan kalau video ini adalah rekayasa.                “Gimana? Apa aku menipu?” Tanya Meta yang kini selangkah diatas Klandra. Seseorang yang selama ini selalu saja menjadi saingan di arena balapan dan tidak akan pernah akur sama sekali.                “Briyanda tidak akan mungkin mau menikah dengan wanita seperti lu” ucap Klandra yang masih saja tidak terima.                Meta terkekeh mendengarnya. “Tapi itulah yang terjadi. Kalau kami berdua sudah menikah. Jadi sesuai dengan kesepakatan yang telah kita buat sebelumnya. Aku harap kamu tidak perlu lagi bertemud denganku. Mickey, motor kesayanganku tidak akan pernah pindah tangan ke lu”                Ada raut wajah kesal, sedih, dan kecewa tergambar dengan begitu jelas di wajah Klandra. Namun Meta sama sekali tidak peduli. Urusannya sudah selesai, jadi tidak akan ada lagi orang yang mendesaknya.                “Jadi berhenti menggangguku mulai sekarang Bang. Karena urusan kita sudah selesai” ucap Meta yang kali ini sama sekalit tidak ingin berurusan dengan Klandra.                “Sebagai seorang pria, aku jelas saja menepati janji yang sudah aku buat.” Jawab Klandra. “Karena lu sudah memberikan bukti video pernikahan kalian, maka aku tidak akan lagi memaksa lu lagi untuk menyerahkan motor kesayangan lu itu”                Dengan raut wajah penuh percaya diri, Meta kemudian berkata. “Bagus”                Tapi kini raut wajah bahagia dari Meta itu seketika memudar, kala dia secara tidak sengaja menatap seseorang yang tengah berjalan mendekati café dimana dirinya berada.                “Selamat datang” ucap sang barista. Menyambut dengan hangat tamu yang masuk. Klandra memang tidak menoleh sama sekali untuk melihatnya, akan tetapi Meta yakin kalau Klandra bisa melihat dengan jelas siapa yang datang.                “Satu capuccino” ucap seseorang.                “Aku maunya mathca” ucap seorang wanita.                Klandra yang saat ini posisinya sedang dipunggungi oleh orang yang baru saja datang itu, menyipitkan matanya. “Bukankah yang sedang memasan itu adalah suami lu?”                Ya Tuhan, kenapa harus disaat ini Bang Briyanda ngedate                “Mirip aja kali, ga mungkin kalau itu adalah Bang Bri” ucapnya yang berusaha untuk mengelak.                “Gak, aku gak mungkin salah lihat. Wanita yang ada disampingnya itu adalah anak Fisipol yang terkenal cantik itu, siapa yang tidak mengenalnya” senyuman kemudian terpatri diwajah Klandra. “Kasihan banget nasib lu, Met. Diselingkuhi sama anak Fisipol” Ucap Klandra. “itu pasti temannya kali, aku tidak akan pernah mengekang dia untuk berteman dengan siapa saja” bohong Meta. “Berteman kata kamu? Apa berteman harus mengalungkan lengannya begitu?” Klandra lalu menujuk lengan wanita yang sudah ada disamping Briyanda itu dengan dagunya. “Mesra banget, udah pacaran banget itu gayanya. Kasihan lu, Met. Diselirin” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD