Dari sekian begitu banyak hari. Dari sekian begitu banyak café yang ada dimuka bumi ini, entah kenapa Briyanda harus berkunjung dengan café yang sama dengan dirinya. Meta berteriak kesal dalam dirinya saat ini. Ingin rasanya menarik lengan wanita itu dan menyeretnya untuk pergi.
Tapi semua hal itu jelas saja tidak akan mungkin di lakukan oleh Meta. Mengingat keduanya sudah sepakat untuk tidak ikut mencampuri urusan masing-masing.
“Diselirin? Kenapa aku harus takut di selirin. Aku tau bagaimana Bang Briyanda, dia tidak akan pernah selingkuh seperti itu. Lagian siapa yang tidak mengenal dirinya, ada begitu banyak wanita antri berusaha merebut posisiku. Untuk apa aku harus cemburu kala aku sudah di nikahinya” jawab Meta dengan penuh percaya diri.
Tapi Klandra, tidak bisa menerima jawaban dari Meta begitu saja, lalu kembali berbicara. “Walau lu udah di nikahi olehnya, tapi tidak sepantasnya tuh anak bisa dengan mudahnya ngedate dengan wanita lain” Klandra lalu menyipitkan matanya menatap Meta penuh tanya. “Aku jadi meragukan perihal pernikahan kalian. Ini pasti rekayasa bukan?”
Meta dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Rekaysa apanya, apa mungkin rekayasa bisa seperti itu. Jangan mimpi”
“Tapi Briyanda terlihat tidak peduli akan pernikahan kalian” kukuh Klandra.
Orang yang sedang mereka bicarakan itu akhinrya mendapatkan pesanan minuman masing-masing. Wanita yang ada di samping Briyanda terlihat begitu senang dan semakin menempelkan tubuhnya. Kepalanya itu dia sandarkan pada lengan kokoh milik Briyanda. Sementara yang di sanderin hanya bersikap acuh dan berjalan dengan tatapan lurus ke arah luar. Tidak menyadari ada dua pasang mata yang sedang menatapnya.
“Lihat, bahkan Briyanda sama sekali tidak menolaknya. Satu universitas tau kalau Briyanda sangat dingin dengan yang namanya wanita. Alasan itulah yang hingga kini aku masih tidak percaya kalau Klandra itu menikah dengan lu. Hera pasti kekasih dari Briyanda selama ini” Klandra lalu mencondongkan tubuhnya kedepan, menatap Meta penuh selidik. “Kalian sedang membohongi aku bukan, dengan begitu motor lu tidak akan jatuh ke tangan aku”
“Apa lu sudah tidak waras, tidak bisakah melihat di video itu apa aku bisa bermain-main dengan ucapan janji itu. Bang Briyanda tidak hanya mengucapkannya di depan penghulu, saksi dan juga kedua sahabatku, tapi juga kepada Tuhan. Mungkin itu adalah saudaranya” jelas Meta yang tidak terima atas tuduhan dari Klandra, walau tuduhan itu sebenarnya adalah kenyataan.
“Bagaimana aku tidak meragukan lu, Met. Kalian berdua tidak pernah di gosipin sama sekali. Aku tau dengan jelas bahwa lu itu musuhan banget dengan Briyanda, bahkan anak itu pernah mengusir lu di kelas dan juga di lab. Jadi apa mungkin aku meragukan hal ni?” Klandra menganggukkan kepalanya beberapa kali seakan meremehkan Meta lalu kembali mengubah posisinya dengan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Meta mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya ke tepi mulutnya, menyuruh Klandra untuk diam. “Jangan ngadi-ngadi kalau ngomong. Kalau aku nunjukin kami ada hubungan selama ini. Lu bisa bayangin ga apa yang terjadi? Pergi ke kantor rektorat, lalu lihat bagian kemahasiswaan, cek jumlah mahasiswi yang ada disana, maka sebanyak itulah musuh aku dan sebanyak itulah orang-orang akan mencelakai aku. Hal ini jelas saja aku tidak mau, daripada mengumbarnya, mending diam-diam saja dan hal ini juga sudah di sepakati oleh Bang Briyanda. Jadi kenapa aku harus risih, mungkin saja itu temannnya dan wanita itu sejenis wanita lintah yang hobi menempel. Jadi kenapa aku harus khawatir. Disaat pria seperti itu bisa menikahi aku padahal ada begitu banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Dari semua itu lagi-lagi kenapa harus aku. Itu menandakan kalau aku menang telak dalam hal ini.”
“Tapi kenapa lu mau sama dia? Apa yang bisa lu dapatkan dari manusia modelan Briyanda. Anak itu begitu dingin, irit banget ngomongnya bahkan dia sudah pernah mempermalukan lu di kelas. Semua anak teknik tau kejadian lu di usir sama Briyanda.”
Meta menggelengkan kepalanya dan memposisikan duduknya sama dengan Klandra. “Kita tidak tau kepada siapa akan hati ini berlabuh, aku menyukai dia, mencintai dia. Jadi aku harus gimana kalau bukan memperjuangkan dan mempertahankan perasaan ini. Lagian dia juga mencintai dan menyukai aku juga. Dimana letak salahnya?”
“Salah, kalau dia mencintai lu tapi masih bisa jalan dengan wanita lain, terlepas itu hanyalah teman, tapi cara mereka jalan saja sudah salah. Akan ada gosip baru yang muncul akan Hera dan juga Briyanda kelaknya. Ini hanya tinggal menunggu waktu saja, mengingat kalau akun gosip sudah turun tangan maka semua akan pada tau”
“Aku tidak peduli akan gosip yang beredar. Aku percaya kalau Bang Briyanda tidak akan main belakang denganku. Terserah dia mau bagaimana diluar, cuma satu hal yang aku tau. Kemanapun dia berkelana, mau sejauh apapun di bersembunyi akan tetapi jalan pulangnya selalu kepadaku. Aku bukan tipikal wanita yang dengan mudah cemburu atau mengekang dia. Karena aku juga melakukan hal yang sama. Lihatlah, aku bertemu dengan kamu hari ini, akan tetapi aku tidak memberitahukannya kepada Bang Briyanda. Jadi berhentilah meragukan pernikahan kami”
Semua kata demi kata yang di ucapkan Meta mengalir begitu saja bahkan tanpa ada konsep sama sekali yang dia buat lebih dahulu. Meta berharap kalau Klandra bisa mempercayai hal ini. Jika tidak, dia tidak hanya kehilangan Mickey, tapi dia juga akan mengalami hutang yang semakin menumpuk dimana harus membayar denda atas taruhannya jika di depati sebanyak empat puluh lima persen dari harga barang taruhan.
“Tapi tetap saja aku meragukannya. Ini terlalu aneh dan juga terlalu tiba-tiba. Tidak ada masuk akalnya sama sekali” kukuh Klandra.
“Terserah lu mau berkata apa. Tapi yang jelas pernikahan kami sah. Hanya saja aku tidak memiliki buku remsi yang di akui pemerintah saja kalau kami memang sudah menikah. Lagian kamu menikah tidak perlu minta restu dari lu sebenarnya. Emag lu siapa?” Meta kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan bosomnya. “Jadi maaf, aku tidak peduli sama sekali dengan apa yang lu katakan”
Demi apapun itu, ingin sekali saat ini Meta bertemu dengan Briyanda dan berbicara dengan pria itu. Dia tau dengan jelas bagaimana Klandra itu seperti apa. Pria ini tidak akan mudah percaya, jika saja Klandra bisa mengendus sesuatu kalau mereka menikah sesudah taruhan itu dibuat, maka habislah Meta.
“Kata siapa aku tidak peduli sama sekali akan hal ini. Jelas saja aku sangat peduli karena ini menyangkut taruhan yang sudah kita buat. Asal lu tau, aku ingin banget buat lu ga akan race lagi dijalanan.” Ancam Klandra dan kemudian memberikan sebuah senyuman seringainya itu.
Meta mendenguskan nafas kasarnya. Benar saja, Klandra tidak akan menyerah dengan mudahnya. Meta harus kebih berhati-hati lagi saat ini.
Bang briyanda, kali ini abang harus menjelaskan kepada aku siapa wanita itu.