Sore harinya setelah Meta selesai melakukan asistensi gambar bangunan, Meta tidak langsung pulang ke rumahnya. Akan tetapi dia menyempatkan dirinya untuk singgah ke sebuah cafe yang menjadi tempat dirinya bekerja part time. Beruntung dirinya yang memiliki bos begitu baik, membuat dia bisa mendapatkan kelonggaran selama beberapa hari hingga lututnya ini kembali pulih. Tidak masalah kalau Meta harus bekerja apa di café tersebut, selagi itu pekerjaan yang positif dan juga halal.
Pembeli hari ini cukup dalam kategori yang ramai. Tapi Meta sama sekali tidak merasa kelelahan kala dirinya hanya duduk saja didepan meja kasir.
Tak terasa waktu hampir masuk tengah malam. Akan tetapi café yang Meta jadikan sebagai sumber penghasilan baginya ini belum juga tutup. Mengingat cafenya ini akan tutup pukul dua pagi. Jadi masih ada yang sekedar nongkrong ngopi disini selama dua jam sebelum cafenya tutup.
Semilir angin berhembus dengan kencang, padahal ini bukanlah musim dimana angin berhembus dengan begitu kuatnya. Pancaran dari lampu-lamu yang menggantung sebagai penerangan itu menyinari sesosok pria yang berjalan mendekat. Saat sebuah sepatu skets berlogo Bintang berwarna hitam putih itu melangkah, membuat beberapa wanita yang masih nongkrong disana menatap dengan penuh kagum akan sosok itu. Figurenya menjadi magnet yang begitu kuat bagi kaum hawa.
Sebuah kaos hitam yang di lapisi dengan sebuah jaket jeans berwarna sky blue itu berjalan dengan begitu wibawa dan penuh maskulinitas. Wajahnya terlihat dingin dan juga tegas. Rambutnya yang dibelah tengah bergelombang itu senada dengan alisnya berwarna cinnamon highlight.
Tepi mulut tipis yang berbentuk huruf m itu terlihat mengerucut kesal, seakan tidak ingin memperlihatkan ke ramahan disana. Karena nyatanya memang tidak pernah ada yang melihat bahwa bibir itu melengkung ke atas seakan itu adalah sebuah dosa untuk dia lakukan. Tubunya terlihat begitu tegap dan tinggi, dimana dibalik lapisan kain di kenakannya pasti terselip sebuah lekukan otot nan indah disana hasil latihannya tekunnya gym.
Meta yang masih duduk diposisinya itu bisa melihat dengan jelas pria yang berjalan mendekat ke arahnya itu. Pria yang saat ini sudah menjadi bagian dari hidupnya dan membuat dia ketar-ketir saat di kampus tadi. Setibanya pria itu tepat di hadapannya, Meta kemudian melayaninya dengan ramah. Melupakan status mereka sejenak bukan hanya sebagai pembeli saja. “Selamat datang Bang. Mau pesan apa? Kami menyediakan beberapa menu rekomendasi dari Café Bintang. Semua itu bisa Abang lihat disini” Meta lalu menunjuk daftar menu mereka dengan begitu ramahnya. Hal yang memang biasa dia lakukan.
Senyuman Meta mengembang dengan begitu lebarnya. Akan tetapi, dia tidak bisa meluluhkan manusia super dingin yang ada di hadapahnnya ini. “Maaf, Abang mau pesan apa?” Tanya Meta mengingatkan kembali.
“Aku pesan ini” ucap Briyanda dengan nada sangat dingin sembari menunjuk salah satu menu yang ada disana.
“Baik, satu gelas kopi robusta dingin” ucap Meta yang berusaha memberi tahu rekannya yang bertugas untuk membuat minuman dan kemudian menoleh kembali ke Briyanda. “Tiga puluh lima ribu”
“Bukan satu, tapi dua puluh buah” ucap Briyanda. Meta yang mendengarnya kemudian terdiam sejenak.
“Maaf. Berapa Bang?” ulanginya yang masih tidak yakin.
“Gak punya telinga?” bukannya menjawab Briyanda malah bertanya kembali.
“Dua puluh buah ya Bang.” Meta kembali menoleh ke rekan kerjanya tadi. “Dua puluh buah Bang Rey”
“Dua puluh dikalikan tiga puluh lima ribu. Jadi totalnya tujuh ratus ribu” Ucap Meta dengan ramahnya. Dia senang kalau pelanggannya begitu royal mengeluarkan uang begini. Meta mengulurkan tangannya ke arah Briyanda untuk meminta uangnya.
Namun Briyanda menaikkan sebelah sudut bibirnya ke atas. Sangat tipis dan begitu cepat, bahkan Meta seakan tidak yakin dengan apa yang dia lihat barusan. Apakah itu sebuah kenyataan atau hanyalah khayalan dari briyanda saja. “Maaf Bang, uangnya mana?”
Briyanda menggelengkan kepalanya. “Kalau aku gak mau bayar gimana?”
Meta terdiam sejenak menatap pria yang ada di hadapannya ini bingung. Uang sebegitu banyak mana mungkin dia miliki. “Jangan ngadi-ngadi ya” kesal Meta namun dengan suara yang pelan. Dia takut salah satu rekannya ini mendengar kalau dia sangat tidak sopan dengan pelanggan.
Briyanda hanya menaikkan kedua bahunya. “Aku tidak bercanda sama sekali”
“Bang..” rengeknya dengan wajah memelas. Dia lalu melirik seorang pria yang mengantri dibelakang Briyanda. “Jangan mempersulit kenapa” keluhnya. “Dibelakang abang masih ada orang”
“Aku akan bayar tapi dengan satu syarat” ucap Briyanda santai.
Meta menghela nafasnya dengan lelah. “Syarat apa lagi sih bang. Ini bukan di kampus ya.”
“Mau dibayar gak?” Ancaman Briyanda kali ini membuat Meta pasrah.
“Ya udah cepetan apa?”
“Kamu ikut aku” Briyanda kemudian menoleh ke arah sudut ruangan dimana meja tersebut tidak di tempati sama sekali. “Saya akan tunggu kamu disana”
Meta menganggukkan kepalanya sebagai persetujuannya. Briyanda yang yakin itu sebagai tanda setuju segera saja duduk di meja yang sudah dia tunjuk.
“Bang Kai, aku mau bicara sebentar sama teman aku. Izin bentar ya Bang” izin Meta ke Kai yang merupakan rekan kerja dari Meta. Kai yang menyetujuinya membuat Meta segera saja berjalan mendekat ke arah Briyanda yang kini menatap dirinya sangat begitu dingin.
Lututnya yang masih diberi alat pelindung itu jelas aja membuat Meta kesusahan duduk. Namun Briyanda bukannya membantu. Pria itu hanya melihat Meta yang kesusahan untuk duduk. Tapi Meta tidak bisa mengungkap kekesalannya dengan begitu mudahnya. Dia harus bisa meredam amarahnya sebaik mungkin saat ini.
“Maaf Bang, ada perlu apa apa manggil aku?” tanya Meta pelan.
Briyanda lalu berdecih, menyipitkan matanya menatap Meta kesal. “Tidak ramah sekali wajah kamu dengan aku saat in, tadi ramah banget”
Meta seketika menarik kedua sudut bibirnya. Sebuah senyuman iblis dimana jiwanya ingin memberontak dengan kerasnya untuk memaki pria yang ada dihadapannya ini. “Kan tadi aku harus beramah tamah dengan pembeli. Kalau tau aku tidak ramah, bisa di pecat aku yang ada Bang. Penghasilan dari sini sangat menggiurkan, tentu saja aku harus bekerja disini.”
“Pencitraan, untung aku sudah rekam percakapannya” Briyanda lalu menggoyangkan ponselnya dihadapan Meta.
“Tega banget sih Bang. Ini adalah salah satu mata pencarianku. Kenapa Abang begitu tega.” Amarah Meta yang menggebu itu kini sudah menghilang di gantikan dengan raut wajah sedihnya.
“Kenapa kamu mengabaikan pesan aku?” ucap Briyanda yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Meta mengernyitkan dahinya mendengar apa yang di katakan Briyanda barusan. Dia mengabaikan pria ini, yang benar saja. Sudah jelas ponselnya rusak. Jadi untuk saat ini dia tidak memiliki ponsel.
“Bukan mengabaikan, akan tetapi ponsel saya sekarang sedang rusak. Jadi bagaimana mungkin saya mengabaikan pesan Abang” Jawab Meta.
“Kirain lagi ga mau di ganggu dengan pria lain” ucapan dari Briyanda kali ini jelas saja mengundang tanda tanya bagi Meta.
“Pria lain apa sih? Apa Bapak kira saya selingkuh gitu? Yang benar saja.” Meta memutar bola matanya dengan kesal. Tapi kekesalan Bintang kali ini bersambung dengan sesuatu yang begitu aneh.
Tunggu, Meta tau kalau ini sudah malam, matanya juga mulai mengantuk sebenarnya. Tapi Meta masih bisa melihat dengan jelas kalau kedua sudut bibir yang selalu tampak datar itu akhirnya melengkung ke atas walau sangat tipis dan secepat capung mencelupkan ekornya. Namun Meta yakin kalau pria yang sedingin freezer Abang-Abang penjual makanan beku ini tersenyum.
Aku gak halu, nih Abang kullkas dua puluh pintu kenapa senyum?
Apa ada sesuatu dimukaku?
Meta yang merasa kalau ada sesuatu di wajahnya kemudian berusaha menyeka wajahnya itu. Sementara pria yang ada di depannya ini mendenguskan nafas kasarnya sembari menggelengkan kepalanya. “Pergi kembali kerja sana. Aku akan menunggu kamu disini” Briyanda kemudian meronggoh sebuah kartu dan menyerahkannya kepada Meta. “Bayar minuman tadi pakai kartu ini” Meta yang dengan polosnya mengedipkan matanya menatap Briyanda heran.