Bukankah Itu yang Namanya Cemburu

1275 Words
        Sebuah kartu kini sudah berada di tangan Meta. Dia kemudian menatap kartu ATM itu dengan bingung. “Kartu siapa ini Bang?” tanya Meta dengan polos.                “Ga bisa lihat?” Jawab Briyanda masih dengan raut wajah khasnya yang sangat datar.                “Aku tau ini ATM, apa lagi yang harus aku lihat. Aku hanya penasaran dari mana Abang bisa mendapatkan uang didalam kartu ini. Abang ngaku sama aku, kalau selama ini Abang ikut sebuah usaha yang tidak halal ya? Ngucap Bang. Itu bukan tindakan yang baik, akan ada dimana nanti Abang mendapatkan karma karena sudah mengambil hak bukan milik Abang. Dosa Bang, dosa” ucap Meta lalu menggelengkan kepalanya.                “Kamu punya cermin tidak? Kalau punya cermin, berkaca dahulu”                “Lah? Buat apaan Bang. Sampai kapanpun aku tidak akan terlihat cantik seperti wanita yang ada di luar sana.” jawab Meta dengan santai.                “Untuk masalah memandang keindahan fisik, kalau itu sudah jelas kamu kalah telak” jawab Briyanda dengan malas.                “Kalau bukan itu lalu apa Bang?” kesal Meta. Walau jawaban itu sebenarnya tidak menyakitkan bagi Meta, akan tetapi akan menjadi meyakitkan serta menyedihkan ketika sudah di ucapkan oleh Briyanda.                 Briyanda menghela nafasnya. “Kamu itu hanya pandai menasehati aku saja. Katanya aku tidak mau mendengar penjelasan orang lain dikampus, tapi nyatanya kamu sendiri yang tidak ingin mendengar apapun yang orang lain jelaskan”                Meta menyernyitkan dahi menatapnya. “Kata siapa aku berperilaku buruk tidak mendengarkan ucapan orang sama sekali. Itu hanya perasaan Abang saja.” jawab Meta yang jelas saja tidak mau disalahkan.                “Benarkah kalau itu hanya perasaan dari aku saja? Tapi kamu tidak ingin mendengar dari mana uang di ATM itu dan malah menuduhku” ucap Briyanda dimana hal ini jelas saja membuat Meta seketika terdiam. Dia baru menyadari apa yang dikatakan Briyanda itu benar adanya.                Meta mengusap belakang tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyuk kikuk. “Maaf, jadi darimana Abang mendapatkan uangnya?”                “Bekerjalah, kamu kira darimana”                  “Iya tau bekerja, tapi kerja apa?” Tanya Meta.                “Kepo banget” Meta mendenguskan nafanya dan mengusap wajahnya kasar. Percuma saja kalau gitu dia bertanya.                            “Tunggu sebentar, aku akan membawa mesin EDC kesini” Meta yang kesusahan berdiri itu, memaksakan tubuhnya untuk tegak dan berjalan ke arah kasir, mengambil mesin EDC dimana itu sebagai alat untuk melakukan pembayaran antar bank dan menyerahkannya kepada Briyanda. “Isi passnya”                Briyanda kemudian menenkan enam buah digit angka dan menyerahkannya ke Meta. Melihat pembayaran sudah sukses, Meta lalu mengembalikan alatnya kembali ke meja kasir lalu berjalan lagi ke arah dimana Briyanda duduk.                Sejujurnya ini sangat menyusahkan dirinya dimana keadaan seperti sekarang ini, dia harus bolak balik. Tapi demi Briyanda, yang dimana membeli dengan jumlah tidak sedikit, membuat Meta harus menahan amarahnya itu untuk tidak keluar. Mengalah sedikit baginya tidak masalah selagi itu mendapatkan benefit.                Meta mengerucutkan tepi mulutnya kesal sembari menatap Briyanda. Sedangkan yang ditatap hanya menaikkan sebelah alisnya. “Masih lama lagi kamu bekerja?”                “Ada hal apa Abang datang kesini?” Meta bukannya menjawab, dia malah mengalihkan pembicaraan. “Ini sudah malam dan juga kenapa Abang membeli begitu banyak minuman”                “Kalau aku bertanya itu di jawab, bukannya bertanya balik” ucap Briyanda.                “Biarin, lagian ini bukan area kampus. Jadi terserah aku mau melakukan apapun itu.” Kesal Meta yang tiba-tiba teringat dengan sikap Briyanda di kampus tadi. Dia bukannya cemburu atau apa. Hanya saja. Pria itu bisa sedikit lebih bermain halus jika memang ingin berkencan dengan seorang wanita.                Mendengar Meta yang berbicara ketus, Briyanda mengernyitkan dahinya. “Kenapa kamu marah tiba-tiba? Aku sudah membeli begitu banyak minuman di café kamu, terimakasih atau apa gitu? Terlebih kali ini aku banyak mengeluarkan kata-kata.”                Apa Meta akan luluh dengan yang dikatakan Briyanda, jelas saja tidak. Dia tidak peduli sama sekali ketika Briyanda banyak mengeluarkan kata-katanya. Dia memutar bola matanya dengan malas, mengalihkan pandangannya ke samping. “Dih, lagian aku sama sekali tidak ada menyuruh abang untuk membeli minuman sebanyak itu disini”                “Katakan kepadaku, pasti ada satu hal yang membuat kamu marah bukan?” Tanya Briyanda yang kini dia merasa bahwa Meta marah kepadanya pasti ada satu hal yang tidak dia ketahui.                “Entahlah, aku tidak tau dan aku tidak mau tau serta tidak peduli” merajuk Meta.                “Aku bukan cenayang, Meta. Aku tidak tau kesalahan aku dimana kalau kamu sama sekali tidak ingin mengatakannya.” Briyanda yang awalnya tidak kesal, kini sedikit terpancing emosinya dengan kelakuan Meta saat ini. Bagi dirinya, apa sesusah itu untuk Meta mengatakannya.                Meta masih saja bersikap acuh, enggan untuk melihat ke arah Briyanda. Keduanya kemudian hening dan hanya di temani suara musik dan juga suara pengunjung lainnya. “Jadi kamu tidak mau mengatakannya?” tanya Briyanda sekali lagi.                Dengan raut wajah kesal, Meta akhirnya mau memalingkan wajahnya, menatap Briyanda. “Abang ngeselin banget tau”                Sejenak, kekesalan yang dirasakan Briyanda itu berubah menjadi tawa. Meta yang melihatnya semakin mengernyitkan dahinya. “Kenapa Abang ketawa? Aku tidak melakukan sesuatu menjadi bahan tawa ya”                Namun ekspresi Briyanda yang terlihat tertawa kecil itu berubah menjadi Briyanda yang kembali dingin. Dalam hati Meta, dia tidak menyangka kalau Briyanda itu sangatlah begitu aneh. Sebentar ketawa sebentar kembali lagi mode dingin kulkas dua puluh pintunya itu.                “Abang aneh” ucap Meta.                “Jika kamu dengan mudahnya bisa mengatakan aku aneh. Lalu kenapa susah bagi kamu mengatakan alasan kamu marah kepadaku?” tanya Briyanda.                “Baiklah, aku akan mengatakannya” ucap Meta berani. “Aku tidak peduli sama sekali kalau Abang sudah memiliki yang namanya kekasih. Tapi satu hal yang harus Abang tau, Abang jangan seenak saja pacaran di depan umum. Abang juga harus menjaga bagaimana Klandra tidak akan pernah mengetahui kalau Abang sedang berpacaran. Tau ga sih, aku dan si pria menyebalkan itu melihat Abang dengan seorang wanita namanya—” Meta terdiam sejenak berusaha mengingat namanya. “—Hera. Saat kalian engah jalan berdua, mana tangannya Hera manis banget lagi di tangan Abang”                Bukannya memberi jawaban, akan tetapi Briyanda terdiam, mengernyitkan dahinya. Wajahnya itu kini menggambarkan kalau dirinya sedang berpikir.                ‘”Sudahlah, aku yang salah. Aku yang mengajak Abang untuk menikahiku tanpa memperdulikan Abang sudah memiliki kekasih atau belum” ucap Meta.                Keduanya kembali hening dimana Meta kini menatap pria yang sedang bernyanyi di panggung, sementara Briyanda menatap Meta. “Jangan lihat-lihat aku lama-lama. Disana tidak ada tertulis bahan laporan untuk Abang tanyakan sebagai bahan asistensi” ketus Meta.                “Hera, dia bukan siapa-siapa” akui Briyanda.                “Gak baik kalau kekasih sendiri tidak diakui Bang, Jika dia mendengar hal ini, Hera pasti akan terluka”                Briyanda mencondongkan tubuhnya menatap Meta sembari tersenyum “Apa saat ini kamu sedang cemburu kepadaku”                Meta berdecih. “Aku cemburu? Cih, yang benar saja. Jika Abang adalah Mew, maka aku akan cemburu parah hingga aku tidak sadarkan diri” Meta akhirnya menolehkan kepalanya dan menatap Briyanda. “Aku hanya tidak suka kalau Abang jalan sama wanita lain”                “Bukankah itu yang namanya cemburu?”                Meta melihat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak, aku tidak cemburu sama sekali. Hanya saja saat ini aku ingin menjaga pikiran dari Klandra, kalau aku dan Abang itu memang sudah menikah. Bukan hanya sandiwara yang selama ini dia pikirkan. Tapi apa yang Abang lakukan tadi, malah membuat Klandra kembali berpikir kalau aku dan Abang hanyalah menikah palsu setelah sejauh ini aku lakukan. Mana Hera, kalau ada waktu Abang bisa kenalin aku dengannya. Aku akan bicara kepadanya kalau aku sama sekali tidak akan merebut Abang darinya, terserah kalian mau berpacaran dimanapun, tapi pastikan kalau Klandra tidak mengetahuinya sama sekali”                           “Itu tidak akan pernah terjadi” jawab Briyanda yang begitu dingin kali ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD