bc

Pernikahan Tidak Sempurna

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
family
forced
friends to lovers
tragedy
bxg
city
childhood crush
secrets
like
intro-logo
Blurb

Raisa tidak pernah menyangka bahwa perjodohan akan membawanya pada sebuah perasaan yang begitu dalam.Awalnya, ia sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun kepada Tristan. Pernikahan itu hanyalah sebuah ikatan yang harus dijalani demi keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, hati Raisa perlahan berubah. Perasaan yang awalnya tidak ada tumbuh menjadi cinta yang tulus—bahkan jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.Sayangnya, cinta Raisa tidak pernah cukup untuk membuat Tristan jatuh cinta kepadanya.Di balik sikapnya sebagai seorang suami, Tristan masih sering mencari kenyamanan pada wanita lain. Ia menyebut mereka sebagai “adik”, seolah-olah panggilan itu cukup untuk menyembunyikan hubungan yang sebenarnya. Raisa tahu. Ia melihat semuanya. Namun, ia memilih diam, berharap suatu hari nanti Tristan akan menyadari keberadaannya dan belajar mencintainya.Hingga akhirnya, hari pernikahan mereka tiba.Di hadapan keluarga dan Tuhan, Tristan dan Raisa mengucapkan janji suci. Raisa percaya, mungkin pernikahan ini akan mengubah Tristan. Mungkin setelah menjadi suaminya, Tristan akan berhenti mencari wanita lain. Mungkin akhirnya, ia akan belajar mencintai Raisa.Namun, harapan itu kembali hancur.Tristan masih tetap sama.Di dalam pernikahan yang seharusnya menjadi tempat pulang, Raisa justru merasa semakin sendirian. Ia terus bertahan demi cinta yang hanya ia perjuangkan seorang diri.Lalu, sampai kapan Raisa mampu bertahan?Akankah cinta mampu menyelamatkan pernikahan yang sejak awal tidak sempurna?Atau, pada akhirnya, berpisah adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan hati yang terlalu lama terluka?

chap-preview
Free preview
Bab 1 perjodohan
“Raisa, turun sebentar. Ayah ingin bicara.” Suara Ibu terdengar dari balik pintu kamar. Raisa yang sedang duduk di depan meja rias menghentikan gerakan tangannya. Sejenak, ia menatap pantulan dirinya di cermin. “Sekarang, Bu?” “Iya. Sekarang.” Nada suara ibunya membuat Raisa mengernyitkan kening. Biasanya, jika hanya ingin berbicara, ibunya akan masuk ke dalam kamar. Namun kali ini, wanita itu hanya berdiri di balik pintu dan memintanya turun. Ada sesuatu. Raisa menghela napas pelan sebelum bangkit dari kursinya. Ia merapikan rambut panjangnya yang tergerai, lalu berjalan keluar kamar. Rumah mereka terasa lebih ramai dari biasanya. Begitu menuruni tangga, Raisa langsung melihat beberapa orang duduk di ruang tamu. Ayah dan ibunya berada di sofa utama. Di hadapan mereka, duduk sepasang suami istri yang wajahnya cukup familiar. Raisa berhenti di anak tangga terakhir. Lalu, matanya jatuh pada seorang pria yang duduk di samping kedua orang tuanya. Tristan. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak tenang, nyaris tanpa ekspresi. Ia duduk dengan sikap santai, seolah kedatangannya ke rumah Raisa bukanlah sesuatu yang penting. Raisa sudah mengenalnya. Tidak dekat. Namun, mereka pernah beberapa kali bertemu. Tristan adalah putra dari keluarga yang cukup dekat dengan keluarga Raisa. Mereka pernah bertemu di beberapa acara keluarga dan pertemuan bisnis. Namun, sejauh yang Raisa tahu, hubungan mereka hanya sebatas kenalan. Jadi, mengapa Tristan ada di rumahnya malam ini? “Raisa, kemarilah,” panggil ayahnya. Raisa menelan ludah. Ia berjalan mendekati ruang tamu, kemudian duduk di samping ibunya. “Ada apa?” tanyanya. Ayahnya menatapnya cukup lama. Tatapan itu membuat Raisa semakin tidak nyaman. “Raisa, Ayah dan Ibu ingin membicarakan sesuatu.” “Bicara saja.” Ibunya menggenggam tangan Raisa. Sentuhan itu membuat perasaan tidak enak di dalam d**a Raisa semakin kuat. Ayahnya menarik napas panjang. “Kamu tahu keluarga Pratama?” Raisa melirik kedua orang tua Tristan. “Tahu.” “Dan kamu juga mengenal Tristan?” Raisa kembali menoleh kepada pria di hadapannya. Tristan sedang menatapnya. Mata mereka bertemu. Untuk sesaat, Raisa merasa ada sesuatu yang aneh. Namun, Tristan segera mengalihkan pandangannya, membuat Raisa mengerutkan kening. “Kenal,” jawab Raisa singkat. Ayahnya mengangguk. “Kalau begitu, Ayah rasa semuanya akan lebih mudah.” “Lebih mudah untuk apa?” Tidak ada yang langsung menjawab. Raisa menatap satu per satu orang di ruang tamu. Kemudian, ayahnya berkata, “Kami ingin menjodohkanmu dengan Tristan.” Raisa terdiam. Seolah-olah kalimat itu baru saja membuat seluruh suara di ruangan menghilang. “Maaf?” “Kamu dan Tristan akan menikah.” Raisa tertawa kecil. Bukan karena merasa lucu. Melainkan karena ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Ayah bercanda?” “Tidak.” “Ini bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan bercanda.” “Ayah tahu.” “Lalu kenapa Ayah mengatakan hal seperti itu?” Raisa menatap ayahnya dengan wajah tidak percaya. Ibunya menggenggam tangannya lebih erat. “Raisa, dengarkan dulu penjelasan Ayah.” “Penjelasan apa? Aku bahkan baru tahu kalau aku akan menikah malam ini!” “Pernikahan ini sudah dibicarakan sejak beberapa waktu lalu.” Raisa terdiam. Kemudian, perlahan ia menoleh kepada ibunya. “Sudah dibicarakan?” Ibunya menunduk. “Kenapa aku tidak tahu?” “Karena kami tahu kamu akan menolak.” “Memang aku akan menolak!” Suara Raisa meninggi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa orang tuanya akan mengambil keputusan sebesar itu tanpa memberitahunya. Terlebih lagi, keputusan tersebut menyangkut hidupnya. Pernikahan. Dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah ia pikirkan sebagai calon suami. Raisa menoleh kepada Tristan. Pria itu masih duduk dengan tenang. Terlalu tenang. Seolah-olah semua ini tidak berhubungan dengannya. “Dan kamu?” tanya Raisa. Tristan mengangkat pandangannya. “Aku kenapa?” “Kamu tahu tentang ini?” “Ya.” “Sejak kapan?” “Beberapa minggu lalu.” Raisa menatapnya tidak percaya. “Dan kamu tidak merasa perlu memberitahuku?” Tristan mengangkat bahu. “Kita bukan siapa-siapa.” Jawaban itu membuat Raisa terdiam. Benar. Mereka memang bukan siapa-siapa. Mereka hanya dua orang yang kebetulan saling mengenal. Lalu, mengapa sekarang mereka harus menikah? “Jadi, kamu setuju?” tanya Raisa. Tristan tidak langsung menjawab. Ia bersandar pada sofa, lalu menatap Raisa dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Pernikahan ini tidak terlalu buruk.” Raisa hampir tertawa. “Tidak terlalu buruk?” “Ya.” “Karena yang akan menikah adalah aku dan kamu, bukan orang lain.” “Aku tahu.” “Lalu bagaimana kamu bisa menganggapnya tidak terlalu buruk?” “Karena aku tidak punya alasan untuk menolaknya.” Raisa memandangi Tristan dalam diam. Pria itu benar-benar berbeda dari apa yang ia bayangkan. Dingin. Tenang. Dan terlalu mudah menerima sesuatu yang seharusnya menjadi keputusan terbesar dalam hidup seseorang. “Kalau aku menolak?” Kali ini, ayah Raisa yang menjawab. “Raisa.” “Aku bertanya. Kalau aku menolak?” Ayahnya terdiam. Raisa tahu dari ekspresi wajah ayahnya bahwa jawabannya tidak akan menyenangkan. “Perusahaan keluarga sedang menghadapi masalah.” Raisa membeku. “Apa?” “Beberapa bulan terakhir, kondisi perusahaan tidak sebaik yang kamu pikirkan.” “Kenapa aku tidak tahu?” “Kami tidak ingin membuatmu khawatir.” Raisa menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin kacau. “Jadi, pernikahan ini karena perusahaan?” “Tidak sepenuhnya.” “Tapi itu salah satu alasannya.” Ayahnya tidak menjawab. Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban. Raisa mengepalkan tangannya. Ia merasa seperti sedang dijadikan alat untuk menyelamatkan sesuatu. “Kalau aku menikah dengan Tristan, keluarga Pratama akan membantu perusahaan?” Ibunya menundukkan kepala. Raisa tertawa kecil. “Luar biasa.” “Raisa—” “Jadi, sebenarnya ini bukan perjodohan. Ini kesepakatan.” “Jangan berkata seperti itu.” “Bukankah memang begitu?” Tidak ada yang menjawab. Raisa berdiri. “Aku tidak mau.” “Raisa.” “Aku tidak mau menikah hanya karena perusahaan.” “Berikan kami waktu.” “Berapa lama?” Ayahnya terdiam. Raisa menggeleng. Ia tidak ingin menangis. Bukan di depan mereka. Terlebih lagi di depan Tristan. Namun, rasa kecewa di dadanya semakin besar. Ia merasa dikhianati. Orang tuanya telah merencanakan masa depannya tanpa pernah bertanya apa yang ia inginkan. “Raisa.” Suara Tristan membuatnya berhenti. Raisa menoleh. Tristan masih duduk di tempatnya. “Apa?” “Pernikahan ini tidak harus seperti yang kamu pikirkan.” Raisa tertawa tanpa humor. “Lalu seperti apa?” “Kita bisa membuat kesepakatan.” “Kesepakatan?” “Kita menikah. Kamu tetap menjalani hidupmu. Aku juga tetap menjalani hidupku.” Raisa menatapnya. “Jadi, kita menikah tetapi hidup masing-masing?” “Kurang lebih.” “Dan kamu pikir itu akan berhasil?” “Aku tidak tahu.” “Lalu kenapa kamu setuju?” Tristan menatapnya cukup lama. “Karena aku tidak percaya pada cinta.” Jawaban itu membuat Raisa terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Tristan berubah. Hanya sedikit. Namun, Raisa bisa melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang tampak seperti luka. “Kalau begitu, kenapa menikah?” tanya Raisa pelan. “Karena pernikahan tidak selalu membutuhkan cinta.” Raisa tidak tahu harus menjawab apa. Ia selalu percaya bahwa pernikahan seharusnya dibangun oleh cinta. Dua orang yang saling mencintai. Dua orang yang memilih satu sama lain. Namun, Tristan justru menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang bisa dilakukan tanpa perasaan. “Kalau aku menolak?” “Kamu bebas.” Jawaban Tristan begitu cepat. Raisa kembali menatapnya. “Benarkah?” “Benar.” “Kalau aku menolak, kamu tidak akan memaksaku?” “Tidak.” Untuk sesaat, Raisa merasa lega. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama. Ia melihat wajah ayah dan ibunya. Ayahnya yang selama ini selalu terlihat kuat kini tampak begitu lelah. Ibunya menggenggam tangannya dengan mata berkaca-kaca. Raisa memejamkan mata. Ia benci berada dalam posisi ini. Benci karena harus memilih antara kebahagiaannya dan keluarganya. Benci karena tidak ada pilihan yang benar-benar terasa benar. “Berikan aku waktu,” ucap Raisa akhirnya. Ayahnya mengangguk. “Baik.” Raisa berbalik dan berjalan menuju tangga. Namun, sebelum naik, ia mendengar suara Tristan. “Besok aku akan datang lagi.” Raisa menoleh. “Untuk apa?” “Untuk mendengar jawabanmu.” “Dan kalau jawabanku tidak?” Tristan menatapnya. “Kalau begitu, aku akan pergi.” Raisa tidak menjawab. Ia hanya menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, Raisa langsung bersandar di baliknya. Dadanya terasa sesak. Ia berjalan menuju jendela dan membukanya. Udara malam menyentuh wajahnya. Di luar, lampu-lampu kota terlihat berkilauan. Semuanya tampak begitu indah. Namun, tidak dengan hidupnya. Raisa memejamkan mata. Menikah dengan Tristan. Satu kalimat itu terus berputar di kepalanya. Ia bahkan tidak mencintai pria itu. Tidak ada perasaan apa pun. Tidak ada jantung yang berdebar ketika melihatnya. Tidak ada keinginan untuk selalu berada di dekatnya. Tidak ada alasan untuk menikah. Namun, saat Raisa mengingat wajah ayahnya, hatinya kembali terasa sakit. Ia tahu ayahnya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Dan ia tahu, jika perusahaan itu benar-benar jatuh, keluarganya akan kehilangan banyak hal. Raisa menundukkan kepala. “Kenapa harus aku?” Tidak ada jawaban. Malam itu, Raisa tidak tidur. Ia terus memikirkan semua hal yang terjadi. Hingga akhirnya, saat matahari mulai muncul dari balik jendela, Raisa mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya. --- Keesokan harinya, Tristan datang tepat pukul sepuluh pagi. Raisa sedang duduk di ruang tamu ketika pria itu masuk. Kali ini, ia mengenakan kemeja hitam dan celana panjang berwarna gelap. Wajahnya terlihat lebih dingin daripada malam sebelumnya. Tristan berhenti di hadapan Raisa. “Jadi?” Raisa menatapnya. “Aku setuju.” Untuk pertama kalinya, Tristan terlihat sedikit terkejut. “Serius?” “Ya.” “Kamu yakin?” “Tidak.” Tristan mengangkat alis. “Tidak?” “Aku tidak yakin. Tapi aku tetap akan melakukannya.” Tristan terdiam. Raisa berdiri. “Aku punya satu syarat.” “Apa?” “Jangan pernah memaksaku mencintaimu.” Tristan menatapnya. Raisa melanjutkan, “Dan aku juga tidak akan pernah memaksamu mencintaiku.” Hening. “Setuju.” “Selain itu, kita tidak boleh saling ikut campur dalam kehidupan masing-masing.” “Setuju.” “Dan kalau suatu hari salah satu dari kita merasa pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan…” Raisa berhenti. Tristan menatapnya. “Bercerai,” lanjut Raisa. Tristan mengangguk. “Setuju.” Raisa mengulurkan tangannya. “Kalau begitu, kita punya kesepakatan.” Tristan menatap tangan itu beberapa detik. Kemudian, ia menjabatnya. Tangan mereka bertemu. Dingin. Tidak ada perasaan. Tidak ada cinta. Hanya sebuah kesepakatan. Raisa tidak tahu bahwa hari itu adalah awal dari sebuah pernikahan yang akan membuatnya belajar tentang cinta. Cinta yang begitu dalam. Cinta yang begitu tulus. Dan cinta yang pada akhirnya akan menjadi luka paling besar dalam hidupnya. Karena terkadang, orang yang kita cintai tidak selalu menjadi orang yang memilih kita. Dan terkadang… Pernikahan tidak selalu berarti memiliki hati seseorang.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
800.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
374.8K
bc

Not just, the Beta

read
357.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook