ALINA KUSUMA PUTRI

1324 Words
Seorang wanita dengan celemek yang melingkari pinggangnya tampak sedang berkutat dengan berbagai bahan dan peralatan masak. Sedikit terburu-buru sebab ia terlambat pulang dari perkumpulan para istri prajurit. Perkumpulan tersebut tengah melakukan persiapan untuk re-organisasi mengingat cukup banyak anggota mereka harus pindah mengikuti para suami yang dimutasi ke luar kota bahkan luar pulau. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore yang berarti beberapa menit lagi sang suami akan tiba di rumah. Wanita itu memutuskan untuk membuat hidangan sederhana saja. Selama ini, sang suami tidak pernah melayangkan protes apapun tehadap apa yang ia masak. Beberapa menit kemudian, hidangannya telah siap tersaji di atas meja makan. Wanita tersebut tersenyum puas. Hingga kemudian suara ketukan pintu depan berhasil membuat dahinya mengerut. Ia yakin itu bukanlah sang suami sebab meskipun pintu dalam keadaan terkunci, prianya itu selalu membawa kunci cadangan. Diterpa rasa penasaran, ia memutuskan untuk melangkah ke depan. Segera setelah memastikan pekerjaannya tuntas dan kompor tidak lagi menyala. Begitu pintu terbuka, tapak 2 wanita yang pada saat di kantor merupakan anggotanya dalam perkumpulan para istri prajurit. Usianya masih muda, mungkin tidak lebih dari 27 tahun. "B-bu Alina." Seorang dari mereka menyapa dengan gugup. Yang dimaksud semakin mengerutkan keningnya melihat salah tingkah dari anak buahnya tersebut. "Iya, ada apa, Bu Dewi? Bu Kenanga?" tanya Alina dengan sopan. Meskipun umur kedua bawahannya itu lebih muda jauh darinya, tetapi Alina terbiasa menggunakan panggilan formal baik di kantor maupun di rumah. Wanita bernama Dewi itu menyerahkan piring saji di tangannya kepada Alina. Meskipun diliputi rasa heran, Alina tetap menerimanya. "Ini dalam rangka apa, Bu?" tanyanya usai menerima piring berisi tumpeng nasi kuning berukuran sedang tersebut, lengkap dengan lauknya. "Kami ingin memberikannya kepada Kolonel Evans, Bu." Kenangan terlebih dahulu menjawab sebelum Dewi. Alina semakin bingung dibuatnya sebab hari ini bukanlah hari ulang tahun sang suami atau hari apapun yang spesial untuk mereka. "Terima kasih, Bu Dewi dan Bu Kenanga. Tapi kalau boleh saya tahu maksudnya ini apa, ya? Apa kalian sedang melakukan acara syukuran dan saya tidak mengetahui?" "Tidak, Bu Alina. Kamu hanya ingin memberikannya pada Kolonel Evans." "Ada apa ini?" Suara yang terdengar sangat maskulin itu membuat ketiga wanita tersebut seketika mengalihkan pandangan mereka. "Ini lho Mas, Bu Dewi dan Bu Kenanga ingin memberikan makanan untuk kamu," ucap Alina menjawab pertanyan sang suami. Dengan tatapan datarnya, Evans hanya mengangguk sambil tersenyum sangat tipis. "Terima kasih. Kalau begitu kami permisi dulu." Tanpa berniat menunggu respon yang akan diberikan oleh kedua tamu yang tidak diundang tersebut, Evans meraih pundak Alina dan mengajaknya memasuki rumah. Dewi dan Kenanga hanya bisa meringis melihat betapa datar dan dinginnya sikap Evans. Tetapi hal itulah yang justru menjadi daya tarik dari pria berusia 37 tahun tersebut. Bisa dibilang, Evans merupakan tipikal pria yang banyak disukai wanita pada umumnya. "Huft, Bu Alina itu beruntung banget bisa dapetin Pak Evans. Udah ganteng, karirnya cemerlang, penyayang juga. Coba aja aku yang dapetin Pak Evans, lengkap sudah kebahagiaanku," bisik Kenanga saat sudah berada cukup jauh dari kediaman Evans. "Jelas aja Bu Alina bisa dapetin Pak Evans, ayahnya Bu Alina kan perwira tinggi. Duh, bisa kasih makanan buat Pak Evans aja udah seneng." Dewi menimpali dengan senyum semringahnya. Jelas saja sebab makanan tadi merupakan hasil karya dan idenya. Bukannya Kenanga tidak turut andil, Kenanga juga ikut ambil bagian dalam membuat hidangan tersebut, tetapi tidak sebanyak Dewi. Alina meletakkan makanan dari tamunya tersebut di atas meja makan sementara Evans memasuki kamar mereka untuk mandi dan membersihkan diri. Tak lama kemudian Alina menyusul Evans dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu. Alina Kusuma Putri sudah sangat kuat dalam menghadapi sikap dingin dan datar Evans selama 7 tahun ini. Ia tidak menyalahkan suaminya karena memang begitulah Evans menurut cerita ibu mertuanya. Alina juga mengerti sangat sulit untuk menerima orang yang sama sekali tidak kita duga akan menjadi pendamping hidup kita. Terlebih, perjodohan karena alasan klasik yang lebih mementingkan urusan pangkat dan jabatan. Tanpa saling mengenal, tanpa cinta, keduanya harus tetap mengarungi bahtera itu demi kebaikan bersama. Kisah Alina tidaklah berbeda jauh dengan Evans. Perbedaannya, sebelum menikah dengan Evan, Alina terlebih dahulu telah memiliki kekasih. Namun permintaan atau lebih tepatnya perintah sang ayah agar ia menikah dengan Evans sama sekali tidak bisa ia tolak. Alina sangat mengerti bagaimana kerasnya Anggara jika permintaannya itu tidak dituruti. Alina terpaksa memutuskan kekasihnya dulu yang bernama Mandala yang merupakan seorang pemilik hotel tempat di mana ia bekerja. Alina pernah bekerja sebagai chef dengan jabatan Chef de Partie yang bisa disebut juga supervisor chef. Posisi ayahnya yang merupakan seorang perwira tinggi dengan tingkat gengsi yang cukup tinggi membuat Alina tidak bisa mengambil pilihan lain. Itu sebabnya, Alina bisa bertahan dengan Evans selama ini karena ia sendiri juga tidak memiliki perasaan cinta pada pria tersebut. Tetapi bukan berarti Alina bermain-main dengan pernikahan mereka. Biar bagaimanapun didikan orang tuanya sudah mengalir pekat dalam darah Alina. Nama baik merupakan suatu harga mati yang harus ia jaga mati-matian. Alina akan tetap mempertahankan rumah tangganya meski sedingin apapun Evans padanya. Alina juga sangat mengerti bagaimana suaminya memiliki pesona yang mampu membuat banyak lawan jenis bertekuk lutut padanya. Terlebih saat Evans sedang melakukan olahraga di pagi hari. Tubuhnya yang biasanya hanya dbalut kaos polos hitam atau putih akan mampu menggoda iman kaum Hawa. Alina tidak menampik dan mempermasalahkan hal itu. Selama Evans tidak tergoda, ia tidak pernah peduli. Beberapa orang bahkan dengan terang-terangan mengajukan para anak gadis mereka agar Evans bersedia menikahinya. Namun Evans tetaplah Evans. Laki-laki berhati dingin itu juga menganggap semuanya hanya angin lalu. "Mau makan nasi tumpengnya?" tawar Alina pada Evans yang masih menikmati teh hangatnya. Dengan cepat Evans menggeleng, "Makan masakan kamu saja." Evans memang tidak terlalu menyukai makanan yang mengandung santan. Terlebih menurutnya, nasi kuning cocoknya dimakan saat pagi hari sebagai menu sarapan. Untuk makan malam, ia lebih menyukai makanan yang mengandung kuah dan sayur. Alina lantas mengambilkan makanan ke dalam piring Evans. Sore ini wanita itu memasak sop ayam jamur dengan lauk perkedel daging, makanan kesukaan Evans. Keduanya menikmati makan malam dengan hening karena memang seperti itulah yang terjadi selama ini. Evans dan Alina baru akan mengobrol saat menonton tayangan televisi atau kapanpun nanti asal bukan saat makan. "Tadi Ayah ke kantor" kata Evans memecah keheningan di antara mereka. "Ayah?" Kedua alis Alina bertaut. "Tumben banget. Ada masalah?" sambungnya ketika melihat sang suami mengangguk. "Hanya kunjungan biasa, sekalian kita di undang ke rumah karena Rivando sedang pulang." Alina mengangguk pelan dengan raut wajah yang mendadak suram. Bukannya bermaksud untuk menjadi anak durhaka, tetapi Alina paling malas jika harus berkunjung ke rumah orang tuanya. Sang ibu akan selalu membahas mengenai anak yang tak kunjung hadir di dalam pernikahan mereka. "Kapan, Mas?" "Minggu depan." "Kamu nggak mau pergi?" tanya Evans begitu melihat gelagat yang tidak menyenangkan dari sang istri. "Aku malas, Mas." Evans mengangguk, ia bisa mengerti bagaimana perasaan Alina. Sesungguhnya Evans dan Alina tidak pernah mempermasalahkan mengenai anak. Tetapi apa mau dikata, terkadang keluarga yang kita harapkan akan menjadi pendukung terbesar justru seringkali bersikap sebaliknya. Keduanya juga sudah memeriksakan diri secara medis dan menurut dokter tidak terjadi masalah apapun yang menyangkut kesuburan mereka berdua. Evans dan Alina hanya berpikir mungkin saja Yang Maha Kuasa memang belum memberikan kepercayaan pada mereka. "Kalau kamu malas, kita nggak perlu datang. Nanti kita bisa pergi ke suatu tempat aja supaya mereka nggak mencari-cari kita." Alina tersenyum lebar dan mengangguk, setuju dengan ide sang suami. "Oh iya, Mas. Katanya mau ada perwira yang dimutasi ke sini jadinya kapan?" "Kemungkinan bulan depan. Ada apa memang?" "Kan aku punya beberapa program baru tahun ini, Mas. Kita butuh banyak orang, apalagi yang dimutasi kemarin lumayan banyak." Alina mengutarakan apa yang menjadi permasalahan organisasi yang dia pimpin. "Program apa saja?" "Banyak, Mas. Pelatihan ketrampilan, penyuluhan kesehatan dan sanitasi juga mental illness," jawab Alina menjelaskan beberapa program kerja baru dari organisasinya. Evans mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, "Ya berarti harus tunggu dulu. Tapi nggak banyak juga yang dimutasi ke sini," jawabnya sambil tersenyum tipis. Alina ikut tersenyum melihatnya. Sedingin apapun keadaan rumah tangga mereka, Alina tetap menjadi satu-satunya orang yang mampu meluluhkan Evans. **** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD