BAB II

2235 Words
Sada adalah yang terbaik dalam membuatku tersenyum setiap pagi. Ketika dia tidak berhasil atau tidak sempat menghubungiku, dia selalu mengirim kurir lengkap dengan bunganya. Seperti pagi yang cerah ini. Waktu masih menunjukkan pukul 06.47 WIB. Bahkan di jam anak sekolah belum memulai pelajarannya tapi kurir bunga sudah menungguku di depan kantor Dinas Kominfo Karanganyar. Memangku buket bunga berukuran sedang dengan varian bunga yang lebih ramai. Meskipun tetap ada bunga mawar putih dan merah yang tidak pernah terlewat. "Dapat bunga lagi nih, Mbak. Pak Tentaranya masih sibuk toh sampai hanya bisa mengirim bunga tanpa orangnya?" celetuk rekan kerjaku. Aku hanya tersenyum singkat kemudian mendatangi kurir yang sudah amat sangat aku kenal. Bagaimana tidak, setiap hari Senin kurir itu pasti mengantar bunga untukku. Hari Senin biasa menjadi hari sibuknya Sada. "Lagi, Mbak," kata kurir yang berdiri begitu melihatku mendekat. Selalu kalimat itu yang kurir katakan. "Terima kasih, Mas. Lain kali saya saja yang datang ke toko daripada Mas harus menunggu saya tiap pagi di sini," saranku sungkan. Kurir bunga itu tertawa. "Waduh, jangan begitu, Mbak. Bisa makan gaji buta saya," candanya. "By the way, pacar Mbak romantis, ya?" Menunjuk kartu kecil di dalam buket. Di sana kalimatnya selalu sama, "Dari Yonif Raider 408/SBH, Danton Letda Purnama Putra Persada melaporkan kondisi aman terkendali. Bagaimana dengan Komandan cantikku di sana?" "Perwira TNI kalau tidak romantis malu sama pangkat, Mas," timbrung rekan kerjaku yang sudah menyusulku dari parkiran ke lobi Dinas Komunikasi dan Informatika. Kembali menikmati rutinitas di kantor, tepatnya setelah upacara bendera, ribuan berkas menanti untuk dicek ulang, beberapa proposal kegiatan dan kerjasama, laporan-laporan kegiatan yang telah terlaksana juga harus segera disusun. Hari Senin tak lagi horor bagi siswa tetapi juga horor bagi pegawai. Setelah menikmati libur selama dua hari, langsung terbebani kertas yang menumpuk. "Mbak Kanya, tolong persiapkan proposal workshop dengan Polres yang kemarin, ya? Sore ini saya ditunggu." Pimpinanku telah mengintruksikan maka harus aku tinggalkan berkas yang lain. Sesibuk apapun kuusahakan sempat mengabari Sada, karena dia pun begitu padaku. Bedanya, dia lebih sering dengan bunga sementara aku lebih sering hanya pesan singkat. Tidak mungkin juga mengirim bunga ke kesatuannya. Akan sangat memalukan bagi Sada jika dia menerima bunga dari perempuan. Jari jemariku bersiap untuk bekerja lagi, tapi lebih siap untuk mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Sada. Sedikit melelahkan di pagi hari. Semoga harimu tidak melelahkan, Letnan. Semacam itu sudah menyiratkan jika aku sedang sibuk. Maka ketika Sada membuka pesan dariku, dia tidak akan lagi protes ketika aku tidak membalas pesan lanjutannya. Sejauh ini kami saling mengerti tugas masing-masing. Toh, sama-sama untuk negara. Singkat cerita jari jemariku sudah berada di atas papan keyboard. Mengetikkan banyak sekali huruf pun kalimat. Sudah ribuan kata yang tersemat di halaman kosong Microsoft Word. Sudah berapa lembar pula halaman kosong yang telah ternodai. Ponselku terus berdering sejak tadi. Bukan dari Sada atau dari Mukti, tetapi dari mamanya Sada. Siang-siang belum istirahat begini beliau sudah memamerkan kakap bakar buatannya. Calon mertua yang baik, mengiming-imingi calon menantunya tanpa benar-benar mengirim makanan ke kantorku. Hanya aku balas seadanya, sedang sibuk begini. Jika tidak dibalas kurang sopan jika dibalas panjang memakan waktu. Makanya singkat saja seadaanya. Tidak perlu banyak basa-basi, Tante Shinta pasti mengerti. "Mbak Kanya ini loh, Bu. Tiap hari Senin dapat bunga dari Pak Tentara, eh, setiap hari masih dihubungi calon mertua," seloroh rekan kerjaku yang tadi, dia baru bergabung dengan Diskominfo satu bulan yang lalu. Tetapi dia yang paling dekat denganku, umur kami hanya berbeda satu tahun dan dari almamater yang sama. Tak heran jika dia tahu banyak hal tentangku. Eh, memang kisahku dengan Sada tidak disembunyikan. "Kamu pengen ya, Ka?" tuduh Ibu-ibu muda anak dua dari pojok ruangan. "Iyalah, Bu. Jomlo begini coba, ku tak laku laku." Mengikuti nada lagu dari wali. Rekan kerja bernama Eka ini memang yang terbaik dalam menghibur kami. Keceriaannya, cerewetnya, gokilnya, semuanya membuat kami tertawa. Sayang, orang seseru dia belum punya gandengan. "Mbak, kenapa pilih tentara?" tanya Eka setelah mulutnya terdiam tidak sampai satu menit. "Bukannya polisi lebih ganteng-ganteng ya, Mbak? Lebih bersih juga kulitnya, tidak macam tentara. Kusam, hitam, tidak terawat. Terlalu banyak main di kubangan lumpur." "Memangnya ada alasan untuk jatuh cinta?" tanyaku balik cukup untuk menjawab semua pertanyaannya. "Ya, maksudnya siapa tahu memang disengaja pengen punya pacar tentara begitu, Mbak. Kan lagi musim tuh sejak ada drama Korea tentang romantisme tentara dan dokter. Menjadi trend yang diminati perempuan-perempuan di luar sana. Sejujurnya termasuk aku sih!" Sedikit heran, Eka ini banyak kerjaan tetapi dia bisa santai mengajakku berbicara sambil mengoreksi beberapa laporan kegiatan. "Mengikuti trend tetapi tidak paham dengan tugas seorang tentara untuk apa? Yang paham tugas tentara saja terkadang suka lelah mendampingi tentara. Yang dipikir jangan cuma romantismenya, pikir juga risiko kehilangan dia sewaktu-waktu," seruku sekelebat mengingat Cesa. Kehilangannya adalah yang terburuk dalam hidupku. "Memangnya sekarang ini tentara Indonesia ngapain coba, Mbak? Aku lihat di Yonif 413 mereka cuma duduk-duduk. Kalau enggak nyapu markas, lebih parahnya bikin gapura sendiri coba saking tidak ada kegiatannya. Tidak ada perang juga, Indonesia masih aman," serunya betul-betul awam soal tentara. Hanya apa yang dia lihat di luar tanpa pernah tahu di dalam para tentara itu berjuang untuk keamanan. Memang beberapa dirahasiakan. "Auu..." jerit Eka kesakitan karena salah satu rekan laki-laki yang seumuran denganku menimpuk Eka menggunakan spidol tulis. "Apa sih, Mas? Sakit tahu!" keluhnya memegangi kepala. Kecil memang tapi tetap menyakitkan. "Kamu browsing deh soal Heli Bell 412 EP, browsing juga soal mortar baru yang meledak salah tempat saat latihan, jangan lupa soal teroris Indonesia timur juga soal penjaga perbatasan. Oh satu lagi, browsing soal pasukan Garuda," seru Arif yang memang banyak tahu soal tentara. Maklum, kakak perempuannya seorang tentara. "Kenapa memangnya?" tanya Eka masih belum mengerti. "Tidak perlu tanya kenapa, browsing saja dulu baru berkomentar!" tegas Arif. Eka mendesah kesal dari meja kerjanya di sebelahku. "Jangan kamu pikir mereka cuma bersihin got, nyapu halaman barak, ngecat pagar. Bukan karena tidak ada kegiatan dan negara aman. Mereka hanya menunggu giliran tugas," jelasku tidak banyak membantu, yang lebih membantu tentu saja hasil berselancar di web-web dan portal berita. Mendesah lagi kemudian mengutak-atik komputer di depannya. Cukup lama dia membaca berita demi berita, artikel demi artikel sampai dia lupa bahwa waktu istirahat telah tiba. "Mbak Kanya sebelumnya sudah punya pacar tentara to? Em... tapi..." tanyanya ketika aku hampir melangkah pergi. Aku tersenyum kemudian mengangguk. Tidak lagi menangis kala kenangan pilu itu diungkit, tak akan lagi meratap ketika rindu itu mencabik, tak akan pula mengumpat ketika semua beradu membuatku sakit. Aku telah berjanji kala senja menyapa, bahwa aku akan tersenyum ketika mengingatnya. Bukti bahwa aku benar-benar menikmati senja dan bersiap untuk purnama. "Aduh, Mbak." Memelukku tiba-tiba. "Maaf ya, Mbak." Mengusap punggungku. "Sudah berlalu." Melepas pelukannya, melangkah pergi. Meratapi tidak membuat yang mati hidup lagi dan yang berlalu terputar kembali. Tidak begitu suka ketika seseorang membahas Cesa di waktu sibukku. Hanya akan memecah konsentrasiku. Bagi mereka yang awam soal prajurit negara akan selalu berpikir bahwa tidak ada perang maka tentara tidak ada pekerjaan. Yang mereka tahu hanya negara aman. Sementara kami yang mengenal dunia doreng setiap hari harus menahan sesak. Perang memang tidak ada karena banyak masalah keamanan di rahasiakan. Tapi setiap hari kami bisa saja melepas mereka latihan dan risiko kematian bersamaan. Belum lagi, setiap hari kami ini berdoa agar negara selalu dalam lindungan Tuhan maka tak perlulah mereka yang doreng pergi berperang. Melalui kalimat di atas, katakan saja bahwa kami selalu was-was setiap harinya. Selalu memanjatkan doa pada Tuhan bukan hanya untuk diri kami, tetapi juga untuk negara kami. "Sudahlah, Ka. Kita istirahat dulu. Yang penting kamu tahu, tentara juga kerjaannya bukan cuma nyapu!" tegur Arif mendahului aku dan Eka. Kami bertiga memang sering kali istriahat bersama, makan di resto, cafe, atau bahkan warung tenda yang sama. Dulu hanya aku dan Arif, sekarang bertambah Eka dan memperamai suasana. "Mbak, kayanya kalau ke resto enggak cukup waktu istirahat kita. Kerjaan aja numpuk banyak banget," seru Eka saat kami semua sedang melangkahkan kaki menuju parkiran. "Iya juga, Kan." Arif setuju. Memang resto dari tempatku bekerja cukup jauh. Memakan waktu untuk perjalanan ke sana, belum lagi pelayanannya menunggu lama. Sementara berkas-berkas di meja tidak mau menunggu lama. "Sudahlah, aku mau makan mie ayam lagi aja. Yang dekat juga cuma itu," seru Eka saat aku dan Arif belum mengambil keputusan. Warung mie ayam di sisi Utara kantor Diskominfo Karanganyar sering kali menjadi pilihan ketika waktu istirahat mepet. Seperti hari kemarin dan hari ini. Kling... Ponselku berdering tepat saat semangkuk mie ayam panas datang di hadapanku. Dari seseorang yang sering kali meneleponku saat istirahat. "Assalamualaikum," sapaku dengan suara lesu sembari mengaduk mie ayam dengan sambal segunung di tengahnya. "Wa'alaikumsalam. Maaf, By. Baru sempat telepon. Bagaimana sibuk sekali, ya?" tanyanya di seberang dengan suara gemericik air. Aku memandang Eka dan Arif yang juga memandangku di sisi lain meja panjang. "Iya, laporan kemarin saja belum selesai sudah harus bikin proposal kegiatan lagi. Capek tapi ya bagaimana sudah tugas negaranya begini," keluhku padanya. Membiarkan uap kuah mie ayam terus naik ke atas dan menghilangkan kehangatannya. "Semangat, sayang. Akhir pekan nanti aku ajak jalan-jalan lah. Kita refreshing. Eh, kamu sudah makan atau belum, ya?" "Ini baru mau makan," jawabku mulai menyendok kuah mie ayamnya. Eka mengangkat kepalanya. "Jangan diganggu dulu, Mas. Mie ayamnya sampai dingin itu tidak tersentuh," celetuknya jelas suara itu masuk ke seberang. "By, kamu makan mie ayam lagi? Dua hari mie ayam terus? Kamu enggak takut ususmu keriting? Atau rambutmu gitu yang keriting? Aduh, kurang-kurangin lah!" Aku langsung memasang wajah penuh kemarahan pada Eka. Dia tidak tahu saja bagaimana cerewetnya Sada kalau soal kesehatan, pola hidup dan yang menyangkut keadaanku. Lucu tapi bikin pengang telinga. "Kenapa sih enggak ke resto yang deket Alun-alun kota itu? Di sana kan menunya nasi semua bukan mie. Kamu mah, nanti kalau sakit kan semua yang bingung. Aku jadi enggak fokus tugas, Mama kamu jadi enggak fokus sama kerjaannya di Disdikbud, Papa kamu jadi enggak fokus sama bisnisnya. Belum lagi si Arta, dia pasti kebingungan tidak ada teman bermain," cerocos Sada seperti biasanya. Satu tahun menjalani kisah dengan Sada membuatku hafal semua tentang dia, bahkan kalimatnya setiap kali membahas soal kesehatan. Ada saja kalimat yang barusan tadi. Sedikit menyinggungkan senyum. Mengingat ponakanku yang lucu, baru satu tahun umurnya. Rewel sekali akhir-akhir ini karena tidak dapat perhatian lebih dari mamanya. Mbak Anna lebih sibuk dengan urusan skripsinya. Terpaksa selepas aku bekerja dia mau bermain denganku. "Besok lagi jangan mie ayam, mie goreng atau mie kuah atau mie Aceh atau apalah itu segala macam mie dilarang!" tegasnya sudah kuduga. "Hemmm iya, Sada!" tekanku seolah akan menuruti apa katanya. Padahal aku adalah pemberontak akan apa yang Sada minta. Kecuali jika dia minta aku selingkuh, mungkin akan aku turuti. Sayangnya dia tidak pernah memintaku. "Ya sudah, lanjutin makannya dulu. Aku mau sholat terus dinas lagi. Semangat kerja-nya, Sayang. Oh iya, dapat salam dari Shandi. Katanya laptopnya sering banget ada tampilan biru tiba-tiba, bluescreen kalau tidak salah! Sudah ya? Danki C nguping! Assalamualaikum." "Bilang sama Shandi, itu tandanya dia harus berhenti main game. Wa'alaikumsalam, By. Selamat bertugas." ucapku langsung menutup telepon. Biasanya mendengar jawaban 'Iya' baru di tutup. Kali ini aku tidak mau melewatkan mie ayamku. Menikmati semangkuk mie ayam bersamaan dengan menikmati waktu luang yang tersisa. Sisa beberapa menit sebelum kembali lagi berjibaku dengan keyboard komputer, kata-kata baku pun formal, kertas hingga printer-printer yang bisingnya minta ampun. "Perhatian banget ya, Mbak? Tiap pagi sering dapat bunga, tiap jam istirahat dikasih kabar. Apa enggak bosen, Mbak? Kurang ada tantangannya gitu loh," seru Eka saat aku mulai mengunyah mie di dalam mulutku menghentikan aktivitasnya di dalamnya. "Bagaimana bisa bosan? Sekarang Kanya mungkin dihubungi setiap kali jam istirahat, setiap kali ada waktu luang. Besok-besok belum tentu bisa, kemarin aja Kanya ditinggal tanpa kabar sampai satu bulan. Lebih bosen mana? Dihubungi terus menerus atau tidak sama sekali?" Arif ikut angkat bicara. "Ya, gimana caranya biar enggak bosan lah. Kalau dihubungi setiap saat bosan juga, tidak dihubungi juga bosan. Standarnya saja lah." Eka ada benarnya. Bagaimana jika aku bosan dengan semua tingkah Sada, bosan dengan sikap manisnya, bosan dengan hilangnya dia dari peredaran, bagaimana bisa aku bosan dengan hubungan ini? "Ah, perempuan memang selalu begitu. Membingungkan! Dihubungi terus salah, tidak dihubungi terus juga salah. Ya maaf laki-laki mah enggak sempurna. Perempuan saja yang selalu merasa sempurna dan selalu benar!" Arif tiba-tiba berubah emosi. Tapi memang iya, perempuan itu secara tidak langsung merasa sok sempurna dengan merasa sok paling benar. Katanya perempuan selalu benar, klasik. Tapi ya gimana? Bukan kita mau sok selalu benar, kami hanya merasa laki-laki kurang mengerti. Loh, jadinya laki-laki lagi yang salahkan? Ribet memang menjelaskan kenapa perempuan sering kali merasa paling benar dan selalu benar. "Ya imbang dong, Mas. Kalau hubungi juga tidak setiap waktu, kalau tidak menghubungi ya jangan lama-lama." Eka tetap berpegang teguh pada pendapatnya. Ah, mereka ini. Perdebatan semacam itu tidak akan ada ujungnya. Membahas antara laki-laki dan perempuan itu bisa semacam memutari bumi. "Sudahlah, kita balik lagi ke kantor," ajakku padahal belum benar-benar habis mie ayamku. Sudah tidak mood lagi untuk makan. Air mineral saja cukup hingga nanti sore. Sepanjang hari bergulat dengan huruf dan kertas. Bergulat pula dengan pikiran tentang hubunganku dengan Sada. Bagaimana jika nanti aku merasa bosan? Atau Sada yang merasa bosan? Bagaimana kami akan menangani kebosanan itu? Akankah seperti kisah cinta anak ABG? Putus di tengah jalan dengan alasan bosan. Semacam itu kah kami nanti? Mudah melepaskan karena bosan. Pertanyaan-pertanyaan itu menyerbuku seperti sekawanan militan perang sedang memukuli kepalaku. Tetapi hatiku terus meminta agar Tuhan bisa memberi jalan indah kepada kami untuk melewati masa bosan kami nanti. Akankah aku bosan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD