BAB IV

3098 Words
Sinergitas Kominfo dan Kepolisian dalam Menangani Berita Hoax serta Hatespeech di Media Sosial Tulisan itu terpampang besar di depan Gedung Olahraga Nyi Ageng Karang, Karanganyar. Hari ini hingga dua hari ke depan memang akan berlangsung acara maha penting ini. Kominfo dan Polres Karanganyar telah sepakat mengikat kerjasama untuk memberantas berita hoax serta hate speech yang marak di beberapa media sosial. Khususnya berita hate speech yang beredar di kalangan masyarakat Karanganyar menjelang Pemilihan Bupati beberapa bulan lagi. Untuk itu dilakukanlah workshop selama tiga hari berturut-turut guna mempersiapkan cara-cara mengenali berita hoax dan hate speech serta bagaimana penanganannya. Sebagai salah satu pegawai negeri yang baru dilantik beberapa Minggu yang lalu. Mau tidak mau aku ikut terlibat di dalamnya. Dan karena aku yang dianggap begitu hitz, mengerti banyak hal tentang media sosial dan bahkan yang lebih mengerikan bisa membobol beberapa akun media sosial orang. Keahlian tidak bermutu macam itu membuatku mau tidak mau menjadi salah satu pegawai yang diunggulkan dalam workshop kali ini. Bahkan menjadi wakil ketua tim pemberantasan berita hoax di Karanganyar. Selama tiga hari ke depan aku akan berkecimpung dengan beberapa pegawai Kominfo dan beberapa anggota Polres Karanganyar. Semua orang berseragam. Acara di pagi hari ini semuanya adalah sambutan dan penyampaian tujuan kegiatan ini dilakukan. Katakan saja hari ini hanya pengantar, acara inti akan dilaksanakan esok hari. Baik kesepakatan kerjasama yang akan ditandatangani oleh kepala Diskominfo Karanganyar dan Kapolres Karanganyar juga langkah apa yang dapat kita tempuh nantinya. Hari terakhir adalah penutup dari semua acara. Sekarang aku tahu bagaimana sibuknya Mama menjadi pegawai negeri. Yang di urus ya masalah masyarakat terus. Yang lainnya dinanti-nanti kan. Duduk di barisan paling depan nomor dua bersama dengan Eka di samping kiriku juga satu anggota polisi yang terkesan cuek di samping kananku. Sejak tadi tangannya melipat di d**a, pandangan ke depan tanpa melirik samping kanan atau samping kirinya. Menyapaku yang duduk lebih dulu di sampingnya pun tidak. Benarkah kata orang-orang kalau polisi itu banyak yang cueknya? Ah, tapi aku tidak berharap disapa. Hanya setidaknya dia menganggap ada orang di sampingnya. "Mbak?" panggil Eka berbisik di telinga kiriku. Aku hanya menoleh tiga puluh derajat. Menjawab panggilan Eka yang membuat telingaku terasa gatal. "Babang polisinya ganteng," bisiknya sekali lagi hingga membuatku heran. Bukannya memperhatikan pembicara justru memperhatikan polisi di sampingku. Astaga, si Eka ini mungkin memang penggemar berat aparat kepolisian. Aku hanya memicingkan mata. Berharap Eka mengerti bahwa mataku ini sedang memintanya untuk kembali fokus pada pembicara. Tidak ada meja tidak ada tempat yang luas bagiku untuk meletakkan barang bawaan, mulai dari note sampai snack semuanya ada di pangkuanku. Kecuali tas yang bisa aku taruh di bawah. Ribet sekali, terlalu sesak tempat dudukku. Hingga aku bergerak terus menerus mencari letak ternyaman untuk dudukku. Merasa kurang nyaman karena gerakanku. Polisi di sebelahku menggeser ke kanan kursinya. Sepertinya dia tahu tempatku terlalu sempit, apalagi tubuh berototnya menambah sesak. "Mbak, jangan gerak-gerak mulu. Itu polisinya enggak nyaman," bisik Eka terus tersenyum manis pada sang polisi. Padahal polisi ini tidak melirik kami sekalipun. Dasar pelayan masyarakat yang sombongnya minta ampun. "Dia juga nggak peduli, ngapain kita peduli sama dia?" seruku terlalu keras untuk di dengar Eka saja. Sudah pasti polisi songong di sampingku ini mendengar. Eka langsung menyenggolku dan aku hanya santai tanpa merasa bersalah justru menggerak-gerakkan tubuhku semakin frontal. Mau bagaimana lagi? Sempit begini. Brukkk... Seluruh benda yang ada di pangkuanku terjatuh di lantai. Termasuk snack dan note lengkap dengan bolpoinnya. Aku langsung panik dan memungutinya satu persatu. Kertas-kertas kecil berceceran. Hancur sudah tempatku yang rapi. Apalah daya yang hanya pegawai di tingkat daerah, bukan tingkat nasional. Jika tingkat nasional rapat atau workshop bisa memakai meja, di daerah suka apa adanya. "Ini bolpoi..." kata polisi di sampingku memberikan bolpoin hitamku yang menggelinding sampai ke bawah kursinya. Saat ini kami sama-sama menekuk tubuh ke bawah, tanganku masih memungut kertas di lantai sementara dia baru saja memungut bolpoinku. Satu hal yang benar-benar sama, mata kami saling memandang begitu dalam dan kami terdiam. Garis wajahnya lonjong dan pipi tirus. Bibirnya yang merah muda dan potongan rambutnya yang kekinian. Bukan seperti tentara yang model rambutnya begitu-begitu saja. Kutengok polisi tidak seketat itu dalam menentukan gaya rambut anggotanya. Aku sering melihat ada garis yang sengaja dibuat di samping kepala. "Emm, terima kasih, Pak eh Mas," ujarku membuyarkan pandangan kami satu sama lain. Kembali bangkit pada posisi duduk yang semula. Menjadi canggung. Dia juga langsung memposisikan dirinya seperti tadi, stay cool atau memang sok cool. Meskipun tidak bisa menyembunyikan raut canggungnya dariku. "Jangan khilaf ya, Mbak? Ingat yang lagi tugas jauh di sana membela negara," bisik Eka mengingatkan aku pada Sada. Apa kabarnya pujaan hatiku? Apakah di sana aman terkendali? Ah, jika aman seharusnya dia bisa menghubungiku, tapi empat hari berlalu dia belum juga menghubungiku, sekedar bertanya kabar atau memberi kabar. "Ah, tapi kalau mau khilaf enggak apa-apa, Mbak. Pak tentara kan enggak tahu. Polisinya ganteng ini sih," bisik Eka lagi dan lagi, membuatku reflek memukul punggungnya. "Auuu!" teriaknya begitu keras. Membuat banyak peserta workshop menatap kami aneh. Termasuk Bapak Kepala Kominfo Kabupaten Karanganyar yang duduk di barisan kursi paling depan bersama pejabat tinggi Polres Karanganyar. "Mulutmu itu!" Menutup mulut Eka dengan telapak tangan kananku. "Kena marah Bapak nanti, Ka!" "Emmm... Emmm... Emmm..." "Apa?" suaraku pelan. Tangan berotot seperti milik polisi ini menarik tangan kananku. Membuka mulut Eka yang sedari tadi aku sumpal. "Dia tidak bisa bicara," katanya masih memegangi pergelangan tanganku. "Diamlah! Dari tadi Anda terlalu berisik dan ribet. Sebenarnya Anda ke sini mau workshop atau mau menciptakan keributan?" ketus sekali dengan raut wajah sok jutek dan songong. Aku hanya menghela napas panjang, kesal. Lalu memilih untuk memperhatikan pembicara lagi. Pembicara yang sedang memberikan sambutan, yaitu Bapak Kapolres Karanganyar. Cukup lama aku hanya terdiam, memperhatikan pun menahan gerakan tubuhku. Eka juga begitu, sedikit membosankan tetapi dia berusaha menikmatinya. Memangnya siapa yang tahan hanya diam memperhatikan dari jam tujuh sampai jam setengah sebelas begini? Ngantuk jika hanya diam tapi kami mencoba melawan kantuk. "Mbak?" panggil Eka yang sepertinya sudah mulai goyah dengan diamnya. Mulut cerewetnya itu pasti sudah tidak betah lagi terdiam. "Bosan?" tanyaku singkat dan berbisik. "Lawan sedikit rasa bosanmu. Habis ini kita istirahat." "Apaan? Mbak sih enak khilaf terus sama Babang polisi, nah aku? Tengok, tidak ada yang menggenggam tanganku!" Mengangkat tangannya tinggi, menunjukkan bahwa tangannya tidak dalam genggaman siapapun. Tunggu, aku ingat tangan kananku dimana. Berada di atas kain halus berwarna cokelat gelap. Masih dalam genggaman tangan berotot. "Maafkan aku Sada, bukan bermaksud khilaf. Yakinlah!" batinku langsung menarik tanganku kasar dari genggaman dan dari pangkuannya. Lagian ini polisi ganteng-ganteng kok tangannya ringan sekali. Mudah pegang sana pegang sini tidak dilepaskan. "Oh, maaf." Melepaskan tangannya dan langsung memposisikan tangan kanannya dengan semestinya. Sadarnya terlambat sekali. Sumpah! Kesal nian aku dengan orang ini. Dari belakang ada yang menepuk bahuku. "Dik Kanya, ingat yang tiap hari Senin selalu kirim bunga. Nggak nikah-nikah loh kalau sudah dikasih pacar tapi nggak setia," tegur salah satu rekan kerjaku yang sudah berumah tangga. Aku langsung menoleh. "Nggak, Bu. Saya setia kok," tegasku. Lagipula siapa yang mau dengan polisi ganjen dan songong semacam ini. Kontras sekali, hanjen tapi songong. "Seandainya pacar Mbak bisa pegang ponsel. Sudah aku DM dari tadi. Laporan kalau pacarnya di sini lagi bermesraan sama polisi. Aku yang naksir duluan situ yang bisa pegangan," seloroh Eka sambil menoel bahuku. "Eka!" Geram sekali aku. Dia hanya tertawa menggoda sambil menggerakkan alisnya. Kembali lagi kami menikmati pembicaraan. Hingga waktu istirahat telah tiba dan nasi kotak untuk makan siang telah tersedia. Melelahkan sekali meskipun hanya duduk di kursi dan mendengarkan. Justru lebih enak mondar-mandir ataupun menulis laporan. Aku, Eka dan Arif seperti biasanya. Berkumpul menjadi satu dan menikmati nasi kotak yang telah disuguhkan. Di pojokan Gedung Olahraga Nyi Ageng Karang. Kotor? Kami pegawai hitz yang tidak takut kotor. Di sebelah kiri kami ada segerombolan polisi yang juga menikmati nasi kotak dengan lahapnya. Sesekali kami saling memperhatikan satu sama lain. "Mbak-mbak sama Mas-nya pegawai Diskominfo kan?" tanya salah satu polisi sambil menyendok makanannya. "Iyalah, Mas pikir kita pegawai kebersihan?" jawab Arif dengan ketusnya. Wajar juga sih kalau Arif ketus, yang ikut acara ini hanya anggota polisi dan pegawai Diskominfo. Kenapa pula polisi itu harus bertanya? Dari seragam yang kami kenakan juga jelas. "Oh, bukan. Saya lihat yang lain lebih memilih makan di atas daripada lesehan di tanah macam ini. Kotor. Kalau kami kan memang terbiasa begini," ujar sang polisi dengan wajah sok ramah atau memang ramah. "Oh, kami juga terbiasa seperti ini kok, Mas. Memangnya ada yang salah?" Arif tetap ketus. "Sudah, nikmati saja makanannya," balasku menghentikan percakapan mereka. Kemungkinan Arif hanya merasa tersinggung dengan pertanyaan dari polisi tersebut. Sementara sang polisi hanya heran dengan tingkah kami yang tidak takut kotor. Saat selesai aku mengucapkan kalimat tersebut, satu polisi yang tadi berani sekali menggenggam tanganku itu melihat kearahku. Menghentikan makannya dan terus melihatku tanpa berkedip. Membuatku salah tingkah saja. "Mbak Kanya," panggil seorang polisi yang baru saja berdiri dari tempat duduknya di sisi kiriku. Polisi berseragam cokelat dengan pangkat centang satu di bahunya. Wajah manisnya, bentuk tubuh gagahnya, potongan rambutnya, semuanya tidak lagi asing di mataku. Bagus, adik kelasku waktu SMK itu memang menjadi polisi setelah lulus. Mengandalkan piagam baris-berbaris hingga tingkat provinsi akhirnya dia berhasil menjadi abdi masyarakat. "Bagus, bukannya kamu tugas di Polresta Surakarta?" tanyaku bingung, menghentikan makanku yang memang tinggal sisa-sisa beberapa butir nasi saja. "Ah, baru kemarin dipindah ke sini, Mbak," jawabnya mendekatiku. Rasa-rasa seperti ingin memelukku tapi tidak bisa. "Kangen banget, Mbak, sumpah, Dan maaf tidak bisa hadir di pemakamannya mas Cesa. Waktu itu masih pendidikan aku, Mbak." Sudah berlalu tiga tahun lebih. Sudah menjadi masa lalu indah untuk hidupku. "Tak apa, aku juga datang terlambat waktu itu." Mengusap punggungnya. "Eh, iya, Mbak. Kenalin ini rekan-rekanku dan ini..." Menunjuk dengan sopan polisi tampan yang ganjen tadi. "Komandanku tercinta, IPDA Ksatria Sangga Mara." Yang diperkenalkan langsung menganggukkan kepala pelan, menyapaku. Aku hanya membalas dengan senyum segaris. "Ini..." Bagus menunjukku. "Kakak kelas waktu SMK, Dan. Namanya..." "Kanya Bhakti Mayanetra," celetuk salah atau polisi memotong kalimat Bagus. "Terkenal di seluruh antero negeri karena kisah cintanya dengan Serda, sorry, Sertu Senja Bhuana Wicesa. Kisah cinta sejati yang dibawa hingga pengabdian kekasihnya usai. Kalian tahu kan artinya pengabdian usai untuk orang-orang di militer?" Kisah itu diungkit lagi. Padahal aku sudah berhasil mendekapnya dan menjadikannya teman terindah di masa sekarang dan masa depanku. "Maksudnya hingga hembusan napas terakhir, Bang?" Yang lain ikut nimbrung. "Tepat! Siapa sih yang enggak kenal seorang Kanya? Mungkin dia tidak pernah nonton televisi, baca laman liputan6.com atau baca Line Today." "Saya tidak tahu," timbrung polisi yang Bagus perkenalkan sebagai Komandannya tadi. "Komandan pasti sedang sibuk mempersiapkan Praspa waktu itu. Ah tapi Komandan ini anehlah, orang militer baik TNI Polri tahu semua itu. Ceritanya melegenda." Mereka justru asyik membicarakan aku tanpa sungkan telingaku mendengar percakapan mereka terlalu jelas. Kisahku dengan Cesa memang menjadi konsumsi publik lingkup nasional. Padahal sekarang Senja telah berlalu, yang ada adalah Purnama. Aku dan Sada juga tidak menutupi apapun sebenarnya. Tapi enaknya, berita tentang aku dan Sada tidak menyebar luas hingga nasional, hanya lingkup orang-orang yang mengenal kami. "Mbak terkenal bangetlah. Padahal aku yang satu kantor sama Mbak aja baru tahu kemarin-kemarin soal berita itu," bisik Eka sembari memunguti kotak-kotak nasi. "Tapi terkadang aku lelah mendengar pembicaraan mereka tentangku, Ka. Suka kangen sama masa lalu, suka ingin mengulangnya lagi dan itu menyiksa sekali. Kamu juga tahu kan life has no CTRL + Z." Life has no CTRL + Z. Hidup itu tidak ada pengulangan, tidak ada undo, tidak ada kembali, tidak ada rewind atau apalah itu. Hidup terus berjalan dan waktu tidak akan pernah peduli dengan masa lalumu. Dia tidak akan pernah memperlambat jalannya ketika kamu terluka. Dia terus berjalan entah kamu mau mendekap luka atau tidak. Meski kamu tetap merasa terluka, dekap ia agar kamu lebih baik. Dan itu yang aku lakukan, meskipun kehilangan itu menyakitkan pun masih sering menangis, merindukan. Aku mendekap masa lalu itu dengan erat menjadikannya teman yang indah. "I know what you feel, Mbak. Kadang Mbak pasti merasa benci sekali ketika banyak orang membicarakan masa lalu padahal Mbak sudah berusaha mendekap luka masa lalu itu dengan susah payah. Kesal, sakit, sedih, semua beradu menjadi satu. Bergejolak, menyayat, menyakitkan. Bukan terlalu lebay tapi kehilangan seseorang yang kita cintai itu memang menyakitkan." Cerewetnya Eka pada hari ini sungguh berfaedah. Bisa sekali mengerti perasaanku. Bukan Eka yang biasanya cerewet tanpa penyaringan. "Kadang orang hanya tidak mengerti saja bagaimana rasanya, Ka. Cuma kamu dan Sada yang paham bagaimana sakitnya aku kehilangan Cesa. Orang lain selalu berpikir aku terlalu lebay ketika mengutarakan tentang kehilanganku dan masa laluku." Tersenyum getir. "Alah, tantang saja mereka, Mbak. Suruh salah satu yang mereka cintai meninggal detik itu juga dan apa yang akan mereka katakan. Pasti juga terdengar lebay." Eka begitu emosional. Yang tadinya berbisik-bisik justru begitu keras untuk di dengar oleh orang-orang di dalam gedung. Aku tertawa tapi yang lainnya memandang kami dengan wajah krik-krik. Bahkan mereka, polisi-polisi yang sedang membicarakan kisahku memasang ekspresi seolah mereka terkejut dan menganga-nganga. "Sudah ayo pada salat," ajak Polisi songong plus ganjen bernama Ksatria Sangga Mara. Eka langsung menarikku dan Arif. Melangkah lebih dulu mendahului polisi-polisi tadi. Kami harus menggunakan sepeda untuk salat di masjid, cukup memakan waktu jika berjalan kaki. Di Masjid Agung Karanganyar, disitulah tempat terluas untuk melakukan ibadah. Jika di tempat lain, musala kecil dekat Gedung Olahraga terlalu ramai hingga harus mengantri. "Lah, kamu nggak bawa motor, Kan?" tanya Arif yang sudah bersiap memboncengkan Eka. Aku menggeleng. Lupa bahwa hari ini aku berangkat bareng sama Bang Raka. "Aduh, gimana, ya? Tunggu deh nanti aku jemput. Atau kalian di mushola belakang aja?" tanya Arif kebingungan sendiri, padahal aku santai sekali. "Biar bareng saya saja, Mas." Seseorang datang tanpa permisi dengan mengendarai sepeda motor sport-nya yang berwarna merah. Polisi songong dan belum kenal tapi sudah pegang-pegang tanganku tadi. Dia dengan suka rela menawari jok belakangnya untukku. Aduh, tadi saja sok cool sekali, bahkan tidak mau menyapaku lebih dulu. Songong duduk di sampingku, setelah tragedi bolpoin dia jadi berani pegang tanganku, jadi sok baik. "Nah itu, Mbak. Tapi jangan khilaf, ya?" goda Eka langsung menepuk bahu Arif. "Jalan, Mas!" Sudah macam Mbak-mbak naik ojek pangkalan. "Silahkan naik," pinta Ksatria. Aku bingung, bagaimana cara naiknya? Aku memakai rok sekarang ini dan harus naik ke motor yang tinggi dan body jok belakangnya nggak banget. Bisanya aku bonceng miring tapi kalau miring tidak nyaman dengan kondisi jok belakang lebih tinggi dari jok depan begini. "Maaf, pasti bingung ya mau duduk gimana? Tapi adanya memang ini. Tak apa, memang tidak nyaman tapi sebentar saja kok." Menghela napas kemudian berusaha naik ke jok belakangnya dengan posisi miring. Karena tidak ada pegangan yang pas, terpaksa aku harus memegangi pundaknya untuk naik. "Maafkan kekasihmu hari ini, By. Bukan bermaksud khilaf tapi keadaan memaksa," batinku ketika memegangi pundak Ksatria. Sampai akhirnya sudah dalam posisi duduk. Badanku selalu ingin jatuh ke samping kanan, maksudnya ke jok depan. Hingga aku harus menahan dengan tanganku di punggung Ksatria. Tidak nyaman sekali. "Maaf jika punggungmu sakit," ucapku setelah memikirkannya bermenit-menit. Yang di depan hanya tersenyum tipis. Aku tahu dia tersenyum meskipun dari belakang. Jelas sekali. "Tak apa, justru saya yang harusnya minta maaf karena duduknya jadi enggak nyaman. Ini motor memang lebih cocok untuk laki-laki single daripada untuk yang sudah berpasangan tapi belum sah. Bahaya sekali soalnya," katanya sudah sok akrab sekali. Terlepas dari sok akrabnya Ksatria, dia ada benarnya. Motor model macam ini terlalu bahaya untuk orang-orang yang berpasangan tetapi belum sah. Dia paham juga semacam itu, dia pasti laki-laki yang baik pun tidak neko-neko. "Wuhuyyy!" sorak segerombolan pelajar yang jam segini sudah pada nongkrong. Padahal jam sekolah di Karanganyar sejak diterapkannya full day school rata-rata jam pulang itu jam tiga. Ini masih jam 12.00 WIB sudah di jalanan Alun-alun kota. "Anak zaman sekarang bukannya sekolah yang bener malah di jalanan nyorakin polisi sama cewek. Emang nggak punya rasa takut atau sudah kehilangan rasa malunya?" gumam Ksatria bisa aku dengar dengan jelas. "Wah, Pak Pol ganteng kok sudah punya gandengan. Besok-besok jangan tilang saya lagi kalau sudah punya gandengan, Pak. Kalau putus boleh kok tilang saya tiap hari," teriak perempuan tak berseragam tapi masih usia remaja. Memakai celana robek-robek, rambut pirang bukan dari Tuhan dan kusam seperti anak jalanan. Ksatria menggelengkan kepalanya. Dia pasti terheran-heran dengan generasi tutup mata dan tutup telinga saat ini. Anak-anak muda telah kehilangan rasa malunya, empati nya, semangat kepemudaannya, hati nuraninya, tata kramanya, adat istiadatnya, semua seolah telah hilang. "Suka prihatin sama mereka tapi apa yang bisa kita perbuat, Mas. Mau nasehatin orang kaya gitu sudah susah dinasehatin. Lebih baik mengantisipasi yang belum menjadi seperti mereka. Karena mencegah lebih mudah dari memperbaiki kan?" "Betul. Macam kami dan Satpol-PP itu bisanya cuma nangkep mereka-mereka yang sekiranya melanggar hukum yang tertera dalam undang-undang atau peraturan kemudian memperbaiki mereka sebisa kami. Tapi soal moral, etika, tata krama dan semacamnya itu tidak bisa kami ubah semuanya. Peran terpenting tetap orang tua dan orang-orang terkasih, Mbak." "Betul, Mas. Kita bisa saja ikut menasehati tapi nasehat yang lebih mudah diterima itu jelas dari orang tua dan orang terkasih." "Ya, karena hanya kasih sayang yang dengan mudah memperbaiki apa yang salah." Menjadi bahan sharing kami dalam perjalanan singkat menuju Masjid Agung Karanganyar. Ternyata Ksatria ini orangnya enak diajak ngobrol. "Pak Pol, aduh, bikin patah hati!" seru lagi seorang perempuan tak berseragam, wajah kusam, baju robek-robek. Sama seperti yang sebelumnya. Jika anak jalanan terlalu kasar, mereka itu biasa disebut anak-anak punk. Ksatria menundukkan kepalanya, menanggapi perempuan punk tadi. "Suka kasian, Mbak. Mereka hanya kurang kasih sayang dan pengertian saja," ujarnya saat kami tiba di gerbang utama Masjid Agung Karanganyar. "Iya," jawabku singkat sembari turun dari jok belakang dengan susah payah. "Nanti Mbak tunggu di sini saja, ya?" ujarnya mencabut kunci sepeda motor dan langsung melangkah pergi mendahuluiku. Kulihat dari punggungnya yang menjauh, aku sedikit menyimpulkan senyum manisku. "Ingat yang di Nusa Tenggara, Mbak!" teriak Eka membangunkanku. "Always remember!" tegasku melangkah mendekatinya yang sudah menungguku di pintu masuk tempat wudhu perempuan. Bersimpuh, berserah diri, memanjatkan doa dan memuji Tuhan di siang hari yang terik ini. Mengucap syukur atas nikmat dan keindahan hidup, termasuk syukur atas keindahan serta kedamaian negeri ini. Tak lupa lima belas menitku juga untuk mendoakan Mama, Papa, Abang, Mbak Anna, Dik Arta juga Sada yang sedang bertugas. Semoga kami tetap dalam lindungan Allah SWT. Menuruni anak tangga Masjid Agung Karanganyar dan Ksatria telah menungguku di tempat parkir. Di bawah pohon Sawo Kecik yang rindang. "Saya pikir salat saya sudah yang paling lama karena doa yang saya panjatkan terlalu banyak. Tidak tahunya ada yang lebih lama," tegurnya saat aku mulai mendekatinya. Tersenyum tipis. "Maaf, jika terlalu lama," balasku. Dia hanya tersenyum kemudian kami kembali ke tempat workshop. Kembali menjalani tugas sebagai pegawai hingga senja menghilang dan berganti dengan rembulan. Esok lagi siap menjalani agenda selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD