Masih menangis pilu di depan pusara Sada. Meremas-remas tanah kuburannya yang masih basah. Seakan tidak percaya tapi telah di depan mata. Pusara telah ada, mana bisa dikatakan mimpi dan lelucon. Tinggallah seorang Kanya tanpa cahaya, baik Senja maupun Purnamanya. "Sabar, Sayang. Berdoalah untuk Sada, dia harus segera pergi. Maka jangan tahan dia terlalu lama." Tante Shinta mengusap kedua bahuku. "Sada sudah bahagia di sana, membawa cintanya hingga peristirahatan yang terakhir." Om Bayu nampak yang paling tegar di antara yang lain. Beliau hanya berkaca-kaca, bukan menangis. Tapi aku tahu tangis seorang laki-laki atau seorang ayah itu lebih pilu dari tangis gadis macam aku ini. Aku menunduk pilu. Mempersiapkan segala keikhlasan yang tinggal sisa-sisanya. Ikhlas tidak ikhlas aku telah kehi

