"Ante, uda. Ante, uda." Arta terus mengulang kalimat itu sejak setengah jam yang lalu. Terkadang aku sedikit heran pada anak kecil, mereka itu baterainya pakai yang ABC atau alkaline. Nyerocos terus semacam dayanya tak pernah habis. "Iya, Dik Arta. Kita tunggu Om dulu, ya?" Membiarkannya berguling-guling di atas kasurku mengacak-acak pula rambut tebalnya. Layaknya anak kecil yang tidak kunjung dituruti keinginannya. "Nih, Tante juga masih dandan, Sayang." Mengenakan mascara yang waterproof tentunya. Nanti kalau-kalau Sada membuatku menangis haru kan tidak lucu mascara-nya kemana-mana. "Ante!" teriak Arta sudah berada di samping kakiku. Menarik-narik celana yang tak sanggup dia tarik sebenarnya. Pemaksaan. "Iya, Sayang. Sebentar, to. Dik Arta nunggu Om di luar dulu, ya?" Dengan nada lem

