"Kamu sendiri yang memancingku, Nara." Suara Devan mengalun rendah, dingin, dan tajam, persis seperti mata pisau algojo yang siap mencabut nyawa. Di bawah bayang-bayang pria itu, Nara merasakan ketakutan yang merayap di sumsum tulangnya, namun harga dirinya menolak untuk tunduk begitu saja. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang sesak oleh aura intimidasi Devan. Dengan sisa keberanian yang ada, Nara menyunggingkan seringai sinis, sebuah ejekan yang terang-terangan menantang maut. "Kau bisa memukuli Yeni tanpa kedip, artinya kau juga punya nyali untuk memukulku, kan?" tantang Nara. Suaranya bergetar, namun matanya menatap lurus. Devan hanya diam. Keheningan pria itu justru jauh lebih menakutkan daripada rentetan makian. "Pukul saja aku! Cepat!" desak Nara lagi. Ia s

