Nara meringis, tubuhnya terasa kaku dan pegal. Dia baru saja bangun dan syukurnya tidak ada Devan di kamar. “Yeni … apa kamu baik-baik aja?” tanyanya ragu saat melihat Yeni yang membereskan kamar. Nara merasa seperti wanita yang tidak ada harganya. Terbangun bertelanjang sedangkan pakaiannya sedang dipunguti oleh Yeni. Yeni tersenyum, menghampiri Nara. “Non udah bangun?” “Kamu masih merasa sakit? Aku akan minta dokter Mira untuk kasih kamu obat ya?” Yeni menggeleng kecil, “udah pake koyo, Non. Non mau mandi dulu?” Nara terdiam, dia mendadak merasa sendu bahkan air matanya pun sudah turun. Gadis itu menangis terisak, “hiks … maaf, Yeni. Maaf, ini salahku. Kamu … kamu kena pukul.” Yeni ikut panik melihat sang nona yang menangisinya. “Aduh, Non. Pagi-pagi malah menangis, Yeni baik kok.

