Nara tergemap. Dadanya berdebar kencang. Dia sudah setengah jalan sekarang.
“Lanjutkan.” Devan kembali memerintah dengan nada datarnya.
“Pasal 4, Kerahasiaan dan Isolasi Total.” Baskoro melanjutkan dengan nada monoton, terdengar lebih mengerikan. “Mulai sekarang, identitas Ibu sebagai pegawai di DAR Land Global akan dihapus. Ibu akan dinyatakan mengundurkan diri karena alasan pribadi yang mendesak. Ibu dilarang melakukan komunikasi dengan pihak luar tanpa persetujuan dari Pak Devan. Ibu akan tinggal di kediaman pribadi yang sudah ditentukan.”
Nara segera menatap Devan, tatapan mereka saling beradu. Sekejap, dia takut dengan tatapan dingin Devan, tetapi ia meneguhkan dirinya.
“Apa maksudnya aku tidak bisa bekerja? Lalu tidak boleh berkomunikasi?” Suara Nara bergetar, hampir hilang. “Aku masih harus memantau Ibuku, aku punya teman--”
“Anda tidak punya siapa pun sekarang.” Julian tiba-tiba berucap dari tempat duduknya. Suaranya rendah dan dingin. Ia meletakkan tablet PC di meja yang menampilkan siaran CCTV langsung dari ruang perawatan rumah sakit. Di sana, dua pria berkemeja putih dan celana panjang hitam sedang berjaga. “Beliau akan aman selama anda patuh. Itu janji Pak Devan.”
Baskoro berdeham, mengabaikan suasana diliputi ketegangan itu. “Dan poin terpenting, pasa 7. Pelayan Pribadi. Ibu wajib memenuhi segala permintaan fisik dan emosional Pak Devan, kapan pun dan di mana pun, tapi terkecuali. Status Ibu adalah ‘Aset Pribadi’. ibu tidak memiliki hak hukum atas tubuh ibu sendiri selama kontrak berlangsung.”
Deg!
Mata Nara membulat penuh. Dia ingin bicara, tapi melihat nominal uang transaksi yang tersisa membuatnya kembali merapatkan bibirnya.
Nara menatap nanar dokumen itu. Kata-kata di dalamnya nampak seperti penjara besi yang mengunci dirinya. “Ini … perbuda … kan.” Dia terbata-bata mengucapannya.
Trek!
Devan meletakkan gelas wiskinya dengan bunyi yang tajam. Ia bangkit, berjalan mengitari meja, dan berhenti tepat di depan Nara. Aroma parfum sandalwood yang mahal dan wangi maskulin yang dominan mulai mengepung indera penciuman Nara.
Pria itu membungkuk, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Nara, sementara Pak Baskoro sibuk merapikan bundel kertas dan pena di meja.
“Sebut itu sesukamu, Nara. p********n, simpanan, atau penyelamatan.” Devan membelai pipi Nara dengan punggung ibu jarinya yang dingin.
Nara sampai menahan napasnya sendiri. Belaian itu terasa kasar dan menakutkan untuknya, sampai-sampai matanya tidak ikut berkedip.
“Tapi lima miliar itu masih sangat murah buat liat kamu berlutut setiap malam di depanku, memuaskanku.”
Devan menegakkan tubuhnya, memberi isyarat pada Julian. Julian segera menaruh sebuah pena Montblanc yang berlapis emas kepada Nara.
“Silakan tanda tangan, Nona,” ujar Julian datar. “Jangan biarkan dia menunggu oksigennya lebih lama lagi.”
Nara menatap Nanar Devan. Dia benar-benar sudah menjadi barang dengan senilai yang disebutkan. Sungguh, pria itu kejam.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang merebak di pelupuk matanya, pun terjatuh setetes meninggalkan bekas di kertas perjanjian itu, Nara membubuhkan tanda tangannya. Dia tidak hanya menandatangani dokumen. Ia baru saja menyerahkan kehidupannya kepada pria kejam sang iblis pebisnis.
Baskoro mengambil dokumen itu, memeriksanya sebentar, lalu mengangguk pada Devan. “Sudah sah secara hukum internal, Pak.”
Devan menatap Nara dengan seringai tipis yang mematikan. “Bagus.” Dia bahkan mengelus pipi Nara sekilas. “Julian, bawa dia ke Griya Tawang gue. Pastikan dia mandi dan berganti pakaian. Gue mau ‘aset gue’ keliatan bersih ntar malem.”
Nara hanya bisa tertunduk, menyadari kalau mulai malam ini, dia akan menjadi tawanan.
Sejenak dia jadi menyesalinya. Memikirkan bahwa seharusnya dia tak membubuhkan tanda tangan di atas namanya sendiri.
“Mari Nona.” Julian sudah bangun dari duduknya.
Nara terperanjat. Dia masih tidak mau pergi.
“Tu--tunggu sebentar!” selanya, gugup.
Julian memandangnya datar, begitu juga Devan.
Devan mengeluarkan sepuntung rokok, menatap Nara dingin.
Nara menelan liurnya susah. “Se--sebelum aku pergi, apa aku bisa menelepon perawat yang merawat Ibuku?” tanyanya.
Julian siap angkat bicara, tapi Nara kembali bersuara. “Setidaknya biarkan aku melihat Ibuku.”
Itu adalah permohonan yang ringan tapi teerasa berat.
Devan mengangguk kecil. Ponsel yang sudah disita oleh Julian pun diserahkan kembali. Dia menghubungi Bu Indah, perawat yang dipercayai olehnya.
“Halo Bu.”
Kerongkongannya sakit. Pita suaranya seolah sedang diputus. Apalagi dengan tatapan tajam dari dua pasang mata yang terus memperhatikannya intens.
Sedikit berbicara, pada akhirnya Nara harus mengucapkan kalimat terakhirnya. “Bu Indah … tolong jaga Ibu ya? Saya … soalnya dimutasi.”
Berbohong.
Devan mengangkat sebelah alisnya, arogan. Dia diam-diam tersenyum sinis menyaksikan ketidakberdayaan Nara.
Sementara Julian terus memandangi bosnya itu, mempertanyakan alasan dengan uang sebanyak itu membuat kerangkeng bagi gadis yang sepertinya biasa-biasa saja.
“Sebentar. Mana?”
Nara menatap Devan ragu, dia bingung saat Devan mengulurkan tangannya.
“kartu pegawaimu.”
Nara merogoh saku roknya, mengeluarkan lanyard dengan kartu pegawainya. Devan seketika mengambilnya, dan menyalakan pemantik. Membakar ujung kartu sampai akhirnya terbakar, dia tersenyum seperti predator yang sudah mendapatkan mangsanya.
Nara hanya bisa menatapnya dengan lemah, kehilangan dan putus asa.
Dia adalah properti milik pria itu.
***
“Kamu bisa mengemas barang-barang yang diperlukan.”
Nara turun dari mobil mewah dengan canggung. Indekosnya masih terlihat sepi. Ya, pastilah rata-rata para penghuni yang merupakan karyawan baru pulang dan sedang beristirahat.
Julian mengekorinya.
“Bapak bisa tunggu di luar,” sergah Nara.
Namun, Julian tidak mendengarkan. Dia melangkah masuk seolah-olah tidak akan mengganggu siapa pun.
Baru sampai di ruang tamu, rupanya dua teman kamar Nara sedang mengobrol.
“Loh, Mbak Nara?”
Nara semakin gugup. Dia tersenyum, canggung. “Hai, Karin.”
“Bukan Mas Adhi?”
Pertanyaan itu membuat Nara bahkan bisa mengingat Adhitama, mantan calon suaminya. Nara tersenyum canggung dan malu.
“Kami sudah putus,” ucapnya lirih.
“Sebaiknya cepat ambil baranmu, hanya 30 menit.”
Nara segera memotong ucapan Julian. “Ya, aku akan berkemas segera. Anda bisa menunggu di luar, Pak.”
Semua menatap kehadiran Julian.
Bahkan Karin malah tersenyum genit. “Lebih ganteng, Mbak.”
Lalu teman indekos lainnya malah melihat ke luar, melalui kaca jendela. “Mbak, itu mobil siapa?”
“Itu … mobil sepupuku. Dia jemput aku karena aku mau pindah.”
Hanya itu caranya beralasan, setelah dipergoki.
Tentu saja kedua teman indekosnya jadi terkejut. Dia harus menciptakan kebohongan lainnya. “Aku dapat promosi mendadak ke kantor pusat di SG.”
“Serius? Aaa … senangnya! Keren Mbak.”
“Wah … congrats Mbak. Aduh … sad deh, jadi berkurang penghuni kos ini.”
Nara hanya berusaha tersenyum saja.
Pada akhirnya, Julian tidak lagi dicurigai walau mengekori Nara ke kamar.
Nara berkemas, berkas penting dan juga baju-baju yang menurutnya harus dibawa. Hanya masuk ke dalam satu koper.
Nara mengeluarkan foto dari bingkainya. Foto dia dan ibunya, saat tiga tahun lalu dia wisuda. Menyelipkan selembar foto ke dalam tasnya, tapi Julian menyitanya.
“Di tempat baru, kamu tidak butuh masa lalu.”