“Pak! Hentikan--hmppp!” Nara memberontak, menarik kepalanya kuat-kuat agar tautan bibir Devan terlepas, tangannya terkepal kuat, berusaha memukul d**a bidang pria itu.
Tidak!
Ini gila!
Sesaat, Nara sampai membeku, napasnya tercekat saat benda dingin nan lembab dengan aroma mint bercampur tembakau menyeruak ke dalam indera penciumannya.
Namun, otaknya segera mencerna keterkejutannya.
Tiba-tiba saja Devan malah menciumnya, kasar dan kuat.
Tapi tetap saja, perlawanannya sia-sia saat tangan besar Devan dengan mudah menangkap tangan kurus Nara dan tangannya yang lain menahan tengkuk gadis itu.
Lagi, Devan melahap kembali bibir Nara yang begitu menggoda baginya. Terlukis cantik dengan warna merah muda yang mampu membuat kepalanya terus menerus membayangkan rasa bagian tubuh wanita itu.
Nara semakin memberontak, tetapi kalah jauh.
Devan merangkul tubuhnya erat, menekan Nara yang jauh lebih kecil darinya semakin menempel dan tangannya mendorong paksa tengkuk Nara agar dia semakin leluasa.
Alarm peringatan mulai berdering di dalam kepala Nara.
Menggaung kencang, meneriakkan kepada Nara untuk bisa lepas dari kungkungan pria itu.
Sialnya, tubuhnya yang terkunci jelas tidak bisa membuat Nara berkutik.
Bagaimana Devan dengan rakusnya melumat, menyesap rakus seluruh rasa dari gadis itu. Dia tak memberikan jeda sementara Nara kesulitan bernapas.
Tangan yang tadinya terus menggenggam kuat mengakhiri pemberontakannya. Nara tak bisa melawan d******i Devan.
Devan bisa tahu kalau Nara pada akhirnya menyerah.
Dia melepaskan cekalan tangannya, menarik diri dan melihat wajah pucat Nara. “Kamu harus tunjukan caranya memuaskanku, Nona, supaya aku mau menggelontorkan segepok uang,” bisiknya di sisi kepala Nara.
Hembusan udara saat dia bicara, nada rendah yang berat menggetarkan keberanian Nara.
Wanita itu merinding seketika.
Matanya memicing tajam kepada Devan. “Anda … melakukan pelecehan,” ucapnya, suaranya ikut bergetar.
Tak menduga kalau Devan menunjukkan kelakuan bejatnya.
Devan menyeringai kecil. Bibirnya jelas-jelas mampu meluluhkan wanita yang menginginkannya.
“Ini transaksi. Mau melanjutkan atau … batal?”
Nara terperangah seketika. Bibirnya terasa kebas dan membengkak, entah bagaimana Devan menciumnya. Bahkan … Adhi tak berani melakukannya. Hanya sekadar memberikan kecupan singkat di bibirnya.
Drrrt … drrt …
Ponsel Nara yang tergeletak di atas meja bergetar nyaring, memenuhi ruangan yang senyap itu.
Nara semakin sulit bernapas.
“Rumah sakit pasti minta pelunasan, kan?” tukas Devan.
Nara membeliak terkejut. Dia segera berdiri, tapi kakinya kehilangan keseimbangan untuk menopang tubuhnya sendiri.
Gadis itu hampir saja ambruk kalau tangan Devan tidak menyangga pinggangnya.
“Dari mana anda tau--”
“Kamu pikir dengan statusku, aku enggak akan tau?” balas Devan.
Nara terdiam. Dia seharusnya tidak terkejut mengenai keberadaan Devan. Sudah sangat jelas di media sosial, juga hirarki perusahaan tempat dirinya bekerja.
Devan tersenyum kecil, tangannya merayap perlahan mengelus punggung Nara sampai gadis itu menegang. Bisa dirasakan tubuhnya berubah kaku.
“Lunasi utangmu dan kamu masih bisa memberikan perawatan buat Ibumu, apa kamu enggak mau itu?” tanya Devan lagi.
Kedua tangan Nara mengepal kuat.
Batinnya masih saja bergulat antara opini, nurani dan logika.
Ini sangat tidak dibenarkan. Namun … dia sendiri pun tidak bisa memungkiri kalau dirinya benar-benar membutuhkan uang itu.
“Aku bisa carikan rumah sakit yang lebih memadai.”
Deg.
Nara menatap wajah tenang Devan secara terang-terangan. Menelisik demi menemukan jawaban dari keraguannya.
Devan segera bangun, tubuh tinggi tegapnya berdiri di hadapan Nara. Sangat dekat.
Tidak perlu melangkah, jarak mereka hanya beberapa senti saja. Aroma parfum tubuh pria itu sangat menggoda dan kuat mengikat.
Penampilan yang selalu rapi, pembawaan tenang dan dingin, juga tubuh yang mumpuni tentu berhasil menarik atensi para betina.
“Aku enggak suka menunggu, Nona. Waktuku banyak terbuang--”
“La … kukan!” sergah Nara cepat.
Seiring dengan ponselnya yang berhenti bergetar, menandakan sang pemanggil sudah menyerah untuk menghubunginya.
Devan mengangkat sebelah alisnya, memiringkan kepalanya sembari menatap Nara penuh mengejek. Ya, tawarannya tidak mungkin ditolak.
Mudah untuknya mengikat siapa pun yang diinginkannya.
Kali ini, Nara menjadi targetnya.
Nara menelan salivanya susah payah, matanya berkaca-kaca memandang Devan. “Lakukan. Beri aku uang itu,” imbuhnya.
Devan menekan interkom, memerintahkan seseorang. “Julian, proses dana lima milyar untuk Nara Anindita.”
“Pak Devan, apa yang anda sedang bicarakan?”
Nampaknya, orang kepercayaan Devan itu tak mengerti.
“Panggil juga staf legal,” perintah Devan tanpa mau menjelaskan.
“Pak Devan, saya masih tidak paham--”
Tapi Devan menarik jarinya, mengakhiri perintah.
“Duduk, Nara.”
Nara bingung, dia sampai kesulitan memutuskan untuk duduk di mana. Devan segera menuntun gadis itu untuk duduk di sofa.
“Aku enggak keberatan kalo kamu mau kasih aku servis lanjutan, Nara. Tapi … aku bukan orang yang curang.”
Nara mengerjap bingung.
Keputusannya malah membuatnya takut sendiri.
Kali ini Devan kembali menekan interkom, memerintahkan salah satu sekretarisnya untuk menyediakan jamuan bagi Nara.
Kali ini sekretaris senior yang datang.
“Anda butuh sesuatu lagi, Pak?”
Devan mengeluarkan kotak rokoknya, menyelipkan sepuntung di sela bibirnya. “Nope. Kalian semua boleh pulang.”
Perintah itu diangguki dengan patuh oleh sekretarisnya. Bahkan wanita itu melirik Nara sekilas yang sedang diam seribu bahasa.
“Kamu keberatan kalo aku merokok?”
Nara mengerjap, memandangi Devan dengan bingung. Dia juga orang yang mudah sungkan, hanya menggeleng kecil.
Devan menyalakan rokok, membiarkan asap rokok itu tercium oleh Nara. Gadis itu merasa tidak nyaman tapi tidak menunjukkannya sama sekali.
Hanya perlu menunggu beberapa saat sampai Julian dan seorang staf legal memasuki ruangan Devan.
“Saya tidak tahu apa yang anda bicarakan mengenai uang lima milyar,” seloroh Julian segera, bahkan sebelum sempat duduk.
Devan menatap dingin tangan kanannya itu. “Lo terlalu bawel, Julian.”
Julian terdiam saat melihat Nara. “Anda … tidak mungkin serius dengan hal itu bukan?” tanyanya lagi.
Devan menekan ujung rokok yang masih ada baranya. Membuangnya ke dalam asbak di sudut meja. “Apa lo pikir gue bercanda, Julian?”
Julian sudah siap membuka mulutnya, tapi Devan sudah kembali bicara. “Gue enggak butuh nasihat lo.”
“Tapi Pak Devan, ini--”
“Sekali lagi lo ngomong enggak jelas, gaji lo gue potong,” ancam Devan.
Julian mendesah berat. Rasanya dia masih ingin menceramahi atasannya itu tetapi Devan adalah Devan. Pewaris tunggal yang tidak akan bisa dilawan tentunya, dia memiliki banyak hal yang bisa mengontrol seseorang bahkan perusahaan sekali pun.
“Buatkan kontrak untuk transaksi lima milyar itu, Baskoro.”
Satu perintah lolos dari bibir Devan.
Baskoro, staf legal yang tiba-tiba dipanggil itu pun mendapatkan penjelasan. Bahkan Baskoro ikut tercengang, berat hati membuatkan kontrak yang dimaksud.
Nara hanya mampu menunduk.
Keheningan di ruangan itu pekat, senyap dengan suara jari-jari Baskoro yang beradu dengan laptop yang ada di meja terdengar seperti dentuman palu hakim. Nara meremas ujung roknya yang murah, gugup. Di depannya, Devan duduk dengan keanggunan seorang predator, menyesap wiski seolah-olah tidak ada nasib seseorang yang dipertaruhkan.
“Sudah selesai, Pak,” ucap Baskoro ragu.
Julian hanya duduk di hadapan Nara dengan tenang dalam diamnya.
“Kamu bisa jelaskan poin-poinnya sekarang.”
Baskoro mengangguk kecil, mendorong dua bundel dokumen tebal ke arah Nara. “Bu Nara Anindita, silakan lihat pasl 1 mengenai Transfer Kewabijan. Pihak pertama, Bapak Devan Anggara Reuben, telah melunasi utang pokok dan bunga Ibu sebesar 30 juta kepada enam kreditur berbeda. Bukti pelunasan terlampir di lampiran A.”
Nara terkejut sendiri, dia menelan salivanya susah payah. Memang benar, dia juga banyak mencicil untuk utang sebelumnya. Dia sulit mendapatkan pinjaman karena ada tunggakan.
“Juga tagihan rumah sakit Ibumu yang jatuh tempo pagi ini,” sela Devan tanpa mengalihkan pandangan. “Kalo kamu enggak tanda tangan kontraknya dalam 10 menit, Julian akan telepon pihak RS buat cancel. Kamu tau artinya kalau ventilator itu dicabut, kan?”