“Beri saya waktu 24 jam, Bu.”
Keputusan gila yang bahkan untuk kesekian kalinya dibuat oleh Nara.
Kali ini pandangannya tak beralih, satu pesan singkat yang membuat darahnya ikut mendidih. “Never,” tekan Nara sembari terus melihat satu balon chat yang terus terlihat.
Segera Nara bangun dari duduknya. Tidak ada waktu baginya untuk meratapi nasib kehidupannya. Memastikan beberapa opsi jalan keluar di dalam kepalanya, Nara mendatangi departemen finansial.
“Oh, Nara. Kebetulan kamu datang.” Sambutan kedatangan dibarengi senyuman dari staf payroll membuat Nara bisa berharap.
Wanita paruh baya itu segera menyodorkan berkas. “Ini untuk laporan keuangan gudang tiga, bisa kamu periksa cash flow untuk bulan kemarin? Saya tim audit soalnya mau datang.”
Wanita itu nampak tergesa-gesa.
“Ehm Bu Inge … saya … mau bicara?” Nara mendadak pesimis.
Dia dan Bu Inge sudah duduk berhadapan. Senyuman di bibir wanita itu tidak luntur sama sekali.
“Kamu bisa bicara sekarang, Nara.”
Nara menarik napasnya kuat-kuat, berharap kalau permintaannya akan terpenuhi. “Bu … saya ingin pinjam uang perusahaan.”
Raut wajah wanita itu nampak terpegun karena mendengar perkataannya. Nara menganalisa jawaban dari ekspresi wajah Bu Inge.
“Berapa, Nara?”
Nara menggigit bibir bawahnya, merasa kerongkongannya mendadak kering kerontang. “80 juta, Bu.”
“Ah, itu prosesnya satu minggu. Kamu bisa isi form dulu, karena pinjaman besar butuh review dari manajer keuangan,” terang Bu Inge sembari menyerahkan selembar kertas.
“Bu … apa tidak bisa dipercepat?” Nara semakin resah.
Waktunya untuk mendapatkan uang hanya 24 jam. Apa-apaan ini?! seperti halnya dia sok-sokan menyanggupi pembayaran tagihan rumah sakit itu.
Bu Inge menghela napasnya pelan. “Nara, pinjaman perusahaan bukan dana darurat. Kamu harus tau itu. Yang saya lakukan meneruskan pengajuan pinjaman staf ke manajer lebih dulu, jadi saya harap kamu bisa memaklumi hal itu.”
Tidak bisa.
Itu jawaban pastinya.
“Baik Bu, terima kasih banyak.”
Sambil membaca laporan keuangan, Nara tetap memikirkan beban besar itu.
“Kok melamun Kak?”
Nara tidak terkejut sama sekali dengan kehadiran Gina. “Sudah meeting-nya?” tanyanya.
Gina mengangguk, tapi bibirnya sudah merengut. “Pak Devan enggak datang. Kecewa berat penonton,” desahnya sembari menaruh bokongnya ke kursi.
Nara tersenyum kecil saja.
“Kok mukanya kucel gitu sih Kak? Pasti berantem sama Mas Adhi ya?” Gina bahkan sengaja menggoda Nara.
Sayangnya, Nara tak mengelak. “Udah putus, Gin.”
“Hah? Putus? Serius?”
Gina dan keterkejutannya pun tidak membuat Nara merasa lebih lega. “Ehm … Gin, kamu … ada uang dingin enggak?”
“Maksudnya Kak?”
“Aku mau pinjam, 80 juta, ada enggak?”
Gina mengerjap berkali-kali, mulutnya terbuka dan tertutup. Lantas dia tertawa kecil. “Ah, haha! Kak Nara bercanda ya? Haha, 80 juta buat apaan Kak? Ada-ada aja. Aku staf admin, gaji ga besar loh Kak.”
Ya, mana mungkin Gina punya uang sebanyak itu.
Nara meringis sendiri.
Melihat ekspresi Nara yang semakin lesu, Gina merasa kasihan juga. “Ada masalah di rumah ya Kak?”
Tidak ada yang tau tentunya.
Nara mengangguk lemah.
“Pinjol aja Kak, coba.”
“Aku coba beberapa aplikasi, belum ada yang tembus. Verifikasi butuh satu hari sampai seminggu, Gin.”
Buntu.
Itulah yang dirasakan Nara.
Panggilan masuk yang terus menyudutkannya semakin menambah tekanan di kepalanya. “Bu, tolong … jangan cabut dulu. Saya sedang cari uangnya! Ibu saya bukan mainan! Dia bisa mati kalau alat-alat dicabut, Bu!”
Setengah berteriak, di halte, tak peduli banyak orang yang melihat. Nara sampai menangis tergugu, memohon pada seseorang.
Apa ini satu-satunya?
Devan Anggara.
Setengah berlari kembali ke kantor, kali ini Nara menuju lantai jajaran dewan direksi. Ruangan yang dicarinya berada di paling ujung kanan.
Hanya ada satu pintu.
Tangannya meraih kenop pintu, tapi sekretaris direksi sudah mencekal tangannya. “Kamu mau apa?” tanyanya, ketus.
“Saya mau ketemu CEO, Bu.”
“Ck, harus buat janji dulu!” sergah wanita bersanggul rapi itu dengan garang, matanya melotot tak suka melihat kehadiran Nara.
“Pak Devan enggak akan menolak kedatangan saya.” Nara berkilah, dia menaruh keyakinan itu.
Sementara salah satu sekretaris Devan itu merotasikan matanya jengah. “Udah banyak cewek kurang ajar yang kayak kamu. Enak aja! Mending kamu pergi sebelum saya panggil satpam ya?”
Nara tak peduli, sekuat tenaga dia membuka pintu.
CKLEK!
“Berhenti! Apa-apaan ini?!!” teriak sekretaris itu lagi.
Dia berusaha menarik tubuh Nara.
“Pak Devan, saya Nara!” Nara pun ikut berteriak, mengumumkan kehadirannya.
Devan yang sedang berbincang dengan Julian pun segera mengangkat pandangannya. Dilihatnya Nara dan sekretarisnya sedang saling tarik.
“Maaf Pak, maaf. Orang ini tiba-tiba aja mau masuk--” Sekretaris itu panik sendiri.
Dia enggan untuk kehilangan pekerjaannya!
“Pak Devan, saya butuh bicara dengan anda!” sela Nara lagi.
Dia masih berusaha memaku dirinya agar tak diseret keluar ruangan.
Devan menyeringai, “Lo boleh pergi, Julian,” perintahnya.
Julian segera bangun dari duduknya, “kamu ikut saya keluar, Sinta.”
Sinta meringis, “Pak, saya enggak dipecat kan?”
“Tidak akan.” Bahkan Devan ikut menjawab.
Sinta merasa lega, dia menatap curiga Nara tapi akhirnya menutup pintu ruangan.
Devan tersenyum kecil, “beruntung aku masih di kantor, bukan?”
Nara merasakan mulutnya semakin kering. Air liurnya tak diproduksi karena perasaan malu dan gugup yang melandanya.
“Duduk, Nona.”
Nara membetulkan roknya, duduk di seberang Devan sembari menyilangkan kakinya sendiri. Kali ini … dia benar-benar menjadi wanita tanpa harga diri.
Mereka hanya saling diam.
Devan dengan tatapan dinginnya yang tajam seolah menguliti Nara, dan Nara dengan rasa malunya yang masih melingkupinya.
“Kalau kamu tidak bicara, aku akan pergi,” tukas Devan seraya bangun.
Nara terkejut. “Saya!” Dia berseru spontan.
Devan memiringkan kepalanya, memandang rendah Nara dengan senyuman menyeringai di sudut bibirnya.
“Saya?” ulangnya.
Nara menundukkan kepalanya, tangannya terkepal kencang di atas pangkuannya. “Ta--tawaran semalam … a--apa masih berlaku?” bahkan ia menjadi terbata-bata.
Napasnya ikut terpatah-patah.
Tidak. Ini gila!
Hentikan Nara!
Devan berjalan menuju meja kebesarannya. Dia memandangi landscape Ibu Kota dari balik dinding kaca. Kedua tangannya bersarang di saku celananya.
Pria itu berdiri tegap, dengan tubuh atletisnya.
Nara menelan salivanya susah payah.
“Aku bisa beri kamu lima milyar.”
“Ya?” Nara mengerutkan alisnya, bingung.
Devan berbalik, tatapannya begitu dalam seolah menyeret Nara ke dalam kegelapan. Nara merasakan detak jantungnya menggila, dia gugup dan takut.
"Harganya lima miliar, Nara. Dan aku tidak menerima cicilan. Aku hanya menerima dirimu—utuh, tanpa sisa."
“Pak, saya butuh uang 80 juta saja--”
“Bersedia atau enggak, tapi aku mau test drive dulu. Gimana?”
Nara menggeleng ragu. “Test drive?” tanyanya.
Devan segera duduk di kursinya, menyandarkan punggungnya dengan kaki terbuka. “Kemarilah, Nara.”
Satu perintah yang membuat Nara menghampiri Devan, berdiri di hadapan pria itu.
Tiba-tiba saja Devan meraih pinggang ramping Nara, menyentak tubuh mungil itu hingga terduduk di pangkuannya.
Srek!
“Akh! Pak Devan! Apa yang--”
Nara berusaha bangun, dia panik tapi tangan Devan menahan tubuhnya. “Lima milyar bukan uang yang kecil, seenggaknya aku harus tau dulu gimana servis kamu,” bisik Devan.
Nara mengerjap kebingungan sebelum bibir Devan tiba-tiba saja berlabuh menekan bibirnya.
“Pak Dev--heuppp!”
Mulutnya dibungkam secara tiba-tiba oleh pria itu!
Devan tak sabaran melumat bibir Nara yang selalu menyita fokus pikirannya.