Bab 4

1180 Words
Sret! Segera Nara mengambil ponsel Devan, “apa maksud Mas?!” pekiknya setengah tertahan. Dadanya tergemap kencang, bak terkena hantaman batu yang menghancurkan seluruh perasaannya. “Na--Nara?” Bahkan Adhitama terkejut dengan suara yang didengarnya. “Mas mau menjualku sama pria lain?! Mas gila!” raung Nara saat itu juga. Dia terengah-engah, ia masih tidak habis pikir kenapa Adhitama rela melakukannya? Devan tersenyum kecil menyaksikan kemarahan Nara. Sangat menyenangkan untuk disaksikan. Sementara dia sudah sangat-sangat menginginkan Nara tentu saja. Mengambil ponselnya kembali, Nara bergeming tanpa suara tapi iris coklatnya menajam pada Devan. “Sudah terbukti bukan?” tukas Devan yang kini menuangkan wine di gelas berkaki yang kosong. Nara masih tidak percaya. Dia dijadikan benda transaksi bagi calon suami dan juga pria kurang ajar itu. Menarik napasnya kuat-kuat, wanita itu berdiri tegak di hadapan Devan. “Saya tidak peduli transaksi apa yang kalian lakukan. Tapi Pak Devan Anggara, sebaiknya anda tidak menjatuhkan harga diri anda di hadapan saya untuk terlihat kurang ajar.” Kata-kata itu sangat sinis, penuh ketidaksukaan dan juga marah yang ditahannya. Devan masih diam saja, hanya sibuk memperhatikan bibir Nara yang berkerut. Pikirannya sudah sangat kacau saat ini. “Aku bisa memberikanmu uang, Nona.” “Saya tidak butuh uang anda. Permisi.” Nara berbalik, sudah berniat pergi. Namun, kata-kata Devan mengurungkannya. Devan memandangi gelas berisi red wine. “Berapa yang kamu mau? Seratus juta? Dua ratus juta?” Nara berbalik, pandangannya semakin ketus. Semakin Devan menyebutkan angka seolah dia adalah sebuah barang yang bisa dibeli, semakin menambah rasa kesalnya. Sela jari Devan menjepit kaki gelas, menggoyangkan gelas berisi wine pelan. “Sebutkan saja. Kau tau aku kaya raya, Nona.” Pernyataan arogan itu penuh kesombongan tapi Devan memang memiliki harta yang tidak habis tujuh turunan. Nara tahu itu. Nara segera mengambil gelas wine, mengangkatnya sedikit. “Selain kurang ajar, kamu juga enggak tau artinya untuk berhenti ya?” bisiknya. Tanpa aba-aba lagi, Nara menyebor Devan dengan red wine. Tepat di wajahnya. Splash! Tak! Gadis itu segera menaruh kembali gelasnya, sementara wajah Devan sudah basah dengan red wine. Nara menyeringai, mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di saku kemeja Devan. Pria itu sedang terkejut seribu kali lipat. Bagaimana wine mengenai wajahnya. Namun, wajahnya tanpa ekspresi, dingin. Rahangnya mengeras, tanda kalau Devan menahan amarahnya. “Ini biaya untuk laundry kemeja kamu.” Nara segera berlalu pergi meninggalkan bar itu. Berjalan tergesa-gesa sampai kakinya terasa ngilu. Dia hanya berada di dalam lift sendirian, menahan kekesalannya saat ini. Drrrt … drrrt … Ponselnya bergetar hebat. Nara hanya melihat kontak yang tertera di layar. Mas Adhi Cukup. Segera Nara memblok nomor itu tanpa ada keinginan untuk menjawabnya sama sekali. Dia jengah. Adhitama, pria yang dipercayainya sepenuh hati, pria yang dilabuhkan rasa cinta darinya itu malah menjadi seorang b******n di hadapan atasannya. Nara hanya ingin beristirahat untuk saat ini. Dia memilih pulang dengan taksi, tidak memikirkan entah pengeluarannya membengkak atau tidak. “Sudah sampai, Non.” Nara memberikan selembar uang tanpa meminta kembaliannya. Dia mengabaikan kehadiran Adhi yang berdiri di depan indekosnya. “Sayang, Nara, kamu tadi salah dengar--” Sret! Menarik tangannya agar terlepas dari tangan Adhi, “enggak ada yang salah dengar! Kamu jual aku, calon istrimu untuk dijadikan pelampiasan nafsu laki-laki kurang ajar itu!” teriaknya. Tak peduli kalau nantinya dia dijadikan tontonan. Adhitama menggeleng, kencang. “Enggak Nara. Mas pikir … Pak Devan cuma mau mengobrol sama kamu, Nara.” “Enough! Mulai sekarang, kita enggak saling kenal,” tegas Nara saat itu juga. Adhitama menggeleng kuat, merangkul Nara tanpa izin. “Nara … maafkan Mas, Nara. Mas cinta sama kamu, kita akan menikah--” “Enggak ada pernikahan di antara kita, Mas! Kamu udah jual aku demi jadi manajer, b******n!” maki Nara penuh kemarahan. Namun, Adhi semakin mengencangkan pelukannya. “Lepas!” Wanita muda itu memberontak, tapi Adhi tetap memeluknya. Nara yang dipenuhi rasa kesal segera mengangkat kakinya, menginjak kuat-kuat kaki Adhi. Ah, baguslah dia mengenakan pantofel dengan heels. “Arrghhh!!!” Adhitama kesakitan, spontan memegangi kakinya. Nara menyeringai. “Mulai sekarang, jangan pernah datangi aku lagi.” Nara segera masuk ke dalam indekos, membiarkan Adhi yang tengah meringis kesakitan. Masa bodo kalau ibu jarinya putus, ah itu sangat bagus. Nara berakhir tak bisa tidur, mengutuk perbuatan mantan calon suaminya. Dia menangis dalam deritanya. “Dasar gila! Sinting!” Dia terus mencaci sembari merobek foto-fotonya bersama Adhitama. Cinta. Rupanya menyakitkan. *** “Wah … semangat banget nih, datang paling awal,” celetuk Gina, rekan kantor Nara saat melihat Nara sudah duduk di kubikelnya. Nara hanya tersenyum kecil, terpaksa. Dia datang pagi-pagi karena kepalanya penuh memikirkan biaya tagihan rumah sakit dan juga … kebrengsekan Adhitama dan Devan. “Kak Nara, nanti ikut meeting dengan vendor enggak? Dari PT. Karya Emas.” Gina menaruh sebungkus snack mini di meja Nara. Nara memundurkan kursinya sedikit, agar bisa berhadapan dengan Gina. “Enggak, aku banyak To-Do nih. Kamu aja ya?” Gina cekikikan sendiri. “Sayang banget, padahal … nanti katanya CEO perusahaan akan ikut meeting loh.” Gina berbisik, “CEO kita, Pak Devan Anggara.” Sial. Kenapa juga nama itu harus disebut? Nara semakin dongkol mengingat semalam. “Kamu kan fans berat Pak Devan, bagus dong. Aku kasih peluang.” Sedikit percakapan yang berakhir dengan mulainya jam kerja. Nara masih fokus membuat laporan dan juga bulak-balik ke dalam gudang. Namun, satu panggilan berhasil membuatnya tidak bisa bekerja. “Halo. Maaf, Bu Indah. Kenapa telepon ya?” Pasti tagihan. Nara memang belum membayar. Niatnya mencari pinjaman, mentok pun pinjaman online. “Mbak Nara, kamu sudah memutuskan berhenti ya?” “Kenapa Bu?” Perasaan Nara mulai tak enak. “Ini … Bu Khadimah … sudah enggak dirawat di sini lagi ya?” Nara mengerutkan keningnya, bingung. “Bu … ada apa ya?” “Ini … alat-alat yang dipasang ke Bu Khadimah akan dicabut, katanya … kamu sudah berhenti merawat Bu Khadimah.” DEG! “Saya enggak berhenti Bu, saya lagi mau bayar tagihannya.” Nara bak dikubur dalam keputusasaan. “Saya ke rumah sakit sekarang!” putusnya. Menemui pihak rumah sakit, dia mendapatkan sebuah kabar yang sangat buruk. “Maaf, tapi ruang rawat akan dipakai, kamu salah satu yang menunggak. Rumah sakit swasta bukan tempat sedekah, Mbak. Jadi …” “Dia pasien koma, Bu! Gimana bisa Ibu melakukan itu?! kalian mau menjadi pembunuh?!” tuduh Nara yang begitu terkejut, nada suaranya pun meninggi. “Kamu bisa memindahkan Ibu kamu ke RSUD, Nara.” Tidak! Itu sama saja memutus rantai nyawa ibunya! “Saya akan melaporkan ke polisi mengenai rencana pembunuhan.” “Mbak Nara--” “Saya akan lunasi hari ini, jadi tolong Bu, tolong jangan cabut alat-alatnya.” Nara semakin dibuat buntu. “Maaf, Mbak Nara. Kalau kamu mau melanjutkan, kamu harus melunasi tagihan juga harus pindah ruangan.” Nara hanya duduk diam, mengingat ucapan pihak rumah sakit. Tagihan lama dan juga tagihan baru. “Dari mana uang puluhan juta?” desahnya, lelah. Drrrttt … drrrttt … Nara melihat satu pesan masuk dari nomor tidak bernama. Kamu butuh uang? Kamu tau harus datang ke mana, Nona Cantik. DEG! Tangan Nara menggenggam kuat-kuat ponselnya, seolah akan menghancurkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD