Bab 3

1128 Words
Nara menarik bibirnya segaris tipis penuh penekanan, pandangan matanya memicing runcing. “Bisa tolong lepaskan tangan saya?” desisnya. Devan tersenyum, menatap tangan kurus Nara yang dipegangnya. “Sorry, here.” Segera pria itu melepaskannya. Nara mendecih sinis, kesal sendiri. “Saya permisi.” Segera Devan berdiri menghalangi Nara yang baru saja berbalik. Hampir saja gadis itu membentur tubuh besar Devan. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang nampak membetot tubuh atletisnya. Lengan bajunya sudah terlipat hingga ke siku, lekukan tubuhnya membuat bentuk kemejanya tidak lagi rapi. Jikalau saja Nara tak mendapatkan kesan pertama yang buruk terhadap Devan, dia tentu akan terpesona juga dengan sosok Devan. “Aku tidak mengizinkan kamu pergi, Miss.” Nara mendongak, pandangannya kian menajam. Tingginya Devan membuat dia harus mengangkat pandangannya juga. “Aku tidak tahu apa yang Bapak bicarakan dengan Mas Adhi, tapi itu bukan urusanku. Jadi saya permisi.” Nara berusaha untuk beranjak dari tempatnya, tapi Devan malah merangkul pinggang Nara dengan tangan besarnya, dia berdiri semakin dekat, menghapus jarak. Pria itu menunduk. Nara terkejut, dia berusaha menjaga jarak tapi tubuhnya malah membentur kursi yang tadi didudukinya. Brug! Dia yang kehilangan keseimbangan pun terduduk begitu saja sementara tangan Devan semakin merapat di pinggangnya. Devan menyeringai, menyaksikan ekspresi terkejut dan jengah di wajah mungil Nara yang cantik jelas membuat nurani berburunya tumbuh. “Jadi ini maumu?” bisiknya, seraya menundukkan kepalanya. Nara kelabakan karenanya, “Pak! Tolong singkirkan tangannya!” pekiknya panik. Devan malah meraih sisi wajah Nara. Gadis itu dibuat membeku karena sikap berani yang terkesan kurang ajar itu. “Tenanglah. Sudah kubilang aku ingin mengobrol denganmu. Orang-orang ikut menonton kita berdua, Miss.” Suara berat Devan malah menambah gemuruh di balik d**a Nara. Gadis itu merinding sendiri karena getaran suara yang dalam dan khas. Darahnya berdesir panas. Jantungnya berdetak cepat. Nyalinya mendadak ciut dan napasnya ikut tercekat. Aroma parfum sandalwood yang melintas lembut bercampur vetiver begitu khas earthy semakin menambah kesan dominan pria bertubuh jangkung itu. Nara sulit untuk mengalihkan pandangannya saat wajah Devan begitu dekat jaraknya. Wajah rupawan yang selalu dielukan banyak orang termasuk dirinya saat melihat postingan di media sosial. Foto-foto penuh kharisma berwibawa, jelas sama seperti aslinya. Nara berusaha menahan diri, untuk tidak menjerit. “Tolong … menjauh,” bisiknya, tubuhnya sudah begitu lemas. Sesaat Devan hanya diam saja. Manik coklat pekatnya masih menatap terang-terangan seolah ingin mengikat Nara saat itu juga. Nara semakin mendengar gemuruh detak jantungnya sendiri. Gadis itu melarikan irisnya ke segala arah, enggan untuk ikut terpikat dengan rupawan Devan. Devan tersenyum kecil, menarik tangannya dan dia duduk segera di samping Nara. “Kamu ingin pesan apa?” tanyanya. Nara berusaha untuk menstabilkan detak jantungnya terlebih dahulu, juga dia yang kemudian duduk tegak, meluruskan punggungnya. Sentuhan Devan di pinggangnya seolah masih terasa, begitu membekas kuat. Gadis itu menggeleng kecil, “tidak usah--” “Obrolan kita akan panjang.” Nara menoleh segera, memandangi Devan, penuh pertanyaan. “Obrolan apa yang dimaksud? Aku rasa tidak ada urusan apa pun dengan anda.” Devan terkekeh kecil, kembali menenggak bir kalengan yang jauh dari seleranya. Memang, dia yang sedari tadi terlalu fokus pada Nara pun tidak peduli memilih minumannya. Meskipun penerangan di bar hanya remang-remang, mengaburkan pandangan mata, tetapi dia bisa melihat jelas wajah Nara. “Tagihan 25 juta.” Nara tersentak mendengarnya. “Itu bukan urusan anda,” decaknya, tak suka. Devan tergelak sendiri. “Kamu akan menikah dengan pria itu?” “Siapa pria yang anda maksud--” “Pria yang bahkan dengan senang hati mengantarkan kamu kepadaku, Miss.” Panggilan ‘Miss’ itu terasa begitu mencekik bagi Nara. Wanita muda itu hanya bisa diam, dia masih bingung dengan sikap tunangannya. Nara menghela napasnya pelan. “Jika tidak ada pembicaraan serius, aku sebaiknya pamit sekarang. Sudah malam--” “Berapa harga untukmu semalam?” Nara yang baru saja menurunkan satu kakinya kembali membelalak. Dia pun menuding wajah tampan Devan, “kupikir tadi sore hanya salah dengar, rupanya anda memang pria kurang ajar.” Kalimatnya penuh kesinisan. Devan tersenyum kecil. “Aku tau kau butuh uang. Sebaiknya sebutkan saja nominalnya.” Nara meniup udara penuh kesal. “Huh … Tuan Devan Anggara, carilah wanita lain. Banyak yang bersedia merangkak di ranjangmu, bukan?” balasnya, sengit. Devan menyeringai, dia sedikit memajukan tubuhnya ke hadapan Nara. “Yang aku inginkan adalah kamu, Nara.” “Tapi saya tidak menginginkannya.” “Hm … kenapa? Kamu takut Adhitama mempermasalahkannya?” “Anda benar-benar kurang ajar sekali,” maki Nara berbisik, tangannya terkepal kencang di atas meja. Devan semakin tergelak mendengarnya. “Apa yang sudah dilakukan calon suamimu untukmu? Kamu bahkan bekerja sampai lembur-lemburan, membayar perawatan Ibumu yang koma, pontang-panting bahkan kamu hanya bisa membayar kamar kos sepetak, lalu apa kontribusi pria itu?” Nara mengerjap tak percaya, dibuat ternganga sendirian dengan penuturan Devan. “Kau ingin tahu sesuatu?” Nara terkekeh sinis, dia sudah berdiri tegak. “Saya tidak harus mendengarkan ocehan anda bukan?” Gadis itu berbalik, dan berniat meninggalkan Devan yang menurutnya sudah terlalu sinting. Devan meremas kaleng bir yang sudah kosong sampai remuk, saking kencangnya. Dia tengah menahan diri untuk tidak menyeret Nara tanpa belas kasihan. “Aku mengiming-imingi kenaikan jabatan untuk laki-laki itu, Nara.” Bahkan sekarang Devan berani memanggil namanya. Nara masih tidak percaya sama sekali. “Huh? Anda sedang bercanda ya?” tanyanya, setengah menyindir. “Jabatannya manager, gaji 100 juta. Itu menggiurkan sekali, kan?” Nara menggigit bibir bawahnya, menggeleng keras. “Anda benar-benar gila. Apa anda meminta Mas Adhi menjualku kepada anda?” Tak! “Bingo!” Devan menjentikkan jarinya, tersenyum kecil. Nara semakin tercengang. Dia menggeleng kuat-kuat, “kamu benar-benar gila,” umpatnya mendesis. “Aku bukan milik siapa-siapa, jadi hentikan ide gila anda, Tuan Devan Anggara.” Devan tersenyum mendengarnya. “Huh, enggak percaya ya? Oke, silakan kamu dengarkan sendiri.” Segera Devan menghubungi seseorang, Adhi. Melalui ponsel selulernya yang mahal, digeletakkan di atas meja bar. Nara ingin menyangkal, dia ingin pergi, tetapi entah kenapa kalimat Devan seolah memaku tubuhnya. Dia merasakan ada pedang menghujam di dadanya mendengar penuturan Devan. Tidak mungkin Adhi menjualnya. Untuk apa? Sekadar naik jabatan? “Halo, siapa ini?” “Adhi, saya bisa membuat kamu diangkat menjadi general manager.” Deg! Nara membeliak hebat, napasnya ikut terhenti seketika. Kedua tangannya jadi berkeringat dingin. Suara di seberang sana jelas dia kenali sebagai calon suaminya. Devan melanjutkan bicaranya, karena Adhi tak menjawab. “Kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?” “Saya … sangat berterima kasih, tetapi--” “Naik jabatan di perusahaan enggak mudah, Adhi. Kesempatan ini cuma satu kali datangnya,” sela Devan lagi. “Bukannya kamu mengincar jabatan itu? Pikirkan lagi.” Devan menatap intens Nara, memperhatikan perubahan raut wajah wanita itu yang nampak memucat. Devan menyeringai. “Pak Devan, saya … tolong rahasiakan ini dari Nara. Anda boleh mengambil Nara.” DEG!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD