Bab 2

1016 Words
“Dasar laki-laki edan!” desis Nara Nara terengah-engah usai dirinya setengah berlari kembali ke gudang. Gadis itu berkali-kali berdecak kesal mengingat apa yang baru saja terjadi. Dadanya bergemuruh dipenuhi emosi. “Dia … bukan CEO pasti, dia …” Nara bahkan meracau, pikirannya masih terpaku pada apa yang terjadi barusan. Sangat tidak mungkin. Ya, seharusnya tidak mungkin. Nara merogoh saku celananya sendiri, tidak ada alat komunikasinya. “Ck, tadi jatuh, enggak aku ambil,” desahnya. Bahunya turun dengan lunglai. Ini semua karena Devan. Tidak, dia juga penasaran kenapa Adhi, tunangannya ada di sana bersama pria kurang ajar itu. Nara terburu-buru menyelesaikan lemburannya, memastikan pekerjaannya sudah beres. Kali ini dia hanya memasukkan semua berkas pekerjaannya dengan asal ke dalam tas. Gadis itu lebih memilih untuk segera melakukan absensi sebelum meninggalkan kantor. Langkah kakinya tak lagi berbalik, tanpa berpikir dengan uang yang dikeluarkannya, gadis itu bahkan sudah menghadang taksi yang kebetulan lewat. “Pak ke RS Gunadharma ya?” ucapnya kepada sopir. “Baik, Bu.” Nara menyandarkan kepalanya, mencoba memejamkan matanya. Sudah malam dan dia sekarang malah baru pulang dari pekerjaannya. “Tagihannya,” lirihnya. Nara menghela napasnya pelan, terpaksa membayar ongkos lebih karena mengingat panggilan yang tadi diterimanya. Memasuki kamar rawat sang ibu, Nara melihat perawat yang sedang membalik tubuh ibunya. “Bu Indah?” panggilnya. Perawat berusia 40 tahunan itu tersenyum melihat kedatangan Nara. “Sudah sampai.” Nara mengangguk saja. Dia hanya memandang kosong wanita tua yang terus saja terbaring tanpa membuka matanya sama sekali. Bahkan peralatan medis menempel di tubuhnya tetap tidak mampu membuat wanita itu terbangun dari tidur lelapnya. “Saya mau cek biayanya dulu ya Bu?” Nara segera meninggalkan ruang perawatan. Bahkan Bu Indah, perawat yang memang sudah berbulan-bulan merawat ibu Nara pun hanya bisa ikut kasihan terhadap nasib Nara. *** “Untuk tagihannya 25 juta ya bulan ini,” tukas petugas administrasi sembari menyerahkan lembar tagihan kepada Nara. Nara menggigit bibir bawahnya keras, berat hati menerima kertas itu. “Bu … apa bisa diundur waktu pembayarannya?” tanyanya ragu-ragu. Petugas administrasi itu hanya bisa tersenyum sungkan, tidak menjawab. Nara paham itu. Lagi, Nara hanya mengangguk saja. “Saya akan lunasi tagihannya.” Nara tak mau berlama-lama mendekam di rumah sakit. Hanya menunggui sang ibu yang koma, percuma saja. Menyeret kakinya dengan pasrah, gadis itu segera duduk di halte, menunggu bus transkota yang menjadi langganannya. Nara hanya bisa melamun, meratapi nasibnya sendiri. Nara melihat mobil sedan hitam yang terparkir di depan indekosnya. Nara jelas mengenalinya. Senyumannya ikut terbit. Seseorang yang selalu menjadi sandarannya kini datang. Mengetuk kaca mobil dengan pelan, Nara menampilkan senyuman terbaiknya. Tok tok. Nara sedikit mundur saat pintu mobil terbuka, membiarkan Adhi, tunangannya keluar dari dalam mobil. “Mas Adhi,” panggilnya. Adhi memandangi Nara intens dan lama. Nara sendiri segera meraih tangan Adhi yang besar dan hangat. “Kok enggak bilang mau ke sini?” Segera Adhi mengeluarkan ponsel Nara yang layarnya sudah retak. “Nih.” Nara terdiam sesaat, lebih tepatnya terkejut sendiri. “Kok HP-nya--” “Udah makan?” Nara terdiam, menggeleng pelan sembari menunduk. Adhi tahu betul karakter tunangannya itu. “Ayo cari makan.” Nara kembali menatap tunangannya dengan tersenyum lebar. “Oke.” Hanya sekadar makan malam, tapi menyenangkan bagi Nara. Dia bisa mengeluarkan keluh kesahnya sendiri. “Nara, ikut Mas sebentar ya?” “Eh? Mas Adhi enggak capek? Ini udah malam--” “Cuma sebentar kok.” Nara tak menaruh curiga, yang mengajaknya adalah calon suaminya sendiri. “Mas … dia Pak Devan yang itu kan?” “Hm, apa?” Adhi hanya menyahut tanpa mengalihkan pandangannya karena dia masih menyetir mobil. “Tadi … Mas Adhi ngapain ketemu Pak Devan?” “Oh … kerjaan aja.” Nara mengangguk canggung. “Oh …” Namun, gadis itu dibuat tercengang ketika mereka sudah berada di lobby hotel. Buru-buru Nara mengambil pergelangan tangan Adhi. “Mas … aku belum siap,” cicitnya. Adhi tersenyum kecil. “Bukan itu. Mas tau kok. Ayo ikut, sebentar aja.” Nara mengekori Adhi dengan ragu, sampai mereka berada di bar hotel. “Duduk Nara.” Nara mengedarkan pandangannya ke sekitar. “Mas … ini kan mahal, ayo pulang aja.” “Cuma sebentar, Nara. Ada yang mau ketemu kamu.” Nara mengernyitkan dahinya, bingung. “Siapa?” “Pak.” Nara ikut menoleh saat mendengar Adhi menyapa seseorang. Bola matanya membulat penuh, napasnya ikut tercekat saat melihat pria yang sudah berdiri menjulang di belakangnya. Devan Anggara? Devan segera duduk di samping Nara, kursi yang memang kosong. Sementara Nara semakin memicingkan pandangannya kepada Adhi, mempertanyakan kehadiran Devan melalui tatapannya. Adhi tersenyum kecil, mengusap lembut paha Nara. “Pak Devan mau mengobrol sama kamu, Nara.” “Mas, ini apa-apaan sih?” decak Nara di tengah kebingungannya. Adhi sendiri masih tersenyum penuh sopan kepada atasannya itu. “Sepertinya dia tidak mau bertemu denganku,” timpal Devan yang sudah membuka kaleng bir. Nara kembali menoleh, merasa aneh dengan kehadiran Devan. Dia kesulitan berkata-kata sekarang. Pria kurang ajar itu … duduk di sampingnya? “Mas Adhi, jelaskan kenapa dia ada di sini?” bisiknya kepada Adhi. “Kamu boleh pergi,” ucap Devan. Adhi tergemap. “Tapi Pak--” “Apa kamu sekarang ragu?” balas Devan, tatapannya dingin dan jengah. “Ragu?” Nara membeo, mempertanyakan pertanyaan Devan. Adhi berdeham kecil, “Mas pergi dulu ya?” “Mas! Kamu apa-apaan sih?! kenapa kamu pergi?” cecar Nara yang ikut bangun dari duduknya. Adhi mendorong Nara untuk kembali duduk. “Mas!” pekik Nara semakin kesal. Dia tidak tahu apa-apa, tiba-tiba terjebak bersama Devan. Pria kurang ajar yang tadi sore melecehkannya secara verbal. “Kamu nanti pulang diantar Pak Devan, Nara. Katanya dia mau mengobrol sama kamu,” terang Adhi sembari tersenyum, canggung dan bingung. Apalagi Devan terus menatapnya dingin, dia semakin merasa gugup. "Tapi Mas, ini apa-apaan sih?!" Nara semakin kebingungan, dia ingin mengekori Adhi tapi tangannya dicekal lembut oleh Devan. Nara berbalik, memberikan tatapan tajam kepada Devan. "Jangan sentuh saya," ucapnya memberikan peringatan. Devan tersenyum, tidak peduli tatapan permusuhan yang dilemparkan dari iris jernih Nara. “Aku yang akan mengantar kamu pulang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD