Prak!
Mendengar suara keras, Nara mencari sumbernya. Gadis itu segera menurunkan clipboard yang sedang dipeluknya dan mencari-cari keberadaan orang di sekitarnya.
“Akh! Huk! Huk!”
Nara terkesiap, suaranya terdengar aneh. Tidak seperti benda jatuh atau …
Gadis itu segera berbalik dan berjalan cepat hingga dia melihat satu gudang yang pintunya sedikit terbuka.
“Emangnya enggak dikunci ya?” selorohnya sembari mendekat.
Pintu itu hanya terbuka sedikit.
Kakinya berhenti mendadak, tubuhnya mematung bahkan matanya tak berkedip sama sekali ketika melihat Devan Anggara--pria yang hanya pernah dirinya lihat di layar televisi dan berseliweran di media sosial--sedang berdiri tenang sembari mengelap noda darah di tangannya dengan sapu tangan.
Deg!
Dada Nara berdebar keras ketika matanya melihat seorang pria tersungkur di lantai bersimbah darah.
“Ck, apa begini cara Bapak Johan berbisnis?” Suara pria itu tenang, menusuk. Namun … terdengar mematikan.
Nara masih memperhatikan diam-diam, mengintip dari balik pintu.
“Julian, mana?”
Julian, tangan kanan Devan segera menyerahkan tablet PC. Terburu-buru pria dengan luka lebam dan bibir berdarah menyeret tubuhnya, beringsut dan memeluk kedua kaki Devan.
“Devan! Devan! Jangan begini, saya mohon. Saya … saya cuma mau membantu kamu untuk bisa mendapatkan projek itu, Deva.”
Suaranya terdengar panik, sekaligus takut.
Devan mengembalikan tablet PC itu kepada Julian. Dia segera berjongkok, memandangi pria paruh baya yang sudah babakl belur.
Segera dia menepuk bahu pria itu. “Jadi … korupsi dana vendor tiga milyar itu termasuk usaha untuk dapat tendernya Pak?”
Johan terbungkam. Wajahnya pucat pasi, bahkan dia kehilangan kata-kata sekarang.
“Ck, b*****t,” desis Devan mengumpat.
Menghembuskan napasnya, kali ini kakinya menendang tubuh Pak Johan dengan kencang.
Buakh!
“Gue enggak peduli soal projek, Sialan!” teriaknya.
Pak Johan mengaduh kesakitan, tapi seketika Nara terdiam. Suaranya hilang melihat kehadiran satu pria lainnya.
“Mas Adhi …” suaranya sangatlah lirih.
Tidak.
Kenapa Adhi ada di sana?
Dia tak salah lihat.
Adhi, pria yang menjadi calon suaminya sedang berdiri di hadapan Devan. Sementara Devan mengusap tangannya yang terkena noda darah.
Nara melihatnya dengan jelas bagaimana Johan, pria paruh baya itu tak berdaya. Sudah babak belur dibuatnya.
“Ternyata kamu, Adhitama,” desis Johan, jengkel saat melihat seseorang yang masuk.
Adhi tak peduli tentunya. Dia tersenyum kecil, “kalau ada yang merugikan perusahaan, tentunya saya harus melaporkan bukan?”
Nara masih memperhatikannya dengan jelas.
Tring trinnng …
DEG!
Nara terdiam begitu mendengar nada dering ponselnya.
Tring trinnng …
Tidak! Jangan berbunyi!!!
Wanita itu panik, merogoh saku jaket dan celananya, mencari-cari keberadaan ponselnya sendiri.
Bahkan di dalam gudang itu pun ikut mendengar.
“Siapa di sana?!” Julian berteriak, memastikan.
Devan menutup matanya sesaat. Dia ikut melihat ke arah sumber suara yang menjadi gangguan. Sementara Julian berlari ke pintu.
Nara mendapatkan ponselnya.
Dia berniat mematikan panggilan itu, sayangnya tangannya terasa licin hingga menjatuhkan ponselnya sendiri.
Prak!
“Apa-apaan ini?!” Julian membentak dengan tangan yang merenggut baju Nara.
Nara berteriak ketakutan karenanya. “Aduhhh!”
Gadis itu tak jadi mengambil ponselnya, sementara di gudang, semua orang mulai memperhatikan pintu yang tidak tertutup itu.
“Ck, gangguan,” bisik Devan merasa jengkel.
Cekalan tangan Julian begitu kencang di kerah bajunya. “Pak! Tolong, maaf. Aku … aku enggak berniat mengganggu. Ini … ini … salah paham.”
Tapi ponselnya masih saja berdering nyaring.
“Julian! Bawa penguping itu ke sini!” teriak Devan yang sudah kepalang jengkel.
Nara ikut ketakutan. “Aku … aku akan pergi. Aku hanya sedang bekerja lembur--”
Ponsel Nara diambil oleh Julian, sementara tubuhnya diseret masuk. Nara semakin panik, dia kebingungan sendiri. Kakinya terseok-seok saat diseret kasar oleh pria bertubuh jangkung itu.
Brug!
Dia bahkan sudah didorong kasar hingga menerjang lantai yang berdebu.
“Ugh!”
Devan terdiam melihat seorang gadis yang bahkan sudah berada di hadapannya.
Tring trinnng …
Nara berbalik, dia berusaha merebut ponselnya. “Pak, tolong kembalikan, aku--”
Tatapan Devan dingin dan sinis. Nara seketika mengunci bibirnya sendiri, tapi kali ini Adhi terkejut melihat kehadiran Nara.
Dia ingin bertanya, sialnya masih ada Devan.
Nara menatap Adhi, tapi tunangannya itu malah berpura-pura tak melihatnya. Sementara Devan memeriksa ponsel Nara tanpa permisi.
“Tidak dikunci.”
Nara berusaha bangun, dia semakin berani mendekati Devan. “Pak … aku--saya … mohon.” Meralat ucapannya sendiri, dia jadi semakin ketakutan.
“Selamat sore, saya ingin mengirimkan tagihan rumah sakit pasien Khadimah sebesar 25 juta--”
“Pak Devan!” Nara memekik nyaring, berusaha menghentikan Devan yang membaca pesan itu.
Dia bahkan ikut terkejut sendiri mendengarnya. Tatapan mata Devan menghujam ke arahnya. Pria itu tiba-tiba saja melemparkan ponsel Nara ke lantai.
Prak!
Nara menatap tak percaya. “Apa-apaan--”
“Jadi kamu sengaja menguping, Nona?”
Nara ingin segera mengambil ponselnya, tetapi Devan malah mengeluarkan tuduhannya. Gadis itu menggeleng cepat, “saya … saya sama sekali tidak berniat menguping. Saya hanya sedang lembur.”
Devan terdiam.
Dia memperhatikan gerak-gerik Nara yang nampak gugup dan ketakutan. Gadis itu memang terlihat lusuh dan lelah.
Entah kenapa dirinya malah menginginkan sesuatu.
“Aku pikir … kamu memang sedang mengikutiku.”
Nara terdiam, hampir saja rahangnya jatuh mendengar kata-kata itu.
apa katanya? Mengikuti Devan?
Dia bahkan tidak tahu menahu soal Devan.
“Maaf Pak, saya benar-benar tidak sengaja.”
Devan mengusap-usap dagunya, dia melihat lurus ke arah d**a Nara. “Berapa ukurannya? 34? 36?”
Nara tak mengerti, mengernyitkan dahinya sendiri.
“Julian, kira-kira berapa?” tanya Devan.
Nara mengikuti arah pandang Devan. Menyadari ada yang salah dengan tatapan pria itu, segera dirinya menyilangkan kedua tangannya, berpura-pura membetulkan seragamnya.
Julian hanya berdeham kecil, sementara Adhi masih mempertanyakan apa yang akan terjadi pada Nara. Dia harus menanyakan kejelasannya juga kenapa Nara bisa diseret ke hadapan Devan sekarang ini.
“Tidur denganku.”
Nara diam, tak paham.
“Malam ini. Kau bersihkan dirimu dan pakai pakaian seksi.”
“Maaf?” Mata Nara menyipit, bingung.
Devan tersenyum, dia segera berdiri mendekati Nara. “Berapa maumu? Dua puluh juta? Empat puluh juta?”
“Sepuluh juta … dua puluh juta?” Nara membeo kebingungan.
Sementara Adhi ikut terkejut dalam diamnya, berbeda dengan Julian yang tak bereaksi apa-apa.
Devan tersenyum. “Berapa tarifmu jika kita tidur bersama?”
Nara membelalak hebat, tangannya mengepal kencang. “Anda gila, Pak,” desisnya mengumpat.
Devan tersenyum.
“Saya … hanya tidak sengaja, jadi saya permisi.”
Nara tak peduli dengan ponselnya yang harus dia ambil, dia malah berbalik pergi sebelum emosinya membumbung akibat ucapan tak bermoral itu.
Sebelum dia melangkah pergi, gadis itu berbalik. “Cari wanita lain aja, Pak. Saya udah mau nikah.”
Devan terdiam mendengarnya, dia tak menjawab tetapi dirinya malah semakin memandangi Nara yang sudah pergi menjauh dengan angkuh.
“Julian, cari data-data dia,” perintahnya sembari menyulut rokok.