Seorang pelayan berseragam rapi datang tanpa suara, menyajikan appetizer berupa foie gras panggang yang dihias cantik. Nara meraih garpu terkecil, namun sebelum ujung perak itu menyentuh piring sampai berdentang, suara Devan kembali menghentikannya. "Salah. Gunakan garpu yang paling luar. Dan pegang dengan jari yang lebih relaks. Kamu keliatan mau menusuk aku, bukan menikmati makanan mahal." Devan mendadak menjadi guru etiket dasar. Pria itu malah mendikte apa yang dilakukan Nara setiap gerakannya. Nara mengembuskan napas panjang, mencoba menahan emosinya. Ia meletakkan garpu itu dan mengambil yang benar. "Kenapa ini penting, Devan? Tidak ada orang lain di sini. Tidak ada kamera yang merekamku untuk film. Kenapa aku harus melakukannya?" Devan meletakkan gelas anggurnya. Ia menatap Nara

