Devan tetap mengungkung tubuh mungil Nara di bawahnya, membiarkan berat tubuhnya menekan gadis itu, seolah memastikan bahwa Nara tidak akan menghilang ke mana pun. “Sssh …” Nara merasa tidak nyaman, nyeri ketika Devan menarik keluar miliknya. Terasa perih. Tubuhnya pun remuk redam, begitu lelah. Untuk pertama kalinya, ia menyaksikan seorang Devan Anggara yang liar dan ganas menginvasinya. Tubuhnya dirasa porak poranda. Kelelahan yang menyerang pun membuat kelopak matanya terasa sangat berat. Devan bisa melihat wajah mulus banjir peluh itu nampak pucat dengan kerutan di bawah matanya. Dia menyeringai, segera berbaring di samping Nara. Keheningan segera datang menyergap, hanya menyisakan suara napas mereka yang saling bersahutan di tengah kegelapan griya tawang yang mewah. Malam itu,

