“Selamat pagi.” Untuk kedua kalinya, Nara menyapa. Dia sudah sangat tersiksa dengan hukuman dari Devan. Tidak ada yang menjawab meskipun Devan dan Julian sudah menunggunya untuk sarapan. Namun, mereka seolah tidak terpengaruh atas kehadirannya. Nara butuh seseorang untuk menemaninya. “Greth,” panggil Devan kepada pembantu yang sudah meletakkan kopi untuknya. Pembantu bernama Greth itu mengangguk, Devan mulai menggerakkan tangannya untuk berbicara dengan Greth. Bahasa isyarat. Diam-diam Nara memperhatikannya. Dia jadi tidak bisa berkutik sekarang. Hanya melahap makanan yang terasa begitu keras di mulutnya, berusaha menelannya dengan susah payah. Menyadari mogok makan juga tidak akan memberikan jalan keluar untuknya. Segera saja Nara menaruh sendok dan garpunya, menyusul Devan dan J

