Devan membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Nara yang memerah. Napasnya yang hangat terasa kontras dengan dinginnya penthouse itu. "Ingat rasa sepi ini, Nara. Rasakan gimana sesaknya kalau kamu bisa dianggap enggak hadir oleh dunia," bisik Devan dengan nada yang mematikan. "Itulah duniamu kalau kamu mencoba mencari jalan keluar dariku lagi. Jangan pernah coba untuk kabur lagi, Nara, karena aku bisa buat kamu merasa mati bahkan di saat kamu masih bernapas." Nara terdiam, membeku dalam pelukan Devan. Peringatan itu meresap jauh ke dalam sumsum tulangnya. Dingin dan kejam. Malam itu, ia belajar bahwa Devan tidak butuh borgol besi untuk menahannya. Devan telah memasung jiwanya dengan keheningan, dan kini, Nara terlalu takut untuk sekadar melepaskan pelukannya. Nara hanya bisa menangi

