Bab 25 -- Devan hampir saja mengumpat di depan Nara saat membaca hasil rekam pemeriksaan medis gadis itu. “Asma? Mag, lalu migrain? Apa saking miskinnya sampai kamu borong penyakit-penyakit ini Nara?” Devan memandang intens Nara yang sedang menggunakan nebulizer demi meringankan pernapasannya. Devan duduk dengan kaki menyilang, meletakkan berkas dengan elegan dari pergerakan tangannya yang pasti, pria itu bahkan tak habis pikir dengan kondisi Nara. Nara merasa lebih lega setelah Dokter Mira datang. Kepalanya tak lagi merasa pusing. “Kamu melewatkan jam makan, tidak tidur, lalu sekarang asma kambuh. Seberapa lemah tubuhmu, huh?” Kata-kata Devan tetap dingin tanpa emosi, tetapi lebih terdengar seperti omelan. Kalau saja Devan tidak membuat tekanan terhadap mentalnya, dia akan sehat.

