“Apa kamu akan pulang malam ini?” Nara mendadak seperti anak kecil yang rewel begitu melihat Devan sudah bersiap dengan pakaian rapi dan seperti biasa, Julian menunggu atasannya itu. Devan menatap datar Nara. “Kenapa? Kau ingin merengek lagi dan minta dipeluk kayak semalam?” Kalimatnya menggoda, tapi tatapannya dingin. Nara menunduk dalam-dalam, selain malu, dia juga ragu. “Semalam … aku tidur,” sanggahnya. Devan yang sudah selesai sarapan pun segera bangun dan berdiri di hadapan gadis itu. Nara yang melihat bayangan menutupi pandangannya segera mendongak. Devan tiba-tiba saja mengusap pipinya sebentar, lantas membungkuk. Mata tajamnya beradu pandang hingga membuat Nara jadi mematung seketika. Degup jantungnya tanpa menunggu sudah terpacu kencang. Ah, sial. Dia jadi ingat tadi pagi

