“Berhenti di situ!” sergah Nara yang mulai merasa di ambang bahaya. Langkah Julian tidak terhenti, “kenapa? Mau mengadu pada Devan?” Nara semakin terpojok. “Ya, aku akan mengadukan soal kamu kalau kamu tidak berhenti sekarang.” Itu hanya sebuah gertakan, tapi Julian hanya terkekeh sinis. “Adukan saja sekarang. Apa kamu pikir dia akan percaya dengan aduanmu daripada aku sebagai orang kepercayaannya.” Nara sungguh tidak paham, “aku tidak tau apa yang kamu bicarakan sebenarnya!” jeritnya, merasa frustrasi. Julian pun tidak ingin menjelaskan. Dia lebih ingin membuat gadis itu bungkam saja, atau kalau bisa hengkang. “Kamu benar-benar merepotkan,” tekannya. Nara mendapatkan gelas yang tak sengaja dia genggam secara asal. Dadanya bergemuruh kuat, hingga debarannya begitu kencang terdengar.

