"SELAMAT pagi, Mas Barry," sapa Bik Ninuk riang begitu melihat Barry berhenti di ambang pintu taman belakang. Kania menghentikan aktivitas makannya, menoleh ke arah Barry. "Pagi." Barry mengangguk dan melambaikan satu tangan sebagai balasan, setelahnya dia segera berdiri tegak, dan keheranan mengamati Kania. Tumben nggak ada sesi tangis, bujuk membujuk atau nggak mau makan, batin Barry. Kania menoleh sekali lagi. "Ayo, makan. Terus pemanasan, seperti aktivitas yang kamu susun sebulan lalu." Barry melihat Bik Ninuk, berharap wanita paro baya itu bisa memberikan jawaban atas kebingungannya. Sia-sia. Bik Ninuk mengangkat kedua bahunya. Salah makan, atau kemarin malam dapat hidayah, batin Barry sekali lagi sambil berjalan menuju meja makan bulat. "Duduk," perintah Kania tanpa memandang

