"NON Nia...." Kania berhenti menggambar dan menoleh ke asal suara. Bik Nem berdiri di garis batas ruang tidur dan area kamar mandi, membawa sebuket violet—bunga ungu favoritnya. Dia menghela napas, melirik meja panjang putih di sebelahnya—sudah ada empat buket dengan bunga yang sama meski berbeda cara kemas. "Dari Mas Alby." Tidak berminat menanggapi, Kania kembali melanjutkan gambarnya. Bik Nem meletakkan buket baru itu di samping yang lama, kemudian mendekati dia—mengelus rambutnya penuh sayang. "Beberapa hari ini Mas Alby nggak kelihatan, yang datang cuma bunga sama makanan aja," kata Bik Nem. "Oh iya, Bibi lupa bawa makanannya. Hari ini Mas Alby bawain cumi hitam kesukaan Non. Pas! waktunya makan siang. Bibi ambil—" "Nggak usah, Bi," larang Kania, menahan satu tangan Bik Nem tetap

