BARRY melewati ambang pintu tempat makan kecil dekat kampus Bianca. Si adik sudah duduk di salah satu meja, melambaikan tangan dengan perubahan drastic dari wajah sumringah ke khawatir. Barry melebarkan senyum. Dia baik-baik saja. "My Bibi Boncel," seru Barry riang. Memeluk Bianca tanpa memperbolehkan gadis itu beranjak dari kursi, lalu mendaratkan kecupan di puncak kepala Bianca. "Bang...." "Gue laper. Lo udah pesan menu favorit gue atau belum?" Barry duduk setelah meletakkan tas backpacker hitamnya di lantai dekat kaki. "Kalau belum, gue—" "Udah, Bang." Barry mengurunkan niat mengangkat tangan. Tersenyum semakin lebar. " Oke." Bianca memiringkan sedikit kepalanya, menyelidik—membuat Barry berpikir keras harus bicara apa—mencegah Bianca mempertanyakan kondisinya. "Eh, gimana kuliah l

