29

1272 Words

TIGA hari berlalu. Kondisi Laras membaik. Bagian perutnya tidak lagi sakit saat duduk. Kepalanya tidak lagi pusing dan berat. Area pribadinya tidak lagi perih ketika buang air kecil. Cuma hatinya yang tetap nyeri setiap kali beradu pandang dengan sang mama. Dia terus-menerus berharap Ibu Nike berteriak marah atau menamparnya berulang kali daripada berubah bisu. "Ma..." Laras sudah tidak tahan lagi. Dia ingin Ibu Nike meluapkan kemarahan padanya daripada diam-diam menghukum diri. Dia lebih suka melihat Ibu Nike menangis di depannya daripada menangis sendirian di kamar mandi. "Hmm." Ibu Nike melihat Laras beberapa detik, lalu kembali sibuk membereskan sisa makan Laras dan menyiapkan beberapa obat rutin yang harus dia minum. Laras meraih dan menggenggam satu tangan Ibu Nike, tetapi Ibu Nik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD