34

1046 Words

"BARRY, saya mau bicara. Sekarang." Suara yang tidak bisa diragukan lagi siapa pemiliknya. Perlahan-lahan Barry menoleh ke belakang, melihat si pemilik suara berjalan ke arahnya menggunakan kruk. "Kalau mau bicara tinggal bicara. Saya bukan orang penting yang mengharuskan buat janji dulu," jawab Barry, memalingkan wajah—sibuk membereskan peralatan yang baru dipakai latihan. Pikirannya diam-diam bertanya tentang kemarahan yang dia pelihara selama dua hari terakhir. Kenapa dia harus marah dengan sikap Kania waktu itu? Dan kenapa perempuan itu berusaha bersikap bersahabat lagi? Tidak. Lebih baik seperti ini. Seperti awal pertemuan mereka. Memudahkan Barry mengingat di mana tempatnya, dan siapa Kania. Kania berjalan memutari badan Barry, lalu duduk di kursis persis menghadap Barry. Tidak s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD