38

1432 Words

BARRY mondar mandir di ruang latihan yang kosong. Adrenalin yang aneh berpacu di badannya. Dia berusaha merasionalkan situasi antara Kania dan kalung—dua hal yang mengganggu pikiran dan pekerjaannya selama lima hari. Tetapi, dia tidak juga menemukan titik rasional itu. Bagaimana kalung itu menghilang dari kotak perhiasaan sang mama, dan ada di tangan Kania? Pikirannya terus memaksa jawaban yang lebih masuk akal. Beberapa sel otaknya menawarkan pendapat, mungkin kalung itu tidak sengaja jatuh dan ditemukan ibu yang memberikan kalung itu ke Kania. Namun, tidak mungkin.... "Kata Bik Ninuk; hari ini kita nggak latihan. Kenapa?" Satu pertanyaan mengudara bersamaan dengan suara pintu yang terbuka kasar. Barry membeku. Darahnya menjadi es, dan selama sesaat bibirnya tidak mau membentuk kalimat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD