14

1197 Words

"MBAK Nia, datang lagi!" Barry melongok dari pintu kamar, lalu menghilang sebelum Kania menanggapi berita tersebut. Kania membawa kursi rodanya mendekati pintu kamar. Gugup. Jantungnya berdebar tidak terkendali. Hari kedua Alby datang ke rumah tanpa memberitahu apa rencana lelaki itu, membuat dia dan Barry panik bukan main. Pintu kamar terbuka sedikit, dan Barry kembali melongok. "Kali ini bawa bunga sama itu—astaga, Mbak Nia! Ngapain di situ? Saya pikir demit." Kania memutar bola mata malas, menarik gagang sampai pintu terbuka lebar, nyaris membuat Barry tersungkur ke depan kakinya---untung tangan Barry cukup kuat menggenggam kusen pintu. Masih tidak memedulikan Barry dan segala bentuk ocehan cowok itu, Kania menjalankan sendiri kursi rodanya---keluar sampai ke tepi teralis pagar lanta

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD