Jantung Barry berdentam tak karuan, seperti sebuah drum yang ditabuh dengan nafsu. Kencang. Tak beraturan. Melelahkan. Dia bersandar di tembok samping pintu kamar Kania. Suara tawa Kania, rupa Kania beberapa saat lalu---menyusup dan menguasai sudut terdalam hati Barry. "Ngapain kamu di sini?" Suara tak terduga membuat Barry kewalahan mengurus jantungnya. Dia langsung berdiri tegak menghadap si pemilik suara, otaknya sibuk memilih satu alasan masuk akal. "Selamat malam, Pak Ryan. Mbak Nia---minta saya datang ke sini." Tanpa bisa dicegah, satu tanganya sudah mengusap tengkuk. Ini kejadian yang jarang terjadi, Pak Ryan datang ke kamar Kania. Tetapi bukan juga hal yang patut dipertanyakan sampai sedemikian rupa, toh, masih bagian rumah Pak Ryan dan kamar anak beliau juga. Yang jadi masalah,

