Setelah berkunjung ke studio, kini agenda Varrel adalah mendatangi tempat produksi. Seharusnya memang kemarin, akan tetapi harus Varrel pending karena ada meeting dadakan. Sehabis berpamitan keduanya kembali masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Sesekali Varrel melirik Ayna. Tidak seperti perjalanan awal, kali ini wanita itu diam menatap lurus ke depan. “Tumben kamu diam, Ay?” “Saya berisik salah, saya diam juga salah. Lalu saya harus ngapain, Pak?” Ayna menoleh menatap lelah pria di sampingnya. Umur Ayna memang masih muda, tadi pun tenaganya tidak diporsir, tapi entahlah rasanya dia mulai lelah. Jiwa-jiwa jomponya meronta. Varrel menyeritkan dahinya bingung. “Kapan saya nyalahin kamu? Ini tuh jatuhnya fitnah.” Mendengar itu Ayna menggerutu tidak jelas. Lama-lama sosok Varre

