Lamaran dadakan

1104 Words

Sesuai dengan rekomendasi yang Ayna berikan tadi, kini dia bersama Varrel sudah sampai di tempat duduk. Ayna yang berjalan lebih dulu membuat tatapan Varrel terus tertuju padanya. Sesaat Varrel menatap keselilimg. Ternyata Ayna tidak berbohong, tempat bubur langganannya memang di pinggir jalan. Akan tetapi hal itu tidak membuat Varrel mengurungkan niat. Layaknya seorang teman, Ayna bertegur sapa dengan sang penjual bubur tersebut. Varrel yang tidak tahu mau bicara apa memilih diam memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Saat sedang memperhatikan Ayna dari belakang wanita itu berbalik membuat tatapan mereka bertemu. “Gimana, Pak? Bapak mau makan di sini atau mau cari tempat lain?” tanya Ayna karena sejak tadi bosnya diam tanpa mengeluarkan suara. Dalam hati Ayna bisa menebak kalau

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD