Teman Baru

1228 Words
Kerajaan Air Pangeran Air atau Pangeran Kerajaan Van Water sedang berlutut memandangi api kecil di hadapannya. Ia mengambil ranting untuk mempertahan api itu. Pangeran Air semakin berbinar melihat cahaya dan kehangatan yang memancar dari api. "Aku tahu, kau sangat menyukai api, kan?" tanya seorang wanita yang tertarik melihat kegiatan Pangeran Air. Dia adalah Permaisuri Delita. "Iya Ibunda." "Pangeran, kau harus ingat! Kau adalah Pangeran Air, gunakanlah kekuatanmu dengan baik, jangan terus bermain dengan api!" "Iya Ibunda," jawab pangeran kecil yang masih berusia enam tahun itu patuh. Pangeran Air tak berani menentang perkataan ibundanya. "Sekarang, padamkan api itu dengan kekuatanmu!" suruh Permaisuri Raqia. "Baik Ibunda," jawab Pangeran Air tanpa membantah, walaupun ia masih ingin melihat api itu berkobar. Tapi, Pangeran Air adalah orang yang paling menurut dengan ibundanya. Pangeran Air meletakkan tangannya di atas api yang sedang menyala, air bermunculan dari telapak tangannya, dan api itu padam seketika. "Bagus." Permaisuri Delita tersenyum bangga. "Sekarang kita harus menemui ayahandamu, Pangeran!" "Iya Ibunda." Permaisuri Delita membimbing tangan putranya menuju ruangan sang raja. Di sepanjang lorong, banyak yang menahan untuk tidak berteriak melihat ketampanan Pangeran Air yang sudah tampan sejak kecil. Pangeran kecil itu sangat menggemaskan. Permaisuri Delita membawa putranya masuk ke dalam ruangan raja, karena ada suatu yang perlu diperbincangkan raja. "Mohon ampun Yang Mulia, salam hamba kepada Baginda Raja Van Water," ucap Delita membungkukkan badan diikuti oleh Pangeran Air. "Salam hamba, Ayahanda." Raja Dafnas bangkit lalu membungkukkan badannya sedikit, menghormati Pangeran Air yang tak hanya menjadi pangeran di kerajaan ini tapi, Pangeran Negeri Air. "Silakan duduk, istriku Delita dan ananda Pangeran Dafta!" "Baik, Yang Mulia." Permaisuri Delita menarik kursi duduk di hadapab raja. "Ada keperluan apa Yang Mulia menyuruhku beserta Pangeran Air, menemui Baginda Raja?" "Aku hanya memperkenalkan teman baru untukmu, Pangeran Air!" "Teman?" tanya Pangeran Air singkat. "Iya, teman sekaligus asistenmu." "Aku tak perlu asisten, Ayahanda. Aku hanya butuh teman," jawab Pangeran Air dingin tanpa ekspresi. "Terserah kau ingin menganggapnya siapa, silakan Mark, masuk!" suruh Raja Dafnas. Seorang anak kecil seumuran dengan Pangeran Air datang bersama pengawal. "Mark adalah anak pengawal Galih, dia akan menemanimu dan membantumu setiap saat," jelas Raja Dafnas. Raja Dafnas merasa kasihan melihat Pangeran Air bermain sendirian. Yang paling tak disukai Raja Dafnas adalah, Pangeran Air sering bermain dengan api, bahkan dia menjadikan api sebagai temannya setiap hari. Untuk itu, Raja Dafnas mencarikan teman untuk Pangeran Air gak tak menghidupkan api lagi. "Salam hamba, Yang Mulia. Hamba Mark siap melayani Pangeran Air." Mark membungkukkan badannya. Mark berusia dua tahun di atas Pangeran Air. "Silakan sapa teman baru kau, Pangeran Air!" suruh Permaisuri Delita. "Iya, Ibunda." Pangeran Air berjalan mendekati Mark lalu mengulurkan tangannya, dengan hormat Mark membalas uluran tangan sang pangeran. "Salam hamba, Pangeran Air." Mark membungkukkan badannya. Pangeran Air hanya mengangguk singkat dengan muka datarnya. "Mulai sekarang, kau aku tugaskan menjaga dan menemani putraku, Mark!" ucap Raja Dafnas kepada Mark. "Hamba siap menerima perintah, Yang Mulia." Pangeran Air membungkukkan badannya kepada Raja Dafnas dan Permaisuri Delita, lalu, pangeran kecil itu keluar dari ruangan diikuti oleh Mark di belakangnya. Mulai sekarang, Pangeran Dafta Van Water tak sendirian lagi. *** "Pangeran, apa kau ingin memakan sesuatu?" "Tidak." "Pangeran, apa kau ingin ku ambilkan buah?" "Tidak." "Pangeran, apa kau suka berenang?" "Tidak." "Pangeran, apa kau suka bermain air?" Pangeran Air tak menjawab, ia hanya diam mendengarkan pertanyaan-pertanyaan dari Mark. Ternyata, Mark orangnya suka berbicara tak mau diam. "Maafkan pertanyaan saya Pangeran, tentu saja Pangeran suka bermain air, secara kekuatan pangeran adalah air," jawab Mark sendiri karena tak mendapatkan jawaban dari Pangeran Air. "Apa Pangeran pernah minum menggunakan kekuatan sendiri?" "Tidak." "Apa Pangeran pernah mandi dengan kekuatan sendiri?" "Tidak." "Apakah Pangeran bisa membuat bendungan air?" "Apakah Pangeran bisa membuat danau?" "Apakah Pangeran bisa membuat tsunami di laut?" "Apakah Pangeran menyukai kekuatan, Pangeran?" Pangeran Air hanya mendengarkan pertanyaan dari teman barunya yang sangat cerewet itu. Pangeran Air hanya menatap datar Mark, yang ditatap tak kunjung menyadari jika lawan bicaranya sudah bosan mendengarkannya berceloteh tak jelas. "Hmm ... Apa Pangeran menyukai api?" Pangeran Air yang tadinya menatap ke arah lain segera mengalihkan perhatiannya menatap Mark. "Ya." "Apa saya tak salah dengar, Pangeran?" tanya Mark dengan mulut terbuka lebar bahkan sangat lebar. "Suatu saat nanti, aku ingin melihat api langsung ke Istana Van Vuur," ucap Pangeran Air tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. "Ada yang aneh!" cetus Mark yang menatap heran. Seorang pangeran kerajaan Van Water menyukai api? *** Pangeran Air menatap kebingungan sebuah kotak yang ada di tangannya. "Untuk apa Ayahanda memberikanku kotak ini?" tanya Pangeran Air heran. "Kotak itu tergembok dan tak bisa dibuka, kau harus menemukan kunci yang dapat membuka gembok tersebut!" "Apa yang ada di dalam kotak ini?" "Sesuatu yang tak kuketahui, kotak itu diberikan oleh Yang Terhormat Empu Eyang, kau harus menjaganya, jangan sampai hilang!" tegas Raja Dafnas. "Baik, Ayahanda." Pangeran Air pamit dan membawa kotak itu ks ruangannya. Dia akan menyimpan kotak itu ke tempat yang aman. "Kotak apa itu, Pangeran?" tanya Mark melihat kotak yang disimpan Pangeran Air di dalam lemarinya. "Tidak tahu." "Kenapa Pangeran meletakkannnya di dalam lemari?" tanya Mark lagi. "Kau tak perlu tahu." "Baiklah, Pangeran." Pangeran Air mengajak Mark keluar dari ruangannya. Ia ingin ke taman belakang, tempat favoritnya. "Untuk apa kita ke sini, Pangeran?" "Diam dulu, Mark!" "Baik, Pangeran." Pangeran Air mengambil beberapa ranting yang jatuh lalu memotongnya beberapa bagian. "Bakar ranting itu!" suruh Pangeran Air kepada Mark. Mark hanya menuruti perintah pangerannya itu, Mark mencari batu lalu digesekkannya menimbulkan sepercik api. Sebenarnya, Mark bisa saja meminta korek api kepada pelayan di dapur istana, tapi, Pangeran Air tidak ingin ada yang tahu mereka menghidupkan api di sini. Api mulai membakar ranting-ranting itu dengan cepat, Pangeran Air tersenyum menatap kobaran api itu yang menghangatkan mukanya. Mark menggeleng tak percaya, sejak tadi ia tak pernah melihat Pangeran Air tersenyum, baru kali inilah ia melihat senyuman Pangeran Air karena, kobaran api. "Pangeran, bagaimana rasanya hidup di istana?" tanya Mark penasaran. "Biasa saja." "Sebenarnya, saya tahun ini masuk sekolah, Pangeran. Tapi, tidak jadi karena saya tinggal di istana." "Apa kau menyesal?" tanya Pangeran Air. "Tidak, saya senang kenalan dengan Pangeran, walaupun Pangeran orangnya pendiam tak banyak bicara seperti saya." "Lagi pula, hidup di sini sepertinya menyenangkan, jika ingin makan disediakan, jika kamar berantakan, ada yang membersihkan," ucap Mark. "Jika ingin sesuatu langsung dikabulkan, tidak seperti saya, jika ingin meminum air kelapa muda, ya, panjat sendiri pohonnya." Pangeran Air hanya diam mendengarkan tak ingin berkomentar. Hidup di istana tak semudah yang dibayangkan. Banyaknya aturan istana membuat Pangeran Air harus berhati-hati dalam bertindak. Pangeran Air juga ingin merasakan permainan anak-anak seusianya, bermain bola di tengah lapangan bersama-sama hingga petang. Tetap bermain walaupun hari hujan, bahkan dengan sengaja berhujan-hujanan sambil bermain. Selama ini yang dilakukan Pangeran Air hanyalah berlatih dan terus melatih kekuatannya. Dia bahkan, tidak ada waktu untuk bermain. "Pangeran Air, apa yang sedang kau lakukan di situ?" tanya seseorang dari belakang. Pangeran Air menoleh ke belakang, di sana ada Permaisuri Delita yang sedang menatap ke arahnya. Pangeran Air segera memadamkan api itu dengan telapak tangannya yang mencurahkan air. Dalam sekejab mata, api itu padam tak tersisa. "Apa kau bermain dengan api lagi, Pangeran Air?" tanya Permaisuri Delita curiga. "Ibunda, aku hanya bermain dengan Mark," ucap Pangeran Air mengode Mark untuk membantunya. "Tidak ada api, Yang Mulia Ratu," ucap Mark meyakinkan. "Bersiaplah Pangeran Air, sebentar lagi gurumu akan datang, kau harus berlatih dengan serius," ujar Permaisuri Delita yang diangguki Pangeran Air. "Baik, Ibunda." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD