Kerajaan Api
Permaisuri Raqia menghela napas gusar, sejak tadi ia tak berhenti mengejar putrinya yang berlari sangat kencang.
Putri Api. Putri Kerajaan Van Vuur itu sudah berumur 3 tahun. Dan sejak tadi, ia tak berhenti berlari, memanjat, berguling, bersalto, bahkan membakar p****t prajurit yang lewat.
Permaisuri Raqia kuwalahan mengurus anaknya itu, sejak pandai berjalan ia sangat aktif dan sering berkeliaran di istana.
"PUTRI API!"
"BERHENTI!"
Putri kecilnya itu tak mengidahkan teriakan Permaisuri Raqia, bahkan ia dengan santai melenggak lenggokkan p****t kecilnya berjalan menjauhi sang ibu.
"Huftt," Permaisuri Raqia menghela nafas.
"Terserahlah," pasrah Permaisuri Raqia menyerah.
Wanita yang berstatus Ratu Kerajaan Van Vuur itu berbalik, tak mengejar putrinya itu lagi, karena percuma, larian putri kecil itu sangat kencang, ia tak dapat mengejarnya.
Putri Api berhenti berjalan, ia menoleh ke belakang tak mendapati keberadaan ibunya.
"ABUUU!" teriak Putri Api, ia dapat melihat bayangan ibunya sekilas yang baru saja berbelok di persimpangan lorong.
Dengan cepat, Putri Api bergegas menyusul ibunya. Kakinya melangkah dengan cepat. Rambut di kepalanya ikut bergoyang karena putri kecil itu berlari sangat kencang.
Happp
Putri Api berhasil melompat ke atas punggung ibunya, Permaisuri Raqia terkejut karena tiba-tiba anaknya itu sudah berada di punggungnya.
"Abuuu," lirih bayi itu membuat siapa saja gemas melihat mukanya.
"Turun dulu, sayang!" suruh Permaisuri Raqia lembut.
Putri Api segera turun, Permaisuri Raqia membalikkan badannya lalu menggendong putrinya itu dari depan. Senakal-nakal anaknya, Permaisuri Raqia tetap menyayanginya.
"Jangan nakal lagi, ya!"
"Iya Abu!" jawab Putri Api cepat.
Permaisuri Raqia mendengus mendengar jawaban anaknya itu, sudah ratusan kali mulutnya mengatakan itu, tetap saja putrinya itu mengulanginya.
"Ingat, kamu itu Putri Mahkota, jangan nakal!"
"Jangan suka kabur dari ruangan kamu, nanti ibunda panik."
"Kalau mengulangi lagi, ibunda siram pakai air dingin!"
Sudah banyak rentetan nasehat yang diberikannya namun tak ada jawaban sama sekali dari putrinya itu.
Lagi-lagi Permaisuri Raqia mendengus karena putrinya sudah terlelap di pangkuannya.
"Pricil ... Pricil, sang Putri Api," ucap Permaisuri Raqia mengelus rambut putrinya. Wanita itu membawa anaknya ke dalam ruangan Putri Api untuk menidurkannya.
***
"PUTRI APII!" teriak Permaisuri Raqia.
Sungguh, Permaisuri Raqia menggeleng tak percaya melihat kelakuaan putrinya itu. Bagaimana mungkin? Putri kecil itu membakar pohon rindang yang ada di belakang istana.
Tak ingin api semakin membesar, Permaisuri Raqia menghirup kobaran api itu hingga tandas.
Inilah kekuatan Permaisuri Raqia, dapat memadamkan api dengan cepat, tanpa menggunakan air tentunya.
Air di kerajaan ini digunakan hanya untuk minum dan mandi, karena tak mungkin mereka meminum api. Sebenci-bencinya Kerajaan Van Vuur dengan air, tetap saja air dibutuhkan.
Putri Api terkekeh cengengesan melihat muka geram sang ibu. Putri kecil itu segera berlari karena takut dengan kemarahan ibunya.
"JANGAN BERLARI, AKU TAK SANGGUP MENGEJARMU!" teriak Permaisuri Raqia.
Putri Api berlari sekencang mungkin, ia pontang panting dengan hanya memakai celana dalam bewarna putih, Putri Api selalu kegerahan jika memakai baju kerajaan. Sangat berat, itulah alasan Putri Api lebih senang tak memakai bajunya.
Untuk sekarang memang iya, tapi jika sudah besar nanti, Putri Api pasti mempunyai rasa malu jika tak memakai baju.
Semua orang melongo melihat putri kecil itu berlari lenggak lenggok seperti biasanya di sepenjuru lorong istana.
Hingga akhirnya seseorang menangkap putri kecil itu, lalu menggendongnya, tak membiarkan Putri Api terlepas.
"Honda ... Hondaa!" panggil Putri Api kepada orang yang telah menangkapnya. Oh itu Raja Rowned, ayahanda Putri Api.
"Kau panggil aku ayahanda, putriku! Bukan honda-honda!" tegur sang raja.
Putrinya itu selalu salah memanggilnya, ntah kenapa Putri Api tak bisa memanggilnya 'Ayahanda' sejak pandai berbicara.
Sama halnya dengan Permaisuri Raqia, ia selalu mengajarkan putrinya untuk memanggil 'Ibunda' tetap saja putri nakalnya itu memanggilnya abu.
"Tidak, kau tetap Honda!" jawab putrinya santai. Raja Rowned menghela nafas pasrah.
"Sekarang silakan jawab, kenapa kau berlari seperti itu?" tanya Raja Rowned.
Putri Api tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Ternyata di sini kau Putri Api," geram seseorang yang membuat Putri Api segera menyembunyikan kepalanya di leher Raja Rowned.
"Ada apa, istriku?" tanya Raja Rowned heran, nafas istrinya
terlihat memburu karena baru saja berlari.
"Putrimu membakar pohon besar yang ada di belakang istana, Yang Mulia!" ucap Permaisuri Raqia mengadu.
Raja Rowned melihat putrinya yang semakin membenamkan kepala ke lehernya. Ah, putrinya itu pandai sekali meluluhkan hati Raja Rowned, tingkah manja Putri Api dapat meredam kemarahan raja pemarah itu.
"Tidak masalah, kau tak perlu memarahinya, dia hanya berlatih menggunakan kekuatannya," jawab Raja Rowned. Putri Api tersenyum kemenangan menatap ibundanya.
"Tapi perbuatannya sudah keterlaluan, Yang Mulia! Dia bahkan membakar p****t prajurit hingga melepuh!"
Putri Api terkekeh pelan, mengingat prajurit itu berlari berkeliling diikuti oleh api yang ada di pantatnya.
"Putri Api, jangan melakukan itu lagi, mengerti?" tegur Raja Rowned tegas.
"Iya Honda!" lirih Putri Api.
***
Malam telah tiba, rembulan datang menyapa, dinginnya malam menusuk tulang, karena tadi sempat diguyur hujan.
Seseorang mengendap ngendap masuk ke dalam istana, ia tidak sendirian, melainkan bersama dua orang temannya yang menyamar sebagai prajurit.
Tiga orang penyusup itu masuk ke ruangan tempat tujuan mereka, namun di sana terdapat dua orang pengawal yang sedang berjaga di depan pintu.
"Tuan, kami diperintahkan untuk berjaga di dalam ruangan," ucap salah satu dari tiga orang itu.
Pengawal sempat heran, karena pertama kali melihat tiga orang itu, namun karena seragam yang dikenakannya membuat pengawal yakin jika mereka orang dalam istana.
Pengawal itu membukakan pintu, membiarkan tiga orang itu masuk ke dalam ruangan, pintu kembali ditutup.
Salah seorang dari tiga penyusup itu tersenyum sinis karena berhasil mengelabui pengawal, ternyata menjadi penyusup di istana ini tak begitu sulit, pikir mereka.
"Kita harus bisa menculiknya, dan membawanya pergi dari sini secepatnya!"
"Baik Tuan."
"Kau berjagalah di sini, biar aku yang menemuinya!"
Samar-samar Putri Api dapat mendengar suara yang ada di dalam ruangannya, putri kecil itu mengucek matanya pelan.
"Ganggu putri cantik tidur saja!" tukasnya mendumel kesal.
Ia segera turun dari kasurnya untuk melihat siapa yang sudah menyelinap masuk ke dalam ruangannya.
Ruangan Putri Api cukup luas, jadi mungkin saja para penyusup itu sulit menemukannya karena ada beberapa bilik dalam ruangan.
"Apa kau menemukannya?"
"Tidak, ruangan ini cukup gelap sehingga aku tak leluasa melihat."
"Periksa bilik lain, segera temui dia!"
"Paman paman lagi cari aku ya," ucap sebuah suara yang tak diketahui keberadaan si empu yang berbicara oleh ketiga penyusup itu.
"Suara siapa ya?"
"Tidak ada orangnya, Tuan!"
Putri Api merasa terhina karena ia sangat pendek dan berdiri di belakang ketiga penyusup itu pula.
"Hiyaaak."
Putri Api naik ke atas punggung salah satu penyusup itu yang berada di tengah-tengah.
Putri Api menarik rambut penyusup itu dengan kedua tangan mungilnya, dua orang lainnya hanya menatap sambil melongo tak percaya putri kecil itu sudah berada di punggung tuannya.
"Kau berdua lepaskan anak ini dari punggungku," teriak pria itu meringis karena kepalanya terasa perih. Kedua tangannya tak dapat menghentikkan Putri Api.
"Jangan mendekat!" ancam Putri Api mengeluarkan api dari telapak tangannya.
Dua orang penyusup bodoh itu malah tak berani dengan ancaman putri kecil itu.
"Lepaskan ... kepalaku sakit!" rintih penyusup itu kesakitan menerima jambakkan maut dari Putri Api.
Putri Api turun dari punggung penyusup itu, sebelum itu, ia membakar rambut penyusup itu dengan kekehan yang keluar dari bibirnya. Sang penyusup langsung kalang kabut karena rambutnya sudah terbakar oleh api yang menyala-nyala.
"PANASS ... PANASS!"
"AHAHAHA, " tawa Putri Api pecah melihat penyusup itu berlari ke sana kemari dengan api di atas kepalanya.
Mata Putri Api beralih menatap dua orang penyusup yang tersisa, bibirnya tersungging miring melihat dua penyusup yang tengah waspada, takut nasib mereka sama dengan sang tuan.
"HEHEHEHE!" ntah kenapa gelak putri kecil itu membuat bulu kuduk dua penyusup itu berdiri, mereka seketika merinding mendengarnya.
"RASAKAAN!" teriak Putri Api menembakkan kekuatannya.
Dua orang penyusup itu langsung merasakan panasnya percikan api yang diberikan putri kecil itu.
"Hidung ... oh tidak hidungku!" teriak penyusup itu mengipas-ngipas hidungnya yang terbakar.
Satu orang lagi berlari sambil mengangkat pantatnya, Putri Api membakar sekeliling pantatnya yang mengikutinya berlari.
"PENGAWAL!" teriak Putri Api karena para pengawal kerajaan tak ada yang masuk ke ruangannya, padahal kehebohan di dalam ruangannya sudah terdengar jelas.
Beberapa saat kemudian para pengawal datang berbondong-bondong masuk ke dalam ruangan Putri Api. Mereka melongo tak percaya melihat tiga orang yang tengah berlari mengelilingi ruangan dengan api yang ada di p****t, hidung, dan rambut mereka.
Putri Api menjentikkan dua buah jarinya memadamkan api itu dengan cepat, karena jika bukan ia yang memandamkan api itu tak akan pernah padam di badan ketiga penyusup itu.
"Bawa mereka bertiga!" suruh Putri Api.
"Siap laksanakan, Tuan Putri," jawab salah satu pengawal membungkukkan badannya.
Setelah itu Putri Api masuk lagi ke dalam biliknya, seolah tak terjadi apa-apa.
Putri Api oh Putri Api.
***