Keesokan harinya “Aarrgghhh..” Talia berteriak melampiaskan kemarahannya. Ia mengacak rambutnya karena frustasi. Danish benar-benar keterlaluan. Laki-laki itu sudah tidak menganggapnya ada. Bahkan sudah tidak menganggapnya sebagai Ibu dari putra mereka, Zidan. Talia seperti orang asing di mata Danish. “Kamu benar-benar keterlaluan, Mas.” “Padahal aku adalah Ibu dari putra kita, Zidan. Kamu sudah kelewatan, Mas.” Brugh Talia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia duduk di pinggir tempat tidur sembari mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Talia berusaha tenang agar pikirannya tidak kacau. Karena kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. “Huhh.. tenang, Talia! Kamu harus bisa tenang.” gumamnya Talia mengusap dadan

