Danish menggenggam tangan Thania sembari menyiapkan diri untuk melakukan ke inti. Jantung Thania berdebar kencang, apalagi melihat penampilan Danish saat ini. Danish terlihat gagah tampan di atasnya. Terlihat begitu berkarisma. Siapapun yang melihatnya pasti akan terkesima, begitupun dengan Thania saat ini.
Danish mendekatkan wajahnya pada telinga Thania lalu membisikkan sesuatu padanya. “Apa kamu sudah siap, hm?” bisiknya dengan suara berat
Deg
“—“ Thania terdiam.
“Saya akan melakukannya sekarang, Thania. Jadi, bersiaplah!”
Lidah Thania terasa keluh saat ingin berbicara. Mulutnya seolah terkunci rapat-rapat. Tatapan lembut Danish mampu menghipnotisnya untuk terdiam. Sepertinya ia hanya bisa pasrah di bawah kendali suaminya.
Melihat diamnya Thania membuat Danish berpikir jika perempuan itu sudah memberi izin. Baiklah, dengan senang hati ia melakukannya. “Mungkin akan terasa sakit untuk di awal, tapi setelahnya rasa sakit itu akan berubah.” ujar Danish
“A-apa maksud Pak Danish?” tanya Thania dengan nada gugup
“Nanti kamu akan tahu sendiri.”
Danish tersenyum smirk. Thania nanti akan merasakannya sendiri. Untuk sekarang akan terlalu panjang jika ia menjelaskan. Sebagai seseorang yang sudah berpengalaman Danish sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
Dan…
Jlebb
“Aakkhh..”
“Pak.. ahh..”
“S-sakit!” Thania meringis kesakitan sembari meremas punggung Danish dengan cukup kuat. Bahkan kuku panjangnya menancap di sana.
“Aahh..”
“S-stopp!”
Padahal Danish baru memulai tapi Thania sudah memintanya untuk berhenti. Bahkan mereka belum sempurna menyatu. Danish terdiam sejenak agar istrinya tidak semakin kesakitan. Thania bahkan sampai menitihkan air mata karena terlalu sakit. Rasa sakitnya luar biasa, tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kata.
Thania beralih mencengkram lengan suaminya. “P-pak.. sakitt!”
“Ooh.. s**t! Tidak mungkin aku berhenti sampai di sini saja.” umpat Danish dalam hati
Danish berhenti sejenak. Ia mengusap air mata Thania yang membasahi pipinya. Jika ia memaksa yang ada Thania semakin kesakitan. Ia tidak tega melakukannya. Tapi di satu sisi, ia juga tidak bisa berhenti begitu saja. Padahal tinggal sedikit lagi.
“Sakit banget?” padahal Danish sudah berpengalaman dan tentunya tahu apa yang dirasakan Thania saat ini.
Thania mengangguk sembari bercucuran air mata. “Iya, Pak. Sangat sakit!”
“Tapi saya tidak mungkin berhenti begitu saja, Thania. Ini sangat menyiksa.”
“Aakkhh..”
“T-tapi sakit sekali, Pak!” Thania tidak berhenti meringis kesakitan.
“Tenangin diri kamu dulu! Saya akan menunggu.”
Setelah menunggu rasa sakit yang Thania rasakan sudah cukup membaik. Danish mengelus pipi istrinya dengan lembut. Tatapannya penuh harap. Percayalah, hal ini sangat menyiksa dirinya. Hanya karena tidak ingin menyakiti istrinya lebih dalam Danish rela menunggu, walaupun sangat menyiksa.
“Apa saya sudah boleh melanjutkan lagi?” tanya Danish
“T-tapi…”
“Thania percayalah, rasa sakit yang kamu rasakan akan berubah nikmat setelahnya.”
Thania menatap suaminya ragu. “Apa benar seperti itu?”
Danish mengangguk. “Iya, Thania. Saya tidak mungkin berbohong. Jadi sekarang saya akan kembali bergerak!”
“Tapi…”
“Aahh..”
“Pakhh..” Thania melenguh panjang.
Belum selesai Thania bicara Danish kembali mendorong tubuhnya. Sontak hal itu membuat Thania meringis kesakitan. “Aahh..”
“Sakit!”
“Sedikit lagi, Thania!”
Bukannya berhenti Danish justru semakin mendorong dirinya. Ia seolah tidak mendengar suara rintihan Thania. Nanggung sekali jika ia berhenti di tengah jalan. Sebentar lagi Thania akan menjadi miliknya seutuhnya, begitupun dengan sebaliknya.
Dan…
“Aahh..”
“Owhh..”
“Pak Danishh..” panggil Thania
Akhirnya Danish berhasil melakukannya. Ia berhenti untuk mentralisir rasa sakit yang dirasakan istrinya. Tepat di saat ia berhenti kuku panjang Thania menancap sempurna di punggungnya. Rasanya sakit, namun sakitnya terkalahkan dengan rasa nikmat. Danish mengabaikan rasa sakit itu, karena yang terpenting ia berhasil memiliki Thania sepenuhnya.
Danish tersenyum. “Sekarang kamu sudah sepenuhnya menjadi milik saya, Thania.” bisiknya dengan suara berat.
“—“ Thania terdiam.
Thania masih belum percaya jika di usianya yang masih muda sudah menjadi seorang Istri. Dan sekarang Danish telah memilikinya secara penuh. Rasanya seperti mimpi. “Ternyata Tuhan membawaku di titik ini tanpa disangka-sangka.” ucapnya dalam hati
Danish menangkup wajah Thania. Ia menatap istrinya lekat. Jantung keduanya berdebar kencang serasa ingin lepas dari tempatnya. “Boleh saya bergerak?”
Thania terdiam sejenak. “A-apa tidak semakin sakit?”
Danish menggeleng pelan. “Tidak, Thania. Rasa sakitnya akan berubah setelah ini.”
“Kamu akan merasakannya setelah ini.” lanjutnya sembari tersenyum penuh arti.
Karena tidak mendapat jawaban dari Thania ia menggerakkan tubuhnya secara perlahan. Nanti Thania akan merasakannya sendiri. Thania memejamkan matanya kuat saat Danish mulai bergerak.
“Pak..”
“Owhh..”
“Sshh.. sakit!” Thania masih seidkit kesakitan namun tidak seperti sebelumnya.
Namun lama-kelamaan rasa sakit itu berubah. Thania merasakan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Danish terus bergerak. Malam ini ia memperlakukan Thania dengan lembut dan hati-hati karena pertama kalinya bagi perempuan itu. Ia ingin meninggalkan kesan yang indah di malam pertama mereka.
“Aahh..”
“Pak Danish!” panggil Thania dengan nada meracau
Danish tersenyum mendengar suara indah Thania. Ia menunduk menatap wajah cantik istrinya. Ia yakin rasa sakit itu telah berubah. Ia bisa melihat dari respon Thania. “Ternyata Thania jauh lebih cantik saat ditatap dari jarak yang begitu dekat. Apalagi dengan penampilannya malam ini.”
“Sangat menggoda.” ucapnya dalam hati
Tubuh Thania bergetar hebat. Ternyata benar, semakin lama rasa sakitnya berubah menjadi rasa nikmat. Rasa yang tidak bisa Thania jelaskan dengan kata-kata. Bahkan wajahnya mulai normal. Ia mulai beradaptasi dengan gerakan suaminya.
“Enghh..”
“Enak, Thania.”
“Owhh..”
“Pak, tubuh Thania merasa aneh.”
“Emhh..” Thania meracau membuat Danish semakin menggila.
Thania mendongak dengan mata terpejam. Lama-kelamaan ia mulai menikmati gerakan suaminya. Bahkan yang keluar dari mulutnya bukan lagi suara rintihan, melainkan suara yang mengalun indah memenuhi kamar tidur mereka.
“Enghh..”
Danish tersenyum puas mendengar suara istrinya. Ternyata rencananya berhasil. “Sedikit lagi, Thania!”
“Aakkhh..”
Brugh
“Sshh..”
Danish menjatuhkan tubuhnya tepat di atas Thania. Thania merasa ada sesuatu yang mengalir ke dalam perutnya, rasanya hangat. Keduanya mengatur nafas, bahkan saling berebut karena pasokan udara di sekeliling mereka seolah semakin menipis. Tubuh mereka dibanjiri keringat, seolah pendingin ruangan tidak berfungsi sama sekali.
“Pak, perut Thania terasa hangat. Kenapa?” tanyanya dengan nafas terengah. Bahkan wajahnya terlihat begitu polos.
Mendengar itu Danish tersenyum penuh arti. Artinya berhasil. Ia yakin buah hatinya segera tumbuh di dalam perut Thania. “Bagus.”
“Apanya yang bagus, Pak?”
“Itu tandanya sebentar lagi buah hati saya tumbuh di dalam perut kamu.”
“APA?” reflek Thania berteriak karena terkejut. Apa bisa secepat itu?
Danish memejamkan mata saat mendengar suara teriakan istrinya. Untung saja hati Danish saat ini sedang berbunga-bunga jika tidak, entah apa yang akan ia lakukan pada wanita itu. Danish mengusap telinganya yang terasa sakit akibat teriakan Thania.
“Ck, jangan teriak Thania!”
“Pak Danish bercanda kan?!”
“Saya tidak bercanda. Saya memang sengaja melakukan itu biar kamu segera hamil.”
Bugh
Thania melayangkan pukulan pada punggung suaminya. Kenapa ia tidak menyadari hal itu? Kepolosan Thania sudah rusak karena perbuatan suaminya. Tapi semuanya sudah terjadi. Lagipula mereka pasangan halal. Dan tidak ada salahnya jika Thania hamil. Hal itu wajar dilakukan pasangan suami-istri.
“Pak, tapi Thania masih kuliah.”
“Terus masalahnya apa?”
“Thania nggak mau.”
“Yaudah, udah terlanjur juga.” bahkan Danish menjawabnya dengan wajah begitu tenang. Ia tidak peduli Thania menerima atau tidak.
Bukannya menyingkir Danish justru memeluk Thania erat. Bahkan ia menenggelamkan wajahnya di d**a istrinya. Ia mencari kenyamanan di sana. Setelah ini tempat itu akan menjadi area favoritnya. Sudah lama ia tidak merasakan kenyamanan dan ketenangan ini.
Bahkan sesekali Danish menggesekkan hidung mancungnya di d**a Thania. Ia merasa gemas dengan dua benda kenyal itu. Terasa pas di tangannya. Padat dan kenyal seperti squisy saat dimainkan. Sedangkan di bawah sana mereka masih menyatu dengan sempurna. Karena itu malam ini Danish akan tidur dengan nyenyak.
“Pak Danish menyingkirlah!” ujar Thania sembari mencoba melepas pelukan suaminya.
“Nggak mau.”
“Biarkan seperti ini sampai besok pagi!”
“Tapi…”
“Atau saya akan melakukannya sekali lagi.”
“Oke. Thania mengaku kalah.” Danish tersenyum mendengar jawaban istrinya.
“Good girl!”
Next>>