“Aakkhh.. “
Reflek Thania mengalungkan kedua tangannya pada leher Danish saat laki-laki itu tiba-tiba menggendongnya. Danish membawa istrinya menuju tempat tidur. Mereka akan melanjutkannya di atas ranjang agar lebih leluasa dan bebas bergerak.
Brugh
“Awhh..”
Danish melempar Thania ke atas tempat tidur, hal itu membuatnya meringis pelan. Danish tersenyum penuh arti. Thania harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Perempuan itu berhasil menggodanya. Singa dalam dirinya seketika terbangun saat melihat kondisi Thania.
“A-apa yang ingin Pak Danish lakukan?” tanya Thania dengan nada gugup
“Kamu harus bertanggung jawab, Thania.”
“Apa maksud Pak Danish? Thania tidak melakukan apa-apa.”
“—“
Bukannya menjawab Danish justru bergerak menindih tubuh Thania. Tatapannya penuh arti membuat Thania ketakutan. Ia menahan d**a bidang Danish agar tubuh keduanya tidak menempel sempurna.
“Pak Danish jangan macam-macam, ya!”
“Memangnya kenapa kalau saya macam-macamin, hm?”
Thania menelan ludahnya kasar. Hanya dengan menatap wajah Danish sudah membuatnya ketakutan. “Thania akan teriak kalau…”
“Sstt!” Danish mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibir Thania meminta perempuan itu berhenti berbicara.
“Saya suami kamu, Thania. Saya berhak melakukan apapun ke kamu.”
Deg
Jantung Thania serasa ingin lepas dari tempatnya. Danish semakin mendekatkan wajahnya membuat Thania menahan nafas. Tubuhnya seolah terasa kaku di saat Danish menatapnya. Hal itu yang membuat dirinya tidak bisa melakukan perlawanan.
“Ada apa dengan tubuhku? Kenapa terasa kaku seperti ini?”
“Oh, astagaa.. wajah Pak Danish semakin dekat.” ucap Thania dalam hati dengan nada ketakutan.
Thania berusaha menahan d**a bidang suaminya. “Pak, berhenti!”
“—“
Danish menghiraukan perkataan Thania. Ia terus mendekat sampai mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Tatapan Danish tertuju pada bibir kemerahan milik istrinya. Wajah keduanya semakin dekat. Dan…
Cup
“Uumhh..”
Danish kembali menyatukan bibir keduanya. Ia menggerakkan bibirnya lebih kasar dari sebelumnya. Kedua tangannya menangkup wajah Thania agar perempuan itu tidak bisa memberontak.
“Uumhh..”
“Owhh..”
Bugh
Bugh
Thania memukul punggung Danish berulang kali karena nafasnya hambis habis. Laki-laki itu tidak memberikan dirinya mengambil nafas walaupun hanya sejenak. Karena merasa kasihan Danish menarik diri dari istrinya.
“Huhh..”
“Huhh..” nafas Thania terengah.
Ia mengambil nafas sebanyak mungkin setelah Danish menarik diri. Belum juga pernafasannya sempurna Danish beralih pada leher jenjangnya. Danish memberikan gigitan kecil di sana. Seketika tubuh Thania bergetar hebat. Ia merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Pak.. sshh..”
“Jangan digigit!”
“Enghh..” Thania melenguh.
Fyuhh
“Owhh.. Pak Danish..”
Thania memejamkan matanya kuat saat Danish dengan sengaja menghembuskan nafas di lehernya. Seketika ia merasakan sensasi menggelitik dalam dirinya. Bahkan Thania merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di atas perutnya.
“Pak.. uhh..”
“Cukupp!”
Thania benar-benar dibuat gila oleh suaminya. Ia tidak bisa berkata-kata. Untuk pertama kalinya Thania merasakan hal seperti ini. Apa yang Danish lakukan membuatnya hilang kendali. Bahkan ia tidak tahu apa yang dirasakan saat ini.
“Berhentii, Pak!”
“Enghh..” ujar Thania
Bukannya berhenti Danish justru bergerak semakin ke bawah. Sampailah pada dua benda kenyal milik sang istri. Danish menelan ludahnya kasar. Jantungnya berdebar kencang karena sudah lama tidak berhubungan. Karena setelah bercerai ia menyibukkan diri dengan dunia kerja. Bahkan hampir tidak pernah pulang ke rumah.
“Oh, s**t!”
“Bahkan masih tertutup kain sudah menampakkan keindahannya.” ujar Danish dalam hati
“Kalau seperti ini aku tidak akan bisa menahan diri lebih lama. Apalagi aku sudah cukup lama berpuasa.”
Thania menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Ia melihat apa yang dilihat suaminya. Wajahnya terasa panas karena menahan rasa malu. Untuk pertama kali keindahan yang ia miliki dilihat oleh seorang laki-laki.
“Ck, jangan ditutup!” decak Danish dengan tatapan tidak suka.
“Nggak mau!”
“Pak Danish jangan sembarangan menatapnya!” Thania tetap menutupi keindahan miliknya. Padahal Danish bebas menatap ataupun menyentuhnya sekalipun.
“Ck,” Danish berdecak kesal.
Ia menarik kedua tangan Thania membuat perempuan itu melebarkan matanya terkejut. Kekuatan Danish tidak sebanding dengan daya tubuhnya. Apalagi pergerakan Danish cukup cepat dan gesit.
“Lepasin tangan Thania!” Ia memberontak.
“Nggak akan.”
“Saya ingin menikmati keindahan ini.” lanjutnya
Glek
Thania menelan ludahnya kasar. Tanpa dijelaskan secara rinci ia sudah tahu apa yang dimaksud suaminya. Apalagi tatapan Danish terlihat seperti kelaparan. Kedua tangannya ditahan oleh Danish, hal itu membuat Thania tidak bisa memberontak. Sekalipun memberontak tidak akan ada gunanya.
Krekk
“PAK DANISH!” reflek Thania berteriak setelah melihat apa yang suaminya lakukan.
Dalam satu tarikan kain itu rusak menjadi dua bagian. Seketika pemandangan indah terlihat jelas tepat di depan matanya. Danish menelan ludahnya kasar berulang kali. Ia berdecak kagum melihatnya.
“Benar-benar indah dan cantik!” ucapnya sembari tersenyum
Blush
Wajah Thania semakin memerah setelah mendengar perkataan suaminya. Ia belum terbiasa mendengar kalimat itu. Thania tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa pasrah karena kedua tangannya tertahan. Dan sekarang apa yang dijaga selama belasan tahun berhasil dilihat oleh suaminya.
“Saya menyukainya, Thania.”
Danish menunduk lalu menggerakkan tangannya secara perlahan untuk menikmati keindahan itu. “Enghh..”
“Pak, jangann…”
“s**t! Kenyal dan padat.”
Tangan Danish bermain di area tersebut. Ia menunduk dan berniat melakukan sesuatu yang tidak pernah Thania bayangkan sebelumnya. Thania menggelengkan kepalanya berulang kali. Danish benar-benar gila.
“Pakk.. owhh..”
“Aahh..”
Danish tersenyum mendengar suara indah istrinya. “Terus keluarkan suara indah kamu, Thania! Saya sangat suka mendengarnya.”
“Sshh..”
“Sepertinya aku harus merasakannya.” ucap Danish dalam hati
Dan…
“Aakkhh..”
“Owhh.. Pak…”
Thania melenguh panjang. Danish tiba-tiba minum seperti bayi yang sedang kehausan. Laki-laki itu benar-benar gila. Thania mendongak dengan mata yang terpejam. Ia menggigit bibir bawahnya sebagai pelampiasan.
“Damn!” umpat Danish dalam hati
“Enak sekali, Thania.”
“Emhh..”
Lama-kelamaan Danish mulai hilang kendali. Mulutnya terus meracau tidak jelas karena rasa nikmat yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kata. Matanya terpejam menikmati apa yang dilakukan. Bahkan tangannya terus bergerak mengikuti kata otaknya.
Thania hanya bisa pasrah di bawah tubuh suaminya. Ia tidak bisa bergerak bebas karena tubuh Danish yang cukup besar. “Enghh..”
“Sshh.. Pak, hentikan!”
Suara decapan sekaligus suara indah Thania mengalun indah di dalam ruangan itu. Danish sudah hampir gila karena perbuatannya sendiri. Thania dalam kondisi tidak aman. Karena bisa dipastikan besok pagi Thania tidak akan bisa berjalan.
"Stop! Pleasee!" Thania memohon agar Danish menghentikan perbuatannya. Ia merasakan sensasi aneh dalam dirinya.
Danish menggelengkan kepalanya tidak mau. Ia tidak akan berhenti begitu saja. Inilah akibat yang harus Thania dapatkan. Apalagi Danish laki-laki gila. Sudah cukup lama berpuasa membuat Danish hilang kendali.
"Enak, Thania."
"Emhh.."
Next>>