Malam pertama
Pukul 00.00 WIB
Di dalam sebuah kamar terasa begitu canggung. Para tamu undangan dan pihak keluarga yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Dan sekarang tinggal keluarga inti saja. Danish dan Thania berada di dalam kamar yang sama. Hal itu yang membuat keduanya canggung dan tidak tahu harus melakukan apa.
“Ekhm.” dehem Danish mencoba memecah keheningan.
“Kamu atau saya yang mandi dulu?” tanya Danish
“Pak Danish aja dulu!” jawab Thania dengan nada gugup
Danish mengangguk. “Yaudah. Saya mandi dulu!” setelahnya ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
“Huhh..” Thania menghela nafas lega setelah Danish masuk ke dalam kamar mandi.
Ia memegang dadanya yang tengah berdebar kencang. Perasaan yang belum pernah muncul sebelumnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Perasaannya campur aduk. Entahlah, ia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.
“Ada apa dengan jantungku? Kenapa terus berdebar seperti ini?” gumamnya
“Tenanglah! Semua tentang waktu.”
Thania menuju lemari untuk mengambil baju ganti. Karena Danish masih berada di dalam kamar mandi ia menggunakan kesempatan itu untuk berganti pakaian. Buru-buru ia mengambil baju ganti sebelum Danish selesai dengan ritual mandinya.
“Pakai baju apa, ya?” gumam Thania
“Pokoknya aku harus memakai pakaian tertutup agar Duda itu tidak berbuat macam-macam denganku.”
Thania melepas pakaiannya dan berniat ganti baju rumahan yang biasa ia kenakan. Namun tiba-tiba…
Ceklek
Deg
Tubuh Thania mematung di tempat saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. “Thania, saya sudah…”
Glek
Danish menghentikan perkataannya saat melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Ia menelan ludahnya kasar. Tidak jauh darinya berdiri saat ini ia melihat pemandangan indah yang pertama kali dilihat. Keindahan yang tidak bisa membuat Danish berpaling.
Deg.. deg.. deg
Degup jantung Danish dan Thania berpacu cepat. Kejadiannya begitu cepat membuat Thania tidak bisa menghindar. Bahkan Danish sampai tidak berkedip karena melihat keindahan di hadaopannya saat ini.
“Tuhan, apa yang aku lihat saat ini?” ucap Danish dalam hati
Brugh
Danish menjatuhkan handuk rambutnya tanpa sadar. Dan perlahan ia berjalan mendekat ke arah Syifa. Ia melakukannya tanpa sadar seolah ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut.
Sedangkan Thania terdiam mematung di tempat. Tubuhnya seolah terasa kaku, seolah ada magnet yang menahan kakinya untuk tidak melangkah pergi. Keduanya saling menatap dengan arti yang berbeda. Wajah Thania menunjukkan rasa takut, sedangkan Danish menatapnya penuh kagum.
Danish berdiri tepat di hadapan istrinya. Jantung Thania serasa ingin lepas dari tempatnya. “Apa yang ingin Pak Danish lakukan?”
“Kenapa kejadiannya jadi seperti ini?”
“Kamu ceroboh sekali, Thania.” ucapnya dalam hati
Danish menatap penampilan Thania dari atas sampai bawah. Ia menatapnya penuh kekaguman. Bahkan tidak menyangka sosok perempuan di hadapannya saat ini adalah mahasiswi sekaligus Istri sah’nya.
“Pak Danish mau apa?” tanya Thania dengan nada gugup.
Ia menahan d**a bidang Danish saat laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya. “—“
Danish terdiam. Bukannya menjawab pertanyaan Thania ia justru menarik pinggang perempuan itu agar semakin dekat dengannya. “Pak…” Thania menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan agar tubuh mereka tidak menempel sepenuhnya.
“A-apa yang ingin Pak Danish lakukan? Jangan macam-macam, ya!”
Dada Thania bergemuruh hebat. Ia takut Danish melakukan sesuatu padanya. Ia belum siap untuk melakukan hal itu. Danish mengabaikan pertanyaan Thania. Ia menatap istrinya lekat. Bahkan tangannya mulai bergerak mengelus pipi Thania dengan lembut. Ia menyelipkan anak rambut Thania ke belakang telinga agar tidak menutupi wajah cantiknya.
“Kamu sengaja mau menggoda saya, hm?” ujar Danish dengan suara berat
Glek
Thania menelan ludahnya kasar. Ia menggelengkan kepalanya. Itu semua tidaklah benar. Ini semua bentuk dari kecerobohannya. Ia tidak tahu tahu jika Danish sudah selesai mandi. “E-enggak. Syifa nggak berniat menggoda Pak Danish.”
“Tadi…”
“Sstt..” Danish mengarahkan jari telunjuknya pada bibir Thania meminta wanita itu untuk diam.
“Sekalipun menggoda saya dengan senang hati menerimanya, Thania. Tidak ada yang salah, karena kita sudah Sah menjadi pasangan suami-istri.” lanjutnya
“Enggak. Lepasin Thania!”
Thania berusaha mendorong tubuh Danish agar menjauh darinya. Namun hal itu sia-sia ia lakukan karena tenaga Danish cukup kuat. Tenaganya tidak sebanding dengan yang ia miliki. Tenaga seorang perempuan jauh di bawah seorang laki-laki.
“Pak, lepasin! Kalau enggak…”
“Kalau enggak apa, hm?” Danish justru menantang istrinya.
Danish tersenyum smirk. Ia tahu apa yang ada di pikiran Thania saat ini. Ibu jarinya mengelus pipi Thania dengan gerakan lembut. Tatapan Danish tertuju pada bibir merah alami milik sang istri. Ia ingin merasakan bibir itu lagi.
“Thania bakal teriak kalau Pak Danish berbuat macam-macam!” ancamnya
Bukannya takut Danish justru tersenyum. “Silahkan teriak, Thania!”
“Yang ada Orang Tua kita pasti berpikir kita melakukan sesuatu. Kita sudah menikah, dan tentunya mereka sudah tahu apa yang kita lakukan.”
Skakmat
Seketika Thania terdiam membisu. Jawaban Danish benar adanya. Sekarang ia benar-benar kalah. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan pasrah dengan apa yang Danish lakukan padanya.
Danish tersenyum smirk. Karena tidak mendapat jawaban dari Thania ia kembali mendekatkan wajahnya. Jarak wajah keduanya semakin dekat. Hidung mereka hampir bersentuhan. Bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
“Bibir ini yang sebelumnya pernah aku rasakan.” ucap Danish dalam hati sembari mengelus bibir Thania dengan Ibu jarinya.
Dan…
Cup
“Uumhh..”
Bibir keduanya menyatu. Kali ini Thania terdiam. Ia tidak melakukan perlawanan pada suaminya. Entahlah, ia tiba-tiba pasrah dengan perbuatan Danish. Mungkin karena mereka sudah halal membuat Thania berpikir dua kali jika menolak sentuhan darinya.
Danish tersenyum karena tidak mendapat perlawanan dari istrinya. Perlahan ia menggerakkan bibirnya menikmati apa yang ia lakukan. “Uumhh..”
“Enghh..”
Danish mendorong tengkuk Thania agar mereka semakin dekat dan ia bisa lebih leluasa melakukannya. Suara decapan lembut mulai memenuhi ruangan itu. Perlahan Thania mengalungkan kedua tangannya pada leher Danish untuk berpegangan.
“Emhh..”
“P-pak..” Thania melenguh pelan
“Uumhh..”
“Oh, s**t! Aku bisa lepas kendali jika terus seperti ini.” ucap Danish dalam hati
“Rasanya begitu nikmat.”
Danish melangkah maju membuat tubuh Thania terdorong ke belakang. Dan…
Dugh
“Sshh..”
Thania meringis pelan saat punggungnya terbentur lemari. Lama-kelamaan pergerakan Danish semakin kasar. Ia merindukan moment seperti ini. Mungkin karena sudah lama ia tidak menyentuh seorang wanita yang membuatnya hilang kendali seperti sekarang ini.
“Enghh..”
“Pak…”
“Owhh..” bahkan Thania tanpa sadar melenguh yang membuat Danish semakin bersemangat melakukannya.
Danish menarik diri setelah merasa cukup. “Huhh..” nafas Thania terengah
Thania mengambil nafas sebanyak mungkin. Danish seolah ingin membunuhnya karena tidak diberi kesempatan untuk bernafas. "Pak Danish mau bunuh Thania, ha?" ucapnya masih dengan nafas terengah
Danish terkekeh geli mendengarnya. "Galak banget sih!"
"Tidak mungkin saya mau membunuh kamu. Bahkan kita belum menikmati malam pertama." lanjutnya tanpa rasa malu
Blush
Kedua pipi Thania bersemu merah mendengar perkataan Danish. Bisa-bisanya laki-laki itu berbicara tanpa rasa malu sedikitpun. Bahkan ia yang hanya mendengar rasanya begitu malu. Thania mengalihkan pandangan, enggan menatap suaminya.
"Pak Danish jangan berbicara sembarangan, ya!"
Next>>