Ceklek “Astagaa.. Zidan kenapa, sayang?” Thania terlihat panik melihat putranya menangis di depan kamarnya. “BUNDA!” pekik Zidan dan langsung memeluk Thania erat. Thania tidak kalah erat membalas pelukan putranya. Dan sekarang Zidan mulai dekat dengannya. Bahkan selalu mencarinya setiap saat. Contohnya seperti sekarang ini. Zidan sudah menganggap Thania seperti Ibu kandungnya sendiri, karena dia menyayanginya dengan tulus. Tidak peduli jika Zidan hanyalah anak sambung. “Sstt.. tidur lagi, yuk!” ujar Thania “Zidan mau tidur sama Bunda.” “Di kamar Papa?” Zidan mengangguk di pelukan Thania. “Yaudah. Kita masuk, yuk!” Thania mengajak Zidan masuk ke dalam kamar. Hari sudah semakin malam dan besok pagi Zidan harus pergi ke sekolah. Ia tidak ingin Zidan mengantuk saat belajar. Saat

