Bab 10. Karmanya

1079 Words
Dulu, hatinya sangat keras dan angkuh. Tetapi, sekarang melihat Kania rapuh sembari memohon padanya, Rehan tidak sanggup. Ia mengulurkan tangannya sedikit mencengkeram lengan Kania untuk kembali berdiri tegak di depannya, memastikan kalau ketakutan wanita itu tidak akan terjadi. Ya, dirinya mengalah karena memang sejak awal dirinya yang bersalah. “Kania,” panggilnya bersuara pelan, ia mengangguk. “Ya, saya tidak akan mengikuti kamu lagi. Tolong, jangan menangis seperti ini lagi ya!” Kania terperanjat mendengar kata-kata itu, Rehan bukanlah pria lemah yang tak mempunyai kuasa sama sekali. Bahkan, kalau Rehan mau lelaki itu bisa membayar orang untuk merebut Arka dan membuang Kania jauh-jauh dalam sekejap mata. Akan tetapi, Kania tak menemukan kepalsuan dari sorot mata lelaki itu untuk dirinya dan Arka. “Terima kasih sudah membiarkan dan melahirkan Arkana ke dunia ini. Saya senang mengetahuinya, ke depannya jaga diri baik-baik!” kata Rehan lantas menurunkan tangannya kemudian melepaskan topi dan berjalan ke mobil tempat Indra menunggunya. Bukan hanya Kania, sebagai sosok yang selalu memastikan keadaan atasannya itu baik-baik saja sampai urusan selesai, Indra sendiri tidak menyangka Rehan bisa berbesar hati melepaskan hal yang sangat dinantikannya. Terlepas dari bagaimana kerasnya Rehan dulu pada Kania, kehadiran Arka dan Kania sekarang membuat hati Rehan melunak akan kesadarannya yang ditelan ego beberapa tahun lalu. Kania menatap punggung tegap itu sampai menghilang dari pandangannya. “Apa aku keterlaluan?” gumamnya. Kania melihat lagi kemudian menggelengkan kepalanya, ia selalu saja tidak tega pada orang lain, sedangkan untuk dirinya sendiri jarang sekali memikirkan ke depannya bagaimana. “Tapi, kak Rehan bukan orang lain. Dia, ayahnya Arka,” gumamnya lagi sambil menyeka air mata. Setelah hari itu, tidak ada drama lagi antara keduanya soal anak yang diam-diam telah lahir ke dunia penuh suka cita. Kania bisa bekerja dan mengambil cuti seperti biasa. Bahkan, saat wanita itu berhadapan dengan Rehan dan Indra tanpa sengaja di lift, mereka hanya menyapa sewajarnya. Rehan tidak mengingkari janjinya, memberi kebebasan pada Kania dan tidak akan mengusik lagi. Mereka menjadi dua orang asing dan selayaknya atasan pada bawahan tanpa beban. Walaupun di belakang Kania, lelaki dengan jabatan direktur itu sedang menahan diri sekuat mungkin untuk tidak melewati batas. “Istri anda kembali hari ini, Pak,” kata Indra mengabarkan berita terbaru. Rehan tampak tidak tertarik mendengar berita itu, matanya terus fokus pada layar monitor yang menyala terang. “Hari ini juga ... nona Kania melakukan kontro rutin bulanan anak anda,” sambung Indra lagi. Dan kabar satu itu cukup membuat fokus Rehan teralihkan. “Siapa yang menyuruhmu mengikuti Kania dan mengabarkannya?” tanya Rehan dengan nada kesal, tetapi ada sinar di matanya seolah itu kabar yang paling ia tunggu. Indra mengangguk kecil seperti hanya menundukkan kepalanya sekilas sebagai permohonan maaf. “Jangan keterlaluan pada Kania, Ndra! Biarkan dia tenang bekerja di sini!” kata Rehan mengingatkan batasan sekretarisnya itu. “Maafkan saya, Pak,” balas Indra mengkoreksi agendanya. Rehan hanya melirik sekilas, sebenarnya ia paham alasan Indra menyebut nama Kania supaya dirinya mau mendengarkan kabar tentang sang istri yang kembali dari liburan panjang hari itu. Karin seolah tidak kenal waktu dan lupa rumah sampai satu bulan lebih. Memang Rehan sempat menginginkan wanita itu pergi sejenak, bukan kelewatan begitu. Ia pun berdiri sembari merapikan jasnya. “Suruh Karin ke kantor, Ndra!” “Anda yakin?” Indra jauh lebih paham tentang kemauan Rehan daripada diri Rehan sendiri. “Kenapa? Kamu ragu dia tidak mau menemui suaminya?” tuduh Rehan yang sebenarnya tak memerlukan jawaban. Sore itu, Rehan pulang lebih awal untuk menemui istrinya yang baru pulang liburan. Selalu, tiada henti Rehan berharap usai mereka berpisah karena pertengkaran besar atau kecil, mereka akan kembali hangat. Namun, apa jadinya kalau hanya Rehan yang menginginkan dan berharap hal itu terjadi, sedangkan Karin tampak tidak peduli? “Kamu mau bilang kalau apa dengan ini aku membalas rasa cinta dan pengorbananmu, Re?” Karin mengibaskan rambutnya, ia memanggil Rehan memang semaunya sendiri, sesuka hatinya. Rehan berjalan mendekat, lalu duduk ke samping istrinya itu. “Kamu cantik,” pujinya ingin mengesampingkan semua. Karin merotasikan bola matanya malas. “Udahlah! Aku muak, Re, capek!” Sebenarnya, Rehan sangat amat menahan diri sekarang. Ia ingin menyudahi pertengkaran dan kembali baik seperti dulu lagi meskipun terasa berat, tetapi ia sadar kehadiran dan fungsinya sebagai kepala keluarga. “Di sana-sini bahas anak dan anak, kamu juga mendiamkan aku sesukamu, membatasi mauku seperti mau mengikat leherku kuat-kuat. Kalian sekeluarga sama aja!” kata Karin kesal, ternyata liburan tak membuang kesalnya. “Kalau kamu cinta sama aku, terima aku apa adanya. Nggak nuntut kayak keluarga besarmu itu! Kamu harus dukung aku banyak hal dan yang aku mau, itu baru cinta, Re! Kamu bilang pengorbanan besar untuk bisa bersama sampai meninggalkan istri pilihan orang tuamu itu, bukan sebatas itu aja! Tapi, biarkan aku terbang sama mimpiku, nggak kamu batasin jadi ibu rumah tangga seperti khayalanmu itu!” ocehnya tak sadar diri, intinya Karin tidak mau dikekang. Tangan Rehan tampak terkepal di belakang bahu kursi itu. “Kamu mau apa? Meniduriku?” Karin meremat rambutnya dengan erangan kesal. “Yaudah, kan itu kebutuhan laki-laki, Re! Tapi, jangan menekan aku soal anak! Kalau memang aku hamil, aku akan hamil. Aku nggak bermasalah dan nggak mau dengan cara aneh-aneh itu!” katanya, padahal sudah jelas dirinya bermasalah. Kalau seperti itu, bagaimana mungkin hasrat Rehan bisa meninggi? Bahkan, dirinya dihancurkan saat baru pertama kali datang. Apa ini karmanya dari keangkuhannya pada Kania dulu? Rehan menggelengkan kepalanya. “Aku senang kamu pulang, istirahatlah!” katanya, itu saja kemudian ke luar. “Bagus!” gumam Karin puas, ia bisa bersantai sekarang. Baginya, wanita memang harus disenangkan, bukan dituntut. Di ruang kerja pribadinya yang ada di rumah, Rehan memilih menghabiskan waktunya di sana. Ia tersenyum getir, satu pun dirinya tidak menyimpan foto Kania saat bersamanya dulu. Semakin getir saat mengingat bagaimana lemahnya Kania saat berhadapan dengannya di masa itu, dengan keras kepala dan angkuhnya yang tak jauh beda dari Karin, Kania masih bisa melebarkan senyuman, bahkan pergi dengan ketakutan yang teramat. Sedangkan, dirinya? Rehan menunduk, menyimpan keningnya menempel pada meja. Ini karmanya. Sekarang, ia sangat merindukan wanita itu, terlebih lagi pada darah dagingnya yang tak pernah ia sentuh dan peluk. Rehan menepuk dadanya yang sesak, ia bisa gila karena merindukan anak itu, tetapi harus menjauhinya demi kebaikan bersama, sebab Karin akan menjadi ancaman bagi Arka. “Apa anda selemah itu sampai tidak bisa melindungi anak anda, Pak? Nona Kania hanya takut Arka terancam.” Rehan terperanjat, kembali mendengar ucapan sekretarisnya sesaat setelah dirinya membiarkan Kania pergi dan mengiyakan pintanya untuk tidak ikut campur lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD